drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 3

Tragedi Jembatan


Oleh : drh.chaidir, MM

BINGKISAN istimewa untuk Riau di Hari Kebangkitan Nasional 2005: Tragedi Jembatan!! Bersikukuhpun kita mengatakan, bukan. Itu sebuah kenyataan yang tak terelakkan. Pertelagahan kebun Ampaian Rotan, Kabupaten Rokan Hilir, kelihatan menjadi terlalu kecil hulu ledaknya untuk sebuah kebangkitan. Bentrokan masyarakat dengan Pasukan Pengamanan Swakarsa (Pamswakarsa) PT PSA di Tambusai Timur, Kabupaten Rokan Hulu, agaknya tidak cukup memiliki daya kejut kendati telah menelan korban. Tragedi pilkada di Kabupaten Indragiri Hulu pula, ibarat "gulai ikan salai semalam" yang kurang garam. Pesona dinamika improvisasi pelaksanaan otonomi daerah di Kampar telah kehilangan aura. Konflik manusia dengan harimau di kawasan hutan Senepis Buluhala dumai atau konflik manusia dengan gajah di Kepenuhan, Rokan Hulu, menarik, tapi masih kalah dramatis dengan tragedi Suku Sakai yang kehilangan rimba. Semua masalah itu sesungguhnya sudah cukup menggambarkan betapa coreng-morengnya wajah pembangunan kita, tapi tidak cukup membuat kita terlihat bertelanjang seperti ketika kita berdepan dengan tragedi jembatan Siak Sri Indrapura.

Masalah pembangunan jembatan Siak Sri Indrapura, memang terasa menyenak. Bergalau rasanya perasaan menonton tontonan dua saudara adu suara - di Jakarta pula - tapi apa nak dikata. Oleh karena itulah agaknya kenapa tokoh seperti Al Azhar, Ketua Harian Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR), kelihatan gundah gulana. "Riau sudah mempertontonkan kebebalan ke Jakarta", ujarnya murung, sebagaimana dimuat Harian Pagi Riau Tribune (18/5). "Ini tidak masuk akal, di era otonomi daerah malah kita membawa persoalan yang ada ke Jakarta. Ini kan parsial, mereka hanya memandang otonomi sebagai hak dan kewenangan, bukan tanggungjawabnya. Artinya, pemimpin di daerah tidak memiliki rasa tanggungjawab. Jika begini mentalitas pemimpin daerah ono, alamiah Riau akan menjadi perahan pusat. Jakarta jelas akan tertawa melihat orang Riau", kata Al Azhar. Dalam koran tersebut Al Azhar juga menghimbau, "Hai pemimpin daerah Riau yang tengah mempertontonkan kebebalan Riau di Jakarta, baleklah ke Pekanbaru, selesaikanlah pertelagahan ini secara kekeluargaan. Mari kita runding baik-baik bagai keluarga dan saudara-mara. Jangan lagi beri malu daerah ini."

Al Azhar wajar risau. Belum pernah kita menghadapi masalah dilematis, bak makan buah simalakama seperti ini. Dulu saja, ketika kita memperjuangkan hak pengelolaan ladang minyak CPP Block yang cukup pelik dan hirup pikuk, ketika Al Azhar sempat membuat gerakan aruk, ketika masalah itu berpotensi besar menjadi konflik vertikal dan horizontal, masalahnya selesai dengan kepala dingin dan kebesaran jiwa pihak-pihak. Al Azhar ketika itu memilih diam dan "kembali ke gunung", petinggi provinsi dipihak lain memilih peran selaku orangtua yang bijaksana. Maka, asap yang semula sudah mulai terlihat mengepul-ngepul di mata pusat, segera menghilang. Melting pot segera mendingin. Dengan kedewasaan yang ditunjukkan, tidak ada alasan lagi bagi pusat untuk bermain-main di injury time. Permainan harus segera diakhiri. Dan pemenang harus diberi laluan. Namun, sayang disayang, tidak demikian halnya dengan Jembatan Siak Sri Indrapura. Masalahnya berkembang rumit dan liar.

Tanpa maksud mendramatisir permasalahan - karena masalahnya sendiri sudah dramatis - saya tidak bisa membayangkan betapa banyak energi kita yang telah terkuras dan akan terus terperas, yang seharusnya bisa kita manfaatkan untuk kegiatan lain bagi pembangunan daerah. Betapa banyaknya waktu yang terbuang untuk mondar-mandir Pekanbaru -Jakarta, berapa banyak waktu yang tersita untuk sebuah permenungan, untuk rapat-rapat, untuk lobi, atau bahkan untuk mimpi? Berapa banyak dawai-dawai halus yang tak terlihat terputus dalam jaringan syaraf dan dalam jaringan hati? Jembatan Siak Sri Indrapura itu mahal, tapi kita harus membayar dengan lebih mahal lagi, dengan hati dan perasaan.

Kini tim kecil dibentuk untuk sebuah masalah yang menjadi besar, setelah orang-orang besar berbicara tentang masalah yang semula hanya kecil. Cobalah bayangkan. Belum pernah ada sebelumnya empat petinggi negara duduk bersama dengan DPR-Rl hanya membicarakan pembangunan sebuah jembatan. Ada Menteri Dalam Negeri, ada Menteri PU, ada Menteri Perhubungan dan ada Menteri Lingkungan Hidup, di samping itu juga ada Kapolri yang harus selalu mengikuti perkembangan dengan aktif. Sementara kita, di rumah kita sendiri yang jauh dari Jakarta, kita belum pernah membicarakannya duduk bersila satu tikar sambil menikmati sekapur sirih seulas pinang, dengan latar tari zapin di laman tak berpagar.

Saya sungguh tak bisa membayangkan sebuah jembatan laksana golden gate di San Fransisco yang sudah di depan mata, segera terkubur ke wilayah mimpi. Andai ini terjadi, maka ini sebuah tragedi. Bagaimana pula dengan nasib jembatan lainnya di sungai yang sama, jembatan Perawang, yang telah ditetapkan oleh pemerintah dengan ketinggian yang sama dengan jembatan "golden gate" kita itu, yakni juga 23 meter? Atau jembatan di Teluk Mesjid - ke arah kuala Siak Sri Indrapura - juga di sungai yang sama? Jembatan Teluk Mesjid dengan design kerangka besi, konon tidak secara tegas disebutkan ketinggiannya, tetapi dari design kerangka besi dan dana yang tersedia, ketinggiannya juga tidak lebih dari 23 meter. Ape nak jadi?

Sekarang bola panas itu ada pada Tim Kecil yang terdiri dari perwakilan empat Menteri negeri kita (Mendagri, PU, Perhubungan dan Lingkungan Hidup), perwakilan DPR-RI, Gubernur Riau, Walikota Pekanbaru dan Bupati Siak. Rakyat menunggu bagaimana tim ini akan membuat analisis kebijakan sebelum menyodorkan alternatif solusi. Semua tentu menginginkan "win-win solution", bukan dengan solusi Wiwin. Sebab bila dengan solusi Wiwin, maka sudah pasti yang diuntungkan hanya Si Wiwin dengan teman-temannya.

Andai Yung Dolah masih hidup, kita tak perlu susah-susah mengkonfrontir Siak dan Pekanbaru di Jakarta. Yung Dolah agaknya akan memberikan solusi,'aku akan kembalikan semua kerugian Siak dan Pekanbaru dari Dana Revolusi dan kemudian aku akan bangun terowongan di bawah sungai Siak sama seperti ketika aku dulu menjadi mandor pembangunan terowongan kereta api bawah laut antara London-Paris. Lagipun dengan terowongan di bawah sungai Siak, aku setiap hari bisa langsung mengambil ikan lomek dari Sungai Siak yang mengalir di atas terowongan.' Selesai perkara.

Dalam suasana peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun ini, kita sepatutnyalah melakukan introspeksi. Negara kita saat ini memang sedang bangkit-bangkitnya. Kita sudah lama terpuruk, terlecehkan. Kita seakan terkepung dari semua lini oleh gerbang tidak memberikan kesan baik. Coba lihat gerbang politik, gerbang ekonomi, gerbang sosial, gerbang hukum, semua sarat dengan etalase yang memalukan dan memilukan. Semuanya memberikan imej bahwa kita sulit dipercaya, maka wajar kalau krisis kepercayaan ini berkepanjangan.

Sesungguhnyalah, kata orang bijak, dalam menghadapi krisis seperti ini kita harus percaya dan ikhlas, ada pepatah, "A crisis is the mother of invention". Sebuah krisis menyebabkan munculnya kreativitas. DR Widjajono Partowidagdo (1999), dosen Pasca Sarjana ITB Bandung, menulis dalam bukunya Memahami Analisis Kebijakan Kasus Reformasi Indonesia, "Kita tidak boleh lupa bahwa krisislah yang membuat kita sadar bahwa tanpa keadilan, kejujuran, dan keberpihakan pada yang lemah, kita tidak pernah mencapai kemakmuran. Krisislah yang melahirkan reformasi yang membebaskan kita dari rasa takut mengemukakan pendapat, membebaskan kita dari sikap pura-pura."

Krisis jembatan ini mengajari kita untuk membaca diri dan membaca situasi, ternyata banyak yang masih harus kita ketahui dan kita benahi. Di era otonomi kita telah memperoleh banyak hal, tapi kita juga kehilangan terlalu banyak hal yang berharga dari diri kita sendiri, sesuatu yang mustinya tidak terjadi.


(Tabloid MENTARI No. 196/IV/23-29 Mei 2005)


Tulisan ini sudah di baca 162 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/416-Tragedi-Jembatan.html