drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 3

Burung Hudhud


Oleh : drh.chaidir, MM

Dijamin, tak ada hubungan sama sekali antara burung Hudhud dengan penyakit Flu Burung yang sedang mewabah itu. Burung Hudhud (Latin: upupa), adalah sejenis burung, bergombak, kira-kira sebesar kutilang. Burung ini dalam kisah nabi-nabi dikenal sebagai asisten Nabi Sulaiman, yang bisa disuruh oleh Nabi Sulaiman untuk melakukan berbagai tugas. Suatu kali Hudhud bertugas sebagai pembawa surat dari Nabi Sulaiman kepada Ratu Bulkis dari Negeri Saba yang bersama rakyatnya mula-mula menjadi kaum penyembah matahari. Ratu Bulkis menantang Nabi Sulaiman untuk menunjukkan kebolehan. Surat itu berisi ajakan agar Ratu Bulkis dan pengikutnya menjadi orang yang berserah diri kepada Allah.

Burung Hudhud juga menjadi burung penunjuk jalan Nabi Sulaiman. Dalam suatu perjalanan, begitu dikisahkan, ketika Nabi Sulaiman haus dan membutuhkan air, dipanggilnyalah burung Hudhud untuk memandunya ke arah mata air.

Dalam sebuah fabel sufi menarik, yang ditulis oleh Farid ud-Din Attar, seorang sufi yang dikenal sebagai penyebar wangi dari Persia (hidup pada abad ke-13), dikisahkan, seekor burung bertanya kepada burung Hudhud, "Diriku adalah musuhku sendiri; ada maling dalam diriku, ada rampok dalam diriku. Bagaimana aku dapat menempuh perjalanan ini, yang terhalang oleh selera-selera jasmani dan anjing nafsu yang tak mau tunduk? Bagaimana aku akan dapat menyelamatkan jiwaku? Serigala yang berkeliaran mencari makan itu, aku kenal, tetapi anjing yang satu ini tak kukenal, dan ia begitu menarik dan menggoda. Aku tak tahu dimanakah aku dengan badan jasmani yang tak setia ini. Akan dapatkah aku mengerti ini?"

Hudhud kemudian menjawab: "Dirimu sendiri anjing tersesat, terinjak-injak kaki, jiwa yang kau miliki bermata satu dan juling; hina, kotor dan tidak setia. Jika ada yang tertarik padamu, adalah itu karena silau oleh gemerlap palsu jiwamu. Tidak baik bagi anjing nafsu ini dimanjakan dan di gosok dengan berbagai minyak.Beribu-ribu orang mati dan dikuburkan, tapi anjing nafsu itu tak pernah mati."

Tiba-tiba saja saya teringat fabel itu, fabel yang pernah saya baca beberapa waktu lalu. Dan saya bongkar kembali perpustakaan saya yang tak seberapa, dan saya menemukannya di sebuah sudut. Saya seakan mendapatkan kembali darah saya yang seakan sudah hampir kering "dibunuh" oleh pemberitaan tiada ampun dalam beberapa pekan ini.

Pemberitaan itu - orang-orang menyebutnya sebagai "character assasination" - barangkali memang demikian, memang menyudutkan secara disengaja. Yang benar, bisa terlihat salah dan bisa diposisikan salah, dan yang salah bisa dijastifikasi. Kebenaran seakan hanya dimiliki oleh satu pihak dan tidak dimiliki oleh pihak lain. Dalam kondisi demikian kelihatannya tidak ada yang bisa saya lakukan kecuali berkontemplasi dan bertanya dalam hati jenis penyakit apakah yang sedang melanda masyarakatku ini?

Saya menjadi ragu rnengaku telah memahami seperti apa sesungguhnya pers yang bebas dan professional itu. Seperti pers di Amerikakah, atau seperti pers di Australia, atau seperti pers di Singapura atau Malaysia? Apakah pers yang bebas itu berarti pers yang boleh memuat dan memberitakan apa saja? Apakah itu barangkali yang disebut dengan pers yang bebas nilai atau bebas etika? Atau pers yang bebas mengadu-domba? Atau pers yang menghalalkan segala macam cara untuk kepentingan menaikkan tiras? Tentu banyak sekali argumentasi yang bisa dikemukakan.

Sesungguhnya, tidak ada yang bisa menyangkal betapa be-sarnya peran pers untuk kemanusiaan di zaman modern ini. Perslah yang menyebarkan berita bencana alam tsunami di Aceh dan gempa bumi di Nias, sehingga mengalirlah bantuan dari seluruh penjuru dunia. Pers pula yang memberitakan kasus Watergate yang menyebabkan tumbangnya Presiden Nixon. Dan keterbukaan pers pulalah yang memungkinkan bergeraknya gerbong reformasi di tanah air kita. Pokoknya, pers lebih dulu lahir daripada dunia, kata pakar politik dan pers, Karl Klauss. Pers memang seringkali lebih dulu tahu tentang kasus korupsi sebelum yang lain tahu. Pers misalnya, lebih dulu tahu tentang keputusan menteri, keputusan Mahkamah Agung dan sebagainya. Pers hakikatnya adalah alat kontrol untuk mengawal agar segala sesuatu berjalan dalam koridor yang dibenarkan.

Tapi pers memang tidak selalu bisa hitam-putih. Di tengah kepentingan bisnis yang kian mendesak, pers tidak lagi bisa diharapkan untuk hanya menggunakan satu mata pisau. Mata pisau itu bisa dua, bahkan bisa lebih, bermata-mata. Oleh karena itulah saya tidak terkejut ketika salah satu harian yang terbit di Pekanbaru membuat headlines "Ketua DPRD Tegur Gubri". Yang membuat saya tersentak adalah ketika saya membaca isi berita, ketika ada beberapa kutipan yang mencengangkan. Mencengangkan karena kata-kata saya yang dikutip wartawannya (diberi tanda kutip yang menandakan bahwa ucapan itu adalah ucapan asli nara sumber), sama sekali tidak pernah saya ucapkan. Ini sebuah pembohongan. Klarifikasi tidak ada gunanya, karena posisi sudah tidak berimbang.

Pers di negara-negara yang maju, dimana masyarakatnya telah berilmu pengetahuan memang telah menjauhkan diri dari pemberitaan-pemberitaan yang sifatnya mengadu-domba dan tidak produktif. Pers yang penuh dengan intrik dan adu-domba adalah pers di zaman kolonial, begitu nasihat Presiden SBY suatu kali di Istana Negara.

Bahwa pers seringkali menyudutkan saya, bagi saya itu tidaklah jadi soal. Prinsipnya, kalau takut dilamun ombak janganlah berumah di tepi pantai. Semakin tinggi sebatang pohon semakin kencang pula angin yang menerpa. Oleh karena itu saya dapat maklumi bilamana beberapa media di Pekanbaru memang dengan sengaja menyudutkan, karena di zaman sekarang, siapa yang tidak berbicara kepentingan? Ini hanya masalah kepentingan, entah pribadi, kelompok atau bisnis. Kalau kepentingan sudah bertahta, semua bisa dijastifikasi dan character assassination hanya masalah kecil. Apalah artinya seorang anak manusia, bila dia tidak bermanfaat bagi kemanusiaan. Yang membuat saya tercenung bukan pada bentuk-bentuk character assasination itu, tapi pada sebuah pertanyaan yang mendasar untuk kita semua, dimana gerangan integritas dan kredibilitas berada? Ada sesuatu yang sangat prinsip yang saya rasakan hilang. Dimana etika moral kemanusiaan yang menunjukkan kesetiaan pada kejujuran bersembunyi, ketika kebohongan-kebohongan bersimaharajalela?

Tujuan akhir manusia menurut Aristoteles adalah kebahagiaan. Upaya-upaya kemanusiaan yang kita lakukan adalah menuju kepada tujuan akhir itu, baik dunia maupun akhirat. Kita patut bertanya apakah kita telah mendekati tujuan akhir itu atau malah menjauhinya. Manusia secara fitrah wajib bertindak ke arah yang baik. Bukankah perintah moral yang paling dasar adalah, melakukan yang baik, menghindari yang jahat? (Bonum est faciendum et malum vitandum). Suatu tindakan manusiawi memang didahului oleh pengertian. Sesudah mengetahui apa yang baik, kita wajib menghendaki dan merlakukannya, sebaliknya, apa yang kita ketahui sebagai hal yang buruk, wajib kita hindari.

Kritik atau otokritik yang konstruktif adalah bagian dari proses pendewasaan berdemokrasi yang positif. Kehebatan para pahlawan dahulu adalah ketegaran selain di medan laga juga ketenangan dan kesabaran mereka dalam menerima nasehat walaupun menyakitkan. Seorang ulama besar imam Syahid Hasan Albanna pernah mempopulerkan kaidah agung ini: "Kita bekerjasama dalam hal yang kita sepakati dan saling tolong menolong (menasehati) dalam hal yang kita perselisihkan (perbedaan pandangan)".

Burung Hudhud kini tidak lagi pandai bicara atau setidaknya, tidak ada lagi manusia yang bisa mengerti khotbahnya seperti Nabi Sulaiman. Tapi setidaknya, kebebasan pers tak bertepi yang kita junjung, menentukan kualitas moral kita sebagai manusia yang membedakan kita dengan makhluk lain.

(Tabloid MENTARI N0.190/IV/11-17 April 2005)


Tulisan ini sudah di baca 187 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/414-Burung-Hudhud.html