drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 2

Kebakaran jenggot


Oleh : drh.chaidir, MM

Riau tak lagi kebakaran hutan, lahan dan Jenggot. Hujan lebat turun membasahi bumi, dan api yang selama beberapa hari berkobar membakar hutan dan lahan - dan memproduksi kabut asap tak terhingga - untuk sementara terpaksa menyerah. Untunglah ada hujan. Bila tidak ada hujan situasi bisa runyam. Betapa tidak. Banyak yang sesak nafas karena terhirup asap, tetapi juga tidak sedikit yang sesak nafas karena asap ternyata tidak hanya bikin masalah pada saluran pernafasan, asap juga bisa bikin muka terlihat samar-samar kemudian menjadi "kehilangan muka." Siapa yang mau kehilangan muka atau bahkan kehilangan jabatan akibat kabut asap? Hutan yang terbakar koq jabatan yang copot. Tapi antara keduanya bisa ada hubungan atau bisa dihubung-hubungkan. Jadi wajarlah apabila banyak pihak yang jenggotnya berasap-asap akibat kebakaran.

Wabah asap (yang) muncul, ternyata lebih hebat dari tahun-tahun sebelumnya. Kendati belum separah tahun 1997 ketika bandara Sultan Syarif Qasyim II Pekanbaru ditutup beberapa hari, namun asap musim ini sempat memaksa sekolah diliburkan selama beberapa hari karena pencemaran udara sudah sampai pada tingkat sangat membahayakan. Indeks pencemaran udara sudah mencapai angka 600 lebih, sementara batas ambang seharusnya di bawah angka 200. Gangguan kesehatan kelihatannya memang cukup serius. Angka resmi yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Riau sampai saat-saat puncak sebelum hujan turun, mencapai 6.625 jiwa warga mengalami sakit gangguan pernafasan dan memerlukan pengobatan. Itu belum termasuk yang mengalami gangguan mata, gatal-gatal dan memerah. Jadwal penerbangan pun terganggu, sebab jarak pandang selama beberapa hari terutama di kala pagi hanya sekitar 100 - 300 meter. Dengan jarak pandang demikian, tidak ada pilot pesawat yang berani uji nyali mendarat dengan hanya mengandalkan komputer.

Masyarakat wajar geram menuntut hak untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, aman dan sehat tanpa asap. Bayangkanlah, hanya akibat ulah segelintir orang yang tidak peduli terhadap peraturan dan lingkungannya, orang lain harus menderita. Pemanfaatan potensi sumberdaya berupa hutan dan lahan, walau pun hanya diraup keuntungannya oleh cukong dan pihak-pihak tertentu yang kecipratan angpau dari cukong, sekurang-kurangnya janganlah menimbulkan bencana bagi masyarakat. Namun realitasnya memang demikian, sudahlah masyarakat dipaksa jadi penonton yang santun di rumahnya sendiri, mereka pun dipaksa pula diasapi seperti ikan selais salai (smoke fish) dari Riau yang terkenal itu. Ikan selais salai harganya masih mahal, tapi orang yang disalai, walaupun harganya diobral, pasti tidak akan ada yang mau beli?

Masalah kita agaknya, karena kita masih memiliki hutan dan lahan. Coba kalau hutan dan lahannya sudah habis, tentu tidak akan ada lagi kebakaran hutan dan lahan, maka PUSDALKARHUTLA23 tidak perlu ada. Pusdalkarhutla -menyebutkannya pun saya selalu salah- adalah sebuah lembaga yang bertugas mengendalikan dan atau mengkoordinasikan penanggulangan kebakaran agar hanya terjadi di tempat-tempat tertentu saja atau untuk memadamkan kebakaran, atau kedua-duanya. Apapun tugasnya tentulah kecuali mendatangkan pawang ahli hujan. Yang ini saya kira tidak termasuk tugas pokok Pusdalkarhutla. Walaupun konon -sekali lagi konon- sebelum program hujan buatan dibuat oleh Pemda, pawang hujan telah lebih dulu bertindak.

Menyikapi bencana asap yang datang setiap tahun, seorang kawan memberikan komentar sarkastis, tunggu hutan Riau habis seperti di Jawa, maka asap tidak akan ada lagi. Koq repot amat, saya jamin, katanya mantap. Sindiran itu agaknya benarlah adanya. Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta misalnya, tak pernah ada urusan dengan asap. Bahkan, demikian tingginya apresiasi masyarakat ibukota terhadap bahaya asap, DPRDnya pun berhasil menggolkan sebuah peraturan daerah yang sangat terpuji, yakni larangan merokok di tempat-tempat umum. Perda itu mengingatkan saya pada Singapura dan Kuala Lumpur yang sudah sejak lama membuat ketentuan seperti itu. Kecuali penghijauan buatan, Jakarta, Singapura dan Kuala Lumpur memang tidak memiliki belantara hutan kecuali belantara gedung-gedung bertingkat.

Sumberdaya alam hutan dan lahan sebenarnya merupakan berkah, tapi dalam banyak kasus telah berubah menjadi musibah, dan bahkan menjadi pangkal fitnah. Pemberian konsesi Hak Pengusahaan Hutan (HPH) misalnya, betapa pun telah sesuai dengan peraturan dan mekanisme yang berlaku, tetap dianggap sarat dengan korupsi, kolusi dan konspirasi. Demikian pula pemberian izin Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan, selalu mendapatkan tudingan yang sama.

Illegal logging dianggap hanya permainan, sebab kalau sungguh-sungguh mau diberantas kenapa tidak pernah tuntas? Ribuan kali seminar dilakukan terhadap masalah kehutanan, perkebunan dan illegal logging ini, kalau prosidingnyo. ditumpuk, mungkin sudah set-inggi langit. Tapi kenapa tak juga kunjung selesai? Akhirnya muncul fitnah: paling juga maling teriak maling. Masalah kabut asap juga idem dito. Di tengah mulut yang sudah mulai megap-megap karena asap, legislatif menyalahkan eksekutif tidak tanggap, eksekutif me-nyalahkan pengusaha karena tidak patuh, pengusaha menyalahkan rakyat yang membuat ladang berpindah, dan rakyat menyalahkan wakilnya di legislatif (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah - DPRD) karena tidak vokal, alias "memble."24) Lembaga yudikatif pula, adakalanya tak berkutik. Semua jadinya saling tuding dan semua kebakaran jenggot, bedanya hanya pada stadiumnya saja, ada kebakaran jenggot stadium awal ada stadium lanjut.

Gubernur Riau HM Rusli Zainal suatu kali bereaksi keras, "Apapun bentuk kesengajaan terhadap pembakaran lahan dan hutan tidak ada toleransi lagi", katanya kepada pers setelah memimpin rapat Muspida. Gubernur pun membuka sayembara, akan memberikan hadiah kepada warga yang melaporkan pembakar hutan dan lahan. Perusahaan yang dengan sengaja terbukti melakukan pembakaran, izinnya terancam dicabut. Pemerintah" wajar bersikap keras karena dari tahun ke tahun bencana asap ini selalu berulang. Kabut asap tidak hanya mengganggu kesehatan, proses belajar-mengajar, jadwal penerbangan dan pelayaran, tapi juga menyangkut masalah yang lebih serius, terancam dicekalnya ekspor produk-produk industri perkebunan dan kehutanan kita.

Sebab asap tanpa basa-basi juga menyeberang melintasi perbatasan sampai ke negeri tetangga Singapura dan Malaysia. Negeri-negeri tetangga tersebut sangat sensitif terhadap gangguan pencemaran udara dan gangguan keselamatan penerbangan. Reaksinya seringkali membuat kita kehilangan muka.

Kabut asap umumnya berawal dari kegiatan pembukaan lahan (land clearing]. Land clearing dengan pembakaran sebenarnya dilarang. Ada ketentuan yang mengatur tentang zero-burning. Namun praktiknya di lapangan, pembakaran adalah pilihan terbaik karena biayanya jauh lebih murah bila dibandingkan pembukaan lahan dengan menggunakan alat-alat berat. Di sinilah permainan bermula.

Kali ini muka kita diselamatkan oleh hujan. Namun tanpa ada langkah-langkah sistematis bencana yang sama akan kembali terulang dan kita semua akan kembali kebakaran jenggot. Law enforcement adalah kuncinya. Akan tetapi penegakan hukum yang berkeadilan tidak akan pernah sungguh-sungguh dapat dilaksanakan bilamana telah terjadi perselingkuhan hukum yang membuat lidah tergigit. Tapi kalau kita tidak berani mulai, kapan lagi? Kita tentu tidak perlu menunggu hutan kita habis untuk bebas dari asap.

(Tabloid Mentari No 185/Th IV/7 - 18 Maret 2005)

23) PUSDALKARHUTLA, Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan.
24) memble, Prokem, kira-kira maksudnya bodoh, dungu, lamban.


Tulisan ini sudah di baca 144 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/410-Kebakaran-jenggot.html