drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 3

Ada Apa Denganmu


Oleh : drh.chaidir, MM

Theo F Toemion25), Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Republik Indonesia, seorang pejabat negara setingkat Menteri diberitakan media massa nasional memukul seorang anak sekolah berusia 14 tahun dan beberapa bule lainnya Djakarta International School beberapa hari lalu, karena menganggap mereka-mereka tersebut tidak fair dan berlaku rasis terhadap anak kandungnya pada sebuah pertandingan bola basket anak-anak. Besoknya di Semarang, Jawa Tengah, delapan orang oknum guru SMP Negeri 32 melakukan penganiayaan terhadap Ragil, seorang rnurid kelas tiga yang konon menulis kata-kata jorok dan tidak senonoh terhadap salah seorang guru dalam buku saku yang ditemukan di laci mejanya. Dalam waktu yang hampir bersamaan seorang oknum perwira TNI berpangkat kapten menganiaya seorang murid kelas empat SD Teladan di Bangkinang, Kabupaten Kampar, Riau, karena Fernando Saputra, murid kelas empat itu telah menggoda putri Sang Kapten. Fernando pun terpaksa dirawat.

Di Kampus Bulaksumur Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, dosen dan mahasiswa diberitakan melakukan aksi unjuk rasa karena Rektor menaikkan gajinya dan pejabat struktural lainnya di lingkungan UGM sebesar 400 persen. Akibat aksi unjuk rasa tersebut, acara peringatan Hari Pendidikan Nasional di UGM terpaksa dibatalkan oleh rektornya.

Bila kita membalik lembaran catatan kejadian beberapa waktu lalu, kita pasti membaca kejadian tawuran antar kelas (antar angkatan) di sekolah calon pejabat birokrasi STPDN Jati Nangor, Jawa Barat. Tawuran yang melibatkan ratusan siswa itu telah menimbulkan kerusakan pada beberapa gedung dan diskornya beberapa siswa yang dianggap menjadi biang perkelahian. Oknum siswa di sekolah ini juga yang sebelumnya membuat noda hitam dengan melakukan penganiayaan berjamaah terhadap adik kelas nya sehingga menimbulkan jatuhnya korban jiwa dan membuat beberapa orangtua murid histeris menonton anaknya dipukuli dan ditendangi dengan sadis sebagaimana ditayangkan berulang-ulang oleh sebuah stasiun televisi swasta.

Baiklah. Kita bisa mengatakan bahwa kejadian-kejadian itu, barangkali tidaklah mewakili dan memberikan gambaran keadaan yang sebenarnya, kejadian-kejadian itu barangkali hanya kebetulan, kejadian itu tidak ada hubungan satu dengan lainnya. Kejadian itu manusiawi, dengan kata lain, kejadian itu memberikan tanda terhadap ketidaksempurnaan makhluk yang bernama manusia. Kejadian itu karena mereka sedang dibakar emosi. Kejadian itu sebagai bunga hidup dan kehidupan. Pemberitaan kejadian itu oleh media massa terlalu didramatisir untuk kepentingan tiras dan rating siaran. Dan berbagai kata-kata excuse lainnya, seperti, bukankah masih lebih banyak pejabat negara yang berkarakter baik, low-prifle, tampil sederhana dan bersahaja?

Bukankah amat sangat jarang kita dengar, biarpun dari ber-bagai penjuru dunia, guru mengeroyok anak didiknya sendiri? Bukankah tidak semua perwira TNI berpangkat kapten pemberang dan main gampar? Bukankah tidak semua mahasiswa STPDN main pukul dan suka tawuran? Seorang Theo F Toemion atau guru-guru di SMP 32 Semarang, atau sang kapten, atau mahasiswa STPDN, atau Rektor UGM, barangkali punya alasan sendiri, atau setidaknya, pasti bisa memberikan pembenaran terhadap apa yang mereka lakukan. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Tapi, rasa-rasanya, mengumbar nafsu amarah di depan anak-anak, apalagi kemudian yang dikhawatirkan bisa menimbulkan ketakutan bahkan trauma bagi anak-anak, rasanya bukanlah sesuatu yang terpuji. Di tengah-tengah masyarakat kita yang kritis menggugat perilaku dan "sense of crisis" para pejabat, tontonan ala Theo F Toemion dan Rektor UGM itu agaknya bukanlah digolongkan suatu tindakan yang cerdas. Adakah benar kampus hanya mengajarkan orang untuk menjadi pintar tetapi tidak untuk menjadi cerdas? Dalam kasus UGM misalnya, bukan kenaikan gaji 400 persen dan unjuk rasa serta pembatalan peringatan Hari Pendidikan Nasional itu betul yang menjadi masalah, yang lebih mengenaskan adalah, ini bisa memudarkan citra "Kampus Biru" itu sebagai kampus rakyat, kampus desa, kampus yang memiliki imej sederhana dan bersahaja. Ternyata, pejabat-pejabat di UGM juga bisa "matre". Sama halnya dengan catatan publik, bahwa aktivis seperti Mulyana W Kusumah ternyata juga bisa tersandung.

Pertanyaannya, tidakkah kejadian demi kejadian itu memiliki sebuah benang merah? Demikian menjauhkah kearifan dan kecerdasan dari kehidupan kita, sehingga akal budi yang menjadi andalan kita tak lagi mampu mengawal, bahkan menyentuh pun tak? Bolehkah kita mengajukan pertanyaan kontemplatif bahwa pendidikan kita ternyata belum mencerdaskan, tetapi baru memintarkan? Diajarkan ilmu politik, hasilnya ahli ilmu politik yang jago melakukan politiking. Diajarkan ilmu ekonomi, hasilnya ahli ekonomi yang kapitalis dan imperialis. Diajarkan ilmu matema-tika, hasilnya orang yang ahli mengali-ngali, tetapi suka lupa ilmu membagi, sehingga tidak pandai membagi-bagi. Diajarkan ilmu pemerintahan, hasilnya orang yang gemar memerintah seperti di zaman raja-raja dahulu kala, otoriternya nauzubillah. Diajarkan ilmu hukum, hasilnya orang yang ahli menerobos celah hukum sehingga selalu lepas dari jerat hukum. Diajarkan ilmu fisika, hasilnya orang yang pintar bikin robot, lama kelamaan mereka pun dipengaruhi oleh robotnya untuk menjadi manusia robot.

Kejadian-kejadian itu bagaimanapun tetap saja menggoreskan catatan hitam yang bersentuhan dengan akal budi dan ketidak-cerdasan kita merespon lingkungan. Hal-hal yang seharusnya tidak kita lakukan, kita lakukan dengan kesadaran. Hal-hal yang seharusnya tabu, dilanggar dengan kebanggaan. Catatan ketidak-cerdasan rasa kita memberikan apresiasi terhadap lingkungan sosial masyarakat sebenarnya masih bisa panjang berjela-jela kalau mau ditulis satu demi satu apalagi dengan memasukan kisah-kisa duka penggunaan narkoba dan obat-obat terlarang, perbuatan-perbuatan asusila di institusi pendidikan, dan sebagainya.

Ditengah-tengah upaya kita untuk menjadikan institusi pen-didikan sebagai wadah yang membentuk insan-insan yang berdaya, berbudaya dan berkualitas, apa yang kita saksikan adalah sebuah realitas yang tentu menjadi sesuatu yang serius dan layak menjadi bahan renungan. Pendidikan dewasa ini memang baru diukur dengan prestasi kuantitatif akademik, miskin budi pekerti dan kecerdasan rasa. Hasil penelitian Thomas Achenbach bersama Chaterine Hoell (1989) sebagaimana dikutip oleh I Ketut Sumarta dalam buku "Membuka Masa Depan Anak-anak Kita" menarik untuk direnungkan. Lewat penelitian yang dilakukan dalam kurun lima belas tahun antara tahun 1970-an dan 1980-an terhadap anak-anak Amerika usia 7-16 tahun didapat hasil memprihatinkan: bahwa telah terjadi penurunan curam dan terus menerus pada kecerdasan rasa pada anak-anak tersebut. Penurunan itu terjadi pada semua tingkatan ekonomi, baik yang tinggal di pemukiman mewah di pinggiran kota maupun yang bermukim di lorong-lorong kumuh kota. Lewat jaringan yang dimilikinya, penelitian serupa kemudian dilakukan lagi di sejumlah negara lain. Hasilnya pun tidak jauh beda. Dari sini disimpulkan, sebagaimana dikutip I Ketut Sumarta, bahwa penurunan kadar kecerdasan rasa secara terus menerus itu telah terjadi di seluruh dunia justru di tengah meningkatnya kecerdasan (IQ) dan prestasi akademis. Tanda-tanda penurunan itu, antara lain, kian tingginya kasus penyalahgunaan narkotika dan obat-obat terlarang, meningkatnya kasus kriminalitas dan tindak kekerasan, hingga depresi, gampang putus asa, keterkucilan, kehamilan tak diinginkan, dan putus sekolah.

Memang tidak disebutkan apakah penilitian itu juga dilakukan di Indonesia, tapi seandainya tidak pun, kecenderungannya juga sama, bahkan mungkin lebih parah. Bukankah kita lebih membabi-buta dari Amerika dalam mengapresiasi liberalisme? Demokrasi yang kita kembangkan sekarang lebih liberal, pers kita juga lebih bebas dan terbuka. Entah kita belajar dari siapa.

Suatu hal yang tidak terbantahkan adalah, masa depan anak-anak kita adalah masa depan bangsa, masa depan kita semua, sementara dalam realita institusi pendidikan yang mempersiapkannya sangat merisaukan. Wajar kalau ada yang bertanya: ada apa denganmu?


(Tabloid MENTARI No. 194/IV/16-22 Mei 2005)

25) Theo F Toemion, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rl masa Presiden Megawati Soekarnoputra (2002-2004).


Tulisan ini sudah di baca 106 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/415-Ada-Apa-Denganmu.html