drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 2

Rindu Ramadhan Beda


Oleh : drh.chaidir, MM

Bulan yang ditunggu dengan penuh harap oleh ummat Islam yang beriman di seluruh dunia, datang lagi. Bulan Ramadhan itu, seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu datang memenuhi janji tak pernah sekali pun mangkir. Kenapa ummat Islam yang beriman menaruh rindu yang demikian besar kepada Ramadhan? Entahlah, tanyalah sendiri dalam hati, apa pasal rindu. Padahal di bulan Ramadhan, bulan kesembilan dalam tahun qamariyah itu, umat Islam diwajibkan berpuasa, tidak boleh makan dan minum, tidak boleh merokok dan tidak boleh melakukan hubungan suami isteri mulai dari saat imsak sampai masuk waktu berbuka atau waktu magrib.

Di siang hari, kaum Muslim yang berpuasa tidak hanya dilarang makan, minum, merokok, dan sebagainya, tapi juga dilarang melakukan pekerjaan-pekerjaan illegal, bahkan juga diharamkan mempergunjingkan orang, apalagi memfitnah. Mulut, mata, telinga, hidung harus dijaga agar tidak liar. Pikiran pun harus dikawal agar tidak menghayal yang bukan-bukan. Kaki dan tangan pula, harus dikendalikan agar tidak berkeliaran ke tempat-tempat yang memabukkan. Terhadap pancaindera mata misalnya, orang bijak berkata, "Jagalah matamu, karena jika mengumbarnya, engkau akan dapatkan dirimu dalam sesuatu yang tidak disukai. Akan tetapi jika menguasainya, engkau dapat menguasai anggota-anggota tubuhmu yang lain." Bahkan Ali radiallahu anhu, pernah berujar tentang mata ini, "Mata adalah jalan syetan. Mata segera mempengaruhi anggota-anggota tubuh yang lain dan paling keras bantingannya. Karena itu, barangsiapa yang menundukkan anggota-anggota tubuhnya pada nafsunya dalam memperoleh kelezatannya, dia telah menyia-nyiakan perbuatan baik."

Memang, di saat menunaikan ibadah puasa, perbuatan-perbuatan halal di luar Ramadhan (berhubungan suami isteri dengan isteri sendiri misalnya), menjadi haram. Apalagi perbuatan-perbuatan yang haram, jelaslah hukumnya: haram bin haram. Tapi kenapa bulan itu dinanti-nanti, bahkan kaum Muslim merigharapkan kalaulah boleh setiap bulan sepanjang tahun, dijadikan bulan Ramadhan saja. Begitu cintanya kaum Muslim kepada Ramadhan.
Adakah kerinduan itu karena bulan Ramadhan penuh dengan berkah, keampunan dan rahmat? Sebagian barangkali ya, sebagian lagi untuk alasan-alasan yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Seperti pungguk bertemu rembulan pun, barangkali tidak. Debar di dada boleh sama, tapi jelas tak sama seperti debar akibat rindu asmara dua insan yang berkasih-kasihan. Rindu Ramadhan barangkali sama dengan rindu Sang Ibu kepada anak tercinta, atau sebaliknya, rindu sang anak kepada ibunda tercinta yang sudah lama tak bersua.

Ramadhan adalah bulan penyucian diri setelah sebelas bulan dikotori oleh hal-hal yang bersifat duniawi, disengaja atau tidak. Di bulan ini pula kaum Muslimin dapat memperbaharui tekad atau komitmen hidup, pulang kepada tujuan asasi alias kembali ke pangkal jalan. Ada saat-saat kita harus bertanya kepada hati nurani, apakah kita masih berjalan pada rel atau telah menyimpang. Kalau rasa-rasanya telah menyimpang, tidak usah beritahu teman, kembali sajalah sendiri, karena rel dan garis-garis yang menyimpang itu adalah sesuatu yang imajiner dalam pikiran kita masing-masing.

Ramadhan juga merupakan bulan penuh simpati terhadap orang miskin dan anak yatim. Anak yatim bahkan mendapat tern-pat yang sangat khusus. Rasul pernah bersabda, "Hindari tujuh hal yang membinasakan." Satu dari yang tujuh tersebut adalah "memakan harta anak yatim." Nabi juga bersabda, "Allah berhak tidak memasukkan mereka yang memakan harta anak yatim ke dalam surga." Dalam harta kita, terdapat hak anak yatim, maka keluarkanlah zakat. Membayar zakat di bulan Ramadhan berlipat ganda pahalanya.

Di antara hikmah berpuasa di bulan Ramadhan adalah turut merasakan kesengsaraan fakir miskin yang kelaparan karena tak punya apa-apa. Itulah hikmah paling jelas dari ibadah puasa. Rasanya semua Himah dan manfaat sangat penting. Puasa melatih melatih jiwa untuk bersabar. Kesabaran adalah akhlak teragung. Sabar adalah sifat terpuji yang mungkin digapai melalui latihan dan pengekangan diri dari kenikmatan duniawi. Dan itu diperoleh melalui ibadah puasa.

Yang tidak kalah pentingnya, Ramadhan juga bulan pada saat mana kita melatih diri belajar disiplin dan kontrol diri. Kita melatih diri berdisiplin tanpa kontrol dari atasan atau pimpinan. Sebab hanya kita sendiri dan Allah yang tahu apakah kita berpuasa dengan sungguh-sungguh atau tidak.

Bukankah orang lain tidak ada yang tahu bila kita mengurung diri kemudian melakukan hal-hal yang dapat membatalkan puasa? Jangankan manusia, bahkan hewan pun sebagaimana ditulis dalam kitab-kitab sejarah juga berpuasa. Banyak hewan yang tidak makan dalam waktu tertentu sepanjang tahun. Diantaranya unta dan beruang. Hewan-hewan tersebut biasanya menyepi dan bersembunyi di gua-gua tanpa makan dan minum selama rentang waktu tertentu. Fenomena ini dalam ilmu pengetahuan dikenal dengan istilah hibernasi. Hewan-hewan tertentu atau burung-burung, jika mulai merasakan gejala sakit, biasanya mereka tidak makan dan minum. Itu dilakukan berdasarkan instink yang dianugerahkan kepadanya.

Manusia bukan hewan, manusia memiliki akal budi, khususnya umat Islam yang beriman sangat memahami betapa agungnya ibadah puasa Ramadhan. Untunglah ada bulan Ramadhan dimana kita bisa berhenti sejenak dari rongrongan duniawi. Umat Islam dunia dewasa ini memang sedang ditimpa gelombang dahsyat, yaitu gelombang budaya jahiliyah yang merusak akhlak dan akidah manusia. Kemajuan teknologi informasi melalui media massa, di samping memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia, membonceng pula hal-hal negatif yang membangkitkan naluri kebinatangan. Melalui pengaruh-pengaruh negatif itu, serigala-serigala yang ada dalam diri manusia seakan terbangunkan. Tapi puasa Ramadhan adalah solusinya.

Hidup manusia tak bisa lepas dari siklus waktu, ada daur kehidupan yang selalu berulang. Ramadhan tahun lalu tak akan pernah datang lagi, tapi Ramadhan tahun berikutnya segera menjelang, detil kejadiannya memang tak pernah ada yang sama, tapi pilihan-pilihan amal yang tersedia selalu banyak tak terkira. Ambillah sebanyak-banyaknya mumpung masih ada peluang. Suatu saat akan datang, tak ada lagi peluang. Salah satu persyaratan untuk merebut peluang itu adalah dengan membangun hubungan silaturrahim antar sesama. Oleh karena itulah demikian banyak pantun Ramadhan saling dikirimkan,

Megah nian masjid Penyengat
Dari Tanjung Pinang jelas kelihatan
Bulan Ramadhan sudah dekat,

Silap dan salah mohon maafkan.
Daun suji daun pandan
Tancap di sebelah pohon durian
Sambutlah suci bulan Ramadhan
Khilaf dan salah mohon maafkan

Anak raja memakai gelang
Gelang dipakai bertahta intan
Bulan Ramadhan datang menjelang
Salah dan silap mohon maafkan.


Ramadhan selalu membuat kita rindu, sebuah rindu yang berbeda. Selamat menunaikan ibadah puasa.


(Tabloid MENTARI No.246/Th V/25 September- 5 Oktober2006)


Tulisan ini sudah di baca 116 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/413-Rindu-Ramadhan-Beda.html