drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 2

Bukan Harimau jadi-jadian


Oleh : drh.chaidir, MM

Di sebuah dusun kecil di desa Kelayang, nun jauh di pedalaman Indragiri, Riau, seekor harimau besar mengomandoi ratusan ekor harimau lainnya, menyerang dan membunuh Jack beserta komplotannya. Harimau itu melindungi Rochim, seorang guru baik hati, yang dizalimi oleh Jack, preman yang ditakuti, sekaligus mafia illegal logging di desa itu. Pada kejadian lain, harimau juga membunuh seorang pria dan wanita yang berbuat tidak senonoh di dusun itu; wanita itu ternyata wanita tunasusila yang menyusup sebagai pekerja di kilang kayu liar milik Jack. Di hari lain, harimau besar itu mengomandoi ratusan harimau lainnya mengusir gajah yang mengganggu dusun tenteram itu.

Harimau besar tersebut adalah harimau jadi-jadian, dalam wujud manusia ia bernama Juned seorang pemuka masyarakat yang disegani di dusun itu, bahkan memiliki anak gadis cantik, Bunga namanya. Hanya kalangan yang sangat terbatas yang tahu rahasia itu, dan Rochim adalah satu diantaranya. Rochim, sang guru pendatang, jatuh cinta pada Bunga, dan Rachim tidak bertepuk sebelah tangan, mereka akhirnya menikah. Akankah Rochim dan Bunga memiliki keturunan harimau jadi-jadian? Hanya Farouk Alwi, pengarang novel Bunga Cinta (2005) itu yang tahu, sebab kisah happy-ending itu berakhir sampai di situ dengan seribu tanda tanya.

Di Dumai, di pesisir timur Sumatera, berjarak ratusan kilo-meter dari Desa Kelayang, Indragiri Hulu, Riau, dalam beberapa bulan belakangan ini, beberapa ekor harimau mengamuk menyerang penduduk dan ternak. Dari catatan pemerintah kota, tidak kurang dari delapan belas orang penduduk yang tinggal di tepi hutan telah diterkam, lima orang di antaranya diberitakan tewas, tidak terhitung ternak sapi, kambing dan ayam. Dari pihak harimau, sembilan ekor tertangkap dan bagi yang masih hidup dikenakan penjara kurungan di kebun binatang.

Adakah hubungan antara harimau jadi-jadian di Desa Kelay-ang dengan harimau di hutan Senepis Buluhala di Dumai? Tidak. Sama sekali tidak ada hubungan antara harimau di Dumai dengan harimau jadi-jadian versi novelis Farouk Alwi itu. Kendati mitos harimau jadi-jadian di dusun-dusun terpencil masih belum hilang, tetapi tidak ada yang meragukan, harimau di Dumai itu asli, bukan harimau jadi-jadian. Buktinya? Sembilan ekor harimau yang sudah ditangkap, hidup atau mati, tidak ada yang berubah menjadi manusia. Nah, pertanyaannya, ada apa denganmu harimau? Mengapa tiba-tiba saja mengamuk? Sang harimau pasti mengangguk setuju bila kita manusia membantu memberi jawaban, mereka terganggu dan mereka kelaparan.

Seminar dan lokakarya yang diselenggarakan di Dumai pada 10 Mei 2005, tentu tidak dimaksudkan untuk meminta harimau menjawab pertanyaan tersebut atau mempertanggung jawabkan serangannya terhadap penduduk. Pun tidak meminta pertanggung jawaban manusia yang telah membabat hutan sesuka hatinya sehingga merusak habitat harimau. Seminar dan lokakarya ini bermaksud menghimpun pemikiran cerdas untuk mencari upaya penyelamatan harimau-harimau tersebut. Dengan menyelamatkan harimau ini, sekaligus kepentingan yang lebih luas terselamatkan, yakni kepentingan manusia, khususnya yang tinggal di sekitar kawasan hutan tersebut.

Harimau yang berasal dari kawasan hutan Senepis Buluhala memang telah mengganggu dan menimbulkan ketakutan bagi penduduk setempat, sehingga masyarakat takut melakukan kegiatan sehari-hari, seperti berkebun, menyadap karet, mengambil kayu api dan sebagainya. Kawasan hutan Sepenis Buluhala seluas sekitar 60.000 Ha termasuk dalam wilayah Kota Dumai. Kota Du-mai memang unik. Dengan luas wilayah 2.308,60 km2 (230.860 Ha), Kota Dumai boleh disebut sebagai kota terluas di dunia. Bandingkan misalnya dengan Pekanbaru, Jakarta, atau negara pulau Singapura yang rata-rata luasnya hanya 650 km2 (65.000 Ha). Dari keseluruhan wilayah Kota Dumai tersebut 56,9% (131.372 Ha; merupakan hutan produksi tetap yang hampir seiuruhnya dikuasai oleh beberapa perusahaan pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Disinilah letak masalahnya. Areal tersebut sesungguhnya merupakan hutan tropis dataran rendah, hutan rawa, hutan gambut dan hutan mangrove, dan merupakan habitat yang baik bagi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae}. Menurut catatan resmi pemerintah, dalam wilayah hutan Senepis Buluhala tersebut masih hidup sekitar 30 - 40 ekor Harimau Sumatera yang merupakan satwa dilindungi undang-undang yang sedang menuju kepunahan. Tapi setidaknya mereka dianggap masih beruntung dibandingkan saudara mereka Harimau Bali (Panthera tigris balled) yang dianggap telah punah sejak tahun 1940-an dan Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) yang semenjak tahun 1980-an tak terdengar lagi rimbanya.

Kenapa harimau itu keluar dari habitatnya dan konflik dengan manusia? Jawabnya tentu sederhana. Pertama, karena habitat mereka terganggu akibat penebangan hutan secara membabi buta; kedua, karena mereka kelaparan. Dalam kawasan tersebut agaknya tidak lagi cukup tersedia mangsanya seperti babi hutan, rusa, kijang, kancil, dan sebagainya karena mereka kalah bersaing dengan manusia.

Menyadari kondisi hutan Senepis Buluhala dan satwa Hari-mau Sumatera ini, adalah menjadi wajar bila Pemerintah Kota Dumai ingin menjadikan kawasan ini sebagai Taman Nasional dan Kawasan Konservasi Harimau Sumatera. Niat ini pun didukung penuh oleh DPRD Kota Dumai dan seluruh stakeholder (termasuk seluruh jajaran instansi kehutanan di daerah). Bahkan konon beberapa lembaga internasional akan segera membantu tenaga ahli dan pendanaan bilamana status kawasan tersebut definitif sebagai Kawasan Konservasi Harimau Sumatera.

Dalam jangka panjang bila Taman Nasional dan Kawasan Konservasi Harimau Sumatera ini terwujud tentu akan menjadi daya pikat yang luar biasa bagi Kota Dumai sebagai Kota Bandar Raya di pesisir rimur. Apalagi posisinya sangat strategis, berbatasan langsung dengan Malaysia dan Singapura, serta terletak pada sisi Selat Melaka yang merupakan alur pelayaran teramai di duniar Alangkah indahnya membayangkan Kota Dumai sebagai sebuah metropolitan di masa depan yang memiliki kawasan hutan Taman Nasional. Maka dijamin, Dumai akan menjadi satu-satunya kota di dunia yang memiliki hutan Taman Nasional yang di dalamnya hidup satwa secara alamiah yang di tempat lain sudah punah.

Permasalahan yang serius sampai saat ini adalah masih maraknya pencurian kayu dan terdapatnya HPH pada areal tersebut, diantaranya adalah PT Suntara Gajapati seluas 34.000 Ha. Namun dengan pendekatan substitusi dan asas manfaat serta pertimbangan-pertimbangan rasionalitas, rasanya Menteri Kehutanan MS Ka'ban akan mempertimbangkan masalah ini dengan sungguh-sungguh.

Membiarkan hutan Senepis Buluhala dibabat dengan payung HPH atau HPHTI hanya akan membuat Kota Dumai porak-poranda. Dan masyarakat akan merasakan dampak negatifnya di kemudian hari berupa bencana kebakaran, asap, banjir, harimau mengamuk dan sebagainya. Kita tidak ingin hanya karena ulah persekongkolan jahat, sebagaimana disinyalir oleh Hasbi, seorang aktivis LSM yang bersuara lantang dalam seminar dan lokakarya tersebut, anak-cucu kita akan menderita tujuh keturunan.

Kita memang tidak ingin mengorbankan kemanusiaan untuk membela kepentingan kawasan hutan, tetapi kita juga tidak ingin untuk kemanusiaan semusim mengorbankan kawasan hutan. Anak cucu kita kelak masih akan hidup di kawasan yang sama, sementara pengusaha hutan pemegang HPH akan pergi entah kemana, barangkali ke China atau mungkin juga ke California.

Andaikan Pak Juned dalam novel Farouk Alwi itu nyata adanya, kita akan minta bantuannya untuk mengusir pembabat hutan Senepis Buluhala itu, sehingga manusia dan satwa di sana bisa hidup berdampingan tenteram dalam suatu ekosistim, tak perlu terjerumus dalam konflik yang saling memusnahkan.


(Tabloid MENTARI No.195/Th IV/16 - 22 Mei 2005)


Tulisan ini sudah di baca 171 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/411-Bukan-Harimau-jadi-jadian.html