drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 2

Guru Juga Manusia


Oleh : drh.chaidir, MM

"Bolehlah kami bertanya, apakah artinya bertugas mulia ketika kami hanya dipinggirkan tanpa ditanya, tanpa disapa? Kapan sekolah kami lebih baik dari kandang ayam? Kapan pengetahuan kami bukan ilmu kadaluwarsa? Mungkinkah berharap yang terbaik dalam kondisi yang terburuk?" Pembaca masih ingat? Puisi itu adalah penggalan puisi yang ditulis dan dibaca Prof Dr Winarno Surachmad belum lama ini, dalam rangka peringatan Hari Guru Nasional di Solo.

Puisi itu membuat Wapres Jusuf Kalla kala itu berang karena Prof Winarno dianggap merendahkan martabat bangsanya sendiri. Apa betul ada sekolah yang lebih buruk daripada kandang ayam. Betul atau tidak, kita tidak ingin persoalkan, namanya juga puisi, kadang penuh dengan metafora, kadang sarat dengan hiperbola, yang tidak ada tentulah parabola..he..he..he... Kenyataannya Jumat, pada 19 Mei 2005 ini, Menteri Pendidikan Nasional RI bersama Gubernur Riau dan Bupati/Walikota se-Provinsi Riau menandatangani sebuah kesepahaman (Memorandum of understanding - MoU) untuk membangun dan memperbaiki gedung-gedung sekolah dasar dan SMP yang tidak layak menjadi gedung institusi pendidikan.

MoU itu mengatur, gedung-gedung sekolah akan dibangun dan diperbaiki secara gotong royong. Secara garis besar pendanaannya akan dipikul bersama antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota. Dengan kerjasama tersebut diharapkan dalam tempo tiga tahun ke depan tidak ada lagi masalah dengan sarana gedung. Gedung SD seperti kandang ayam di Kabupaten Kampar sebagaimana pernah disiarkan fotonya oleh Harian Riau Pos, tidak akan ada lagi.

Penandatanganan kesepahaman itu adalah sebuah pendeka-tan sistematis untuk mengatasi masalah sarana gedung. Bilamana kemudian diikuti dengan program Gerakan Riau Membaca yang sudah mulai membagi-bagikan buku bacaan bermutu ke sekolah-sekolah, maka program wajib belajar 9 tahun akan segera tuntas, dan wajah pendidikan Riau akan lebih baik.

Tapi bagaimana dengan nasib guru? Beberapa hari lalu saya menerima aspirasi (baca: keluhan) dari beberapa orang guru yang mempertanyakan, tidakkah kami para guru ini diberi tunjangan kemahalan seperti yang dinikmati oleh pegawai Kantor Gubernur? Kami juga mendengar guru-guru di Jakarta diberi tunjangan Rp 2 juta/orang/bulan. Begitulah disampaikan. Setelah berpisah dengan orang-orang sederhana ini, pahlawan tanpa tanda jasa itu, saya termenung, betapa masih banyak masalah yang harus diselesaikan.

Guru di Tanah Air, umumnya termasuk kelompok yang berpenghasilan rendah (low income earner?). Demikianlah adanya, tidak ada maksud untuk mendramatisir keadaan. Gaji guru SD lulusan program D3 yang baru diangkat misalnya, tidak lebih besar dari UMR pekerja pabrik yang hanya berpendidikan SD, SLTP. Atau malah tidak tamat SD. Padahal guru juga manusia, seperti lirik lagu Serious Band, mereka punya rasa punya hati, dan punya anak istri.

Tidak bisa dipungkiri, guru memegang peranan strategis terutama dalam upaya membentuk watak bangsa melalui pengembangan kepribadian. Dari dimensi tersebut peranan guru sulit digantikan oleh yang lain. Dipandang dari dimensi pembelajaran, peranan guru dalam masyarakat Indonesia tetap dominan sekalipun teknologi yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran berkembang amat cepat.

Guru adalah sosok multi tafsir. Secara umum guru adalah sosok yang mengajarkan kita berbagai ilmu pengetahuan. Dengan adanya seorang guru, kita akan mengetahui bahwa 2 tambah 2 sama dengan 4, guru yang mengajar kita membaca dan guru juga yang menyebabkan kita menjadi tahu H2O adalah rumus kimia air yang setiap hari kita minum. Atau, bukankah dari guru pula kita mendapatkan informasi bahwa Timur Lenk pernah menyerang Baghdad. Pujian yang lebih agung mengatakan, seorang guru, sep-erti halnya ayah ibu, adalah sosok yang tak pernah lelah mengasuh dunia, orang yang tak henti melahirkan orang-orang besar seperti Einstein, Churchill, Soekarno, Kennedy dan sebagainya.

Kalau kita mau jujur, setelah orang tua, maka guru adalah sumber segala hal, meskipun memiliki batas-batas tersendiri. Dari gurulah kita mengetahui hal-hal dasar, yang kemudian dasar itu menjadi instrumen pikiran yang sangat penting untuk bermain dalam ruang pengetahuan yang lebih luas.

Pada hemat saya, dari beragam tafsir dan pandangan yang ada, guru pada hakikatnya adalah sebuah jalan untuk menemukan sesuatu yang lebih besar. Atau seperti sebuah ruang dengan batas tertentu yang dari ruangan sempit itu begitu banyak pintu yang terbuka menuju dunia yang lebih beragam. Dalam posisi ini ke-beradaan seorang guru menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Melihat besarnya peran guru, maka menjadi hal yang menyesakkan dada ketika ternyata ada guru yang tidak mampu memberikan pangan, papan dan sandang kepada keluarganya secara layak, atau ketika kita mendengar peristiwa adanya pelecehan terhadap guru. Pandangan yang tak adil kepada guru, pastilah karena disebabkan kelemahan dalam memberikan sebuah tafsir tentang guru, karena guru hanya dipandang sebagai sebuah pekerjaan, atau karena guru hanya dipandang sebagai sosok yang mengajar dan kemudian dibayar.

Ketika itulah, ketika kita tak juga memiliki kesadaran untuk memberikan apresiasi yang selayaknya kepada Guru, penggalan syair Keterasingan Abu Dzar berikut terasa sangat menyentuh.

"....Aku tak ingin harta,jiwaku telah kujaga
Simpanlah kekayaanmu, kepalaku lebih keras darinya.
Semuanya tak kuinginkan
Bebaskan saja langkahku.
Biarkan aku kelilingi bumi bagai matahari
Sirami pohon-pohon taman dengan airmata. ........."

Kita tentu menyambut baik upaya pembangunan dan perbaikan fasilitas belajar mengajar, karena itu merupakan salah satu komponen untuk memperbaiki kualitas pendidikan. Tetapi guru tidak kalah pentingnya. Untuk apa gedung sekolah bagus bila di dalamnya sarat dengan wajah-wajah guru berkabut mendung yang terpaksa berminyak air mata. Dasar pendidikan adalah kasih sayang, cinta kasih yang tulus. Dan kita tidak ingin sesuatu yang menjadi dasar itu terjejas akibat lingkungan yang kurang bersahabat dan tidak pernah berempati kepada guru, Kalau guru sudah kehilangan kasih sayang kepada muridnya, maka saat itulah pendidikan kehilangan jati dirinya.

Sudah saatnya kita memposisikan gedung-gedung sekolah lebih mentereng dari pada gedung-gedung perkantoran dan sudah saatnya juga kita membuat guru-guru tersenyum dengan penuh kasih sayang. Guru juga manusia, punya rasa punya hati.

(Tabloid MENTARI No. 236/ Th V/ 22-31 Mei 2006)


Tulisan ini sudah di baca 156 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/412-Guru-Juga-Manusia.html