drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 3

Gajah Mati Meninggalkan Gading


Oleh : drh.chaidir, MM

Manusia mati meninggalkan nama, harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading. Tapi enam ekor gajah yang mati di perbatasan Tapanuli Selatan (Sumatera Utara) - Rokan Hulu (Riau) beberapa hari lalu tidak hanya meninggalkan gading, mereka juga meninggalkan malu. Dan rasa malu itu kini menebar kemana-mana.

Malu? Ya, malu. Kita seakan menjadi orang-orang yang tak berbudaya. Kita seakan tak memiliki apresiasi apa-apa tentang perlindungan satwa langka. Kita seakan tak lebih berbudaya ketimbang manusia-manusia pemburu gajah di Afrika tengah sana. Enam ekor gajah ini seakan mati untuk mempertontonkan kepada manusia, bahwa manusia itu biadab bukan beradab, manusia tidak lebih berbudaya daripada gajah, manusia memelihara beribu-ribu Fir'aun dalam dirinya. Andaikan betul gajah itu mati diracun, berarti manusia telah menipu gajah. Kapan gajah menipu manusia?

Kita boleh setuju boleh tidak dengan cacian dunia terhadap kita akibat matinya enam ekor gajah tersebut. Nasi sudah jadi bubur. Gajah mati tak mungkin lagi dihidupkan. Maka konsekuensinya pun harus kita hadapi. Gajah itu tidak pernah melakukan lobi-lobi politik atau membayar upeti kepada manusia untuk mendapatkan perlindungan. Mereka tidak pernah mengadu ke DPR atau Komnas HAM, karena itu memang bukan domain mereka. Tapi lihatlah, dukungan terhadap gajah-gajah ini kuat sekali. Seakan gajah lebih penting untuk dilindungi ketimbang manusia. Ini memang sebuah fenomena. Kelompok pecinta lingkungan berhasil membentuk opini dunia, manusia harus memperhambakan diri terhadap lingkungan. Padahal mestinya, persepsinya adalah, dengan melindungi gajah, kita melindungi peradaban manusia.

Apa yang terjadi terhadap gajah-gajah ini, tidak lagi penting. Seribu pembenaran sudah tak lagi bermakna apa-apa. Peristiwa itu membawa banyak pesan betapa tidak paham atau tidak seriusnya kita menggunakan fungsi-fungsi pengaturan dan pemberdayaan yang melekat di pundak pemerintah. Logika sederhana, manusia" dan satwa sama-sama berhak untuk hidup secara layak di planet ini. Masing-masing sebenarnya memiliki habitat, yang kalau diintervensi akan membawa konsekuensi-konsekuensi. Gajah tentu tidak paham kalau mereka memiliki hak asasi, tapi mereka memiliki naluri. Dijamin tidak ada maksud mereka untuk mengganggu habitat manusia, apalagi sampai menimbulkan malapetaka. Mereka hanya bergerak menurut instink, mencari makanan apa saja yang bisa mereka makan. Gajah tidak paham kalau tanaman sawit muda yang mereka sapu adalah masa depan anak manusia, tempat mimpi-mimpi menyekolah anak tinggi-tinggi. Ketika kekayaan itu disikat oleh gajah tanpa basa-basi dan hilang bak digulung tsunami, tentu saja mereka sakit hati. Maka konflik pun tak dapat dihindari. Dan korban kedua belah pihak berjatuhan. Dalam satu tahun terakhir ini empat orang tewas di pihak manusia, namun dalam satu kali pukul di pihak gajah langsung rontok enam ekor.

Sejak tahun 1970 organisasi internasional telah melarang perdagangan gajah dan onderdilnya. Satwa raksasa ini (yang tersisa setelah Dinosaurus punah 63 juta tahun yang lalu) ditetapkan menjadi satwa langka yang dilindungi. Namun perburuan yang tak terkendali khususnya di Afrika Tengah, di sekitar gurun Sahara, menyebabkan populasinya telah banyak berkurang. Afrika, India dan Sumatera merupakan kawasan hunian gajah. Gajah dikenal dalam dua species: gajah Afrika (Lax-odonta Africana) dan gajah India (Elephas maximd). Gajah yang ada di Sumatera merupakan saudara dari gajah negeri Saruk Khan - gajah India. Gajah Afrika lebih besar daripada gajah India. Kenapa lebih besar? Mungkin dulu ketika keluar dari kapal Nabi Nuh, ketika banjir telah reda, gajah yang bongsor keluar dari kapal dan mengembara ke Selatan, akhirnya menemukan habitatnya di Afrika, dan gajah yang perawakannya lebih kecil terpelanting ke Timur dan menemukan habitatnya di India dan Sumatera. Tidak percaya? Tanyalah mantan penumpang kapal Nabi Nuh lainnya.

Hutan kita memang tidak lagi nyaman bagi gajah, sekurang-kurang hutan yang tersisa tidak lagi fungsional menurut sang gajah. Hutan kita sudah rusak, padahal dari berbagai sumber dapat kita catat bahwa hutan tropis Pulau Sumatera merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati paling potensial di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. Pulau Sumatera sendiri merupakan salah satu kawasan ekosistem hutan tropis yang terpenting di Indonesia karena menjadi salah satu dari pusat biodiversity di Indonesia. Mempunyai luas sekitar 476.000 Km2 dengan panjang kira-kira 1.800 Km dan lebarnya 400 Km, hidup lebih dari 10.000 jenis species tumbuhan tingkat tinggi yang kebanyakan tumbuh di hutan dataran rendah, selain itu juga terdapat 210 jenis mamalia, 580 jenis burung, 191 reptilia, 62 amphibia dan 272 jenis ikan air tawar. Keberadaan kawasan hutan Sumatera sangat strategis, baik dari segi politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun dari aspek pelestarian, juga sumber pendapatan asli daerah. Perubahan fungsi sebagian hutan tropis Sumatera itu yang dikonversi menjadai lahan pertanian dan perkebunan, pada awalnya hanya untuk pemenuhan kebutuhan akan lahan pertanian dan perkebunan secara tradisional seperti sawah, kebun karet, kelapa, padi ladang, dan lainnya. Namun kini perubahan ekosistem itu menjadi tak terkendali karena demikian dahsyatnya eksploitasi yang dilakukan oleh berbagai elemen, terutama akibat penetrasi perkebunan-perkebunan besar swasta semenjak booming kebun kelapa sawit pada era 80-an. Akibatnya konflik pemanfaatan kawasan hutan tak berkesudahan dan tekanan terhadap ekosistem pun makin hari makin tinggi.

Dalam workshop Program Kehutanan Nasional yang dilaksanakan baru-baru ini di Pekanbaru, Riau, misalnya, terungkap banyak hal yang menarik. Kehilangan sumber daya hutan saat ini sangat tinggi, diantaranya dapat ditunjukkan dengan kenyataan bahwa pada tahun 2003 luas tutupan hutan keseluruhan di Sumatera hanya tinggal kira-kira 15 juta hektar. Ancaman terhadap kawasan hutan alam yang tersisa terus meningkat melalui konversi hutan untuk Perkebunan Besar Swasta keiapa sawit dan Hutan" Tanaman Industri.

Gubernur Riau dalam Lokakarya Nasional Pemberantasan Illegal Logging tanggal 26 Januari di Pekanbaru, mengungkapkan, kebutuhan bahan baku industri kehutanan Riau 22.685.250 meter kubik yang meliputi BBS (Bahan Baku Serpih) sebesar 17.920.600 meter kubik dan Pertukangan 4.764.650 meter kubik. Sementara kemampuan pasok bahan baku hutan di Riau 2005 hanya sebesar 14.844.102 meter kubik yang terdiri atas BBS 13.945.661 meter kubik dan Pertukangan 898.441 meter kubik. Dari data tersebut jelas terdapat kesenjangan kebutuhan sebesar 7.841.148 meter kubik. Akan lebih memprihatinkan bila dibandingkan dengan kemampuan produksi lestari hutan alam Riau (jatah tebang) yang ditetapkan Departemen Kehutanan 2005 yang hanya sebesar 250.000 - 300.000 meter kubik, maka kesenjangan supply and demand akan semakin menganga. Pertanyaan sederhananya tentu, darimana industri memenuhi kebutuhan bahan bakunya?

Dari gambaran di atas dapat dipastikan dampaknya akan meningkatkan laju kerusakan hutan dan konflik kepentingan tak terelakkan masyarakat setempat dengan pengusaha, rakyat dan pemerintah, manusia dengan satwa. Masyarakat miskin di sekitar kawasan hutan pun meningkat. Sekurang-kurangnya belum ada data yang menunjukkan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan meningkat kesejahteraannya.

Negeri ini seperti negeri tak bertuan. Sekarang kelihatannya orang boleh membabat hutan, menyerobot lahan dan berbuat apa saja tanpa peduli dengan orang lain. Tidak ada lagi rasa takut merusak hutan atau menebang hutan lindung sekalipun. Hukum yang berlaku adalah hukum rimba. Pemerintah dan aparat keamanan seakan tak bisa berbuat apa-apa. Istilah pagar makan tanaman menjadi sesuatu yang biasa, maling teriak maling bukan aneh. Fungsi pengaturan dan pengawasan pemerintah dianggap kuno dan dianggap tidak sejalan dengan semangat reformasi. lingkat kerusakan tinggi justru terjadi dan menjadi-jadi dalam era otonomi. Ini akibat tidak adanya ketertiban umum dan ketaatan terhadap hukum.

Manusia diberi kemampuan oleh Sang Pencipta untuk menggunakan pikirannya, dan manusia diperintahkan untuk berpikir obyektif, gajah tidak.


(Tabloid MENTARI No.231/Th V/14-23 Maret 2006).


Tulisan ini sudah di baca 132 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/419-Gajah-Mati-Meninggalkan-Gading.html