drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 2

Dunia Belum Kiamat


Oleh : drh.chaidir, MM

Ketika seorang siswa menapak pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi, dia bukan lagi seorang remaja. Di sana menunggu beban tugas dan tanggung jawab, sebagai seorang mahasiswa ia harus memikirkan masa depannya sambil menimba ilmu pengetahuan untuk bekal hidup sebanyak-banyaknya.

Di sinilah krusialnya pendidikan di SMA. Tentu ada beberapa skenario pasca SMA. Seorang pelajar mungkin mulus masuk Perguruan Tinggi, dan memiliki kemampuan dasar potensi akademis memadai untuk menjadi seorang mahasiswa. Kemampuan keuangan keluarga pun mendukung. Skenario lain, mungkin tidak ada masalah dengan potensi akademis, tetapi tidak didukung oleh kemampuan finansial untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi. Kelompok lain adalah kelompok yang kurang beruntung: tidak lulus Ujian Nasional.

Memang belum tentu seorang siswa tidak lulus UN disebab karena memiliki kemampuan rendah atau tidak memiliki potensi akademis. Sistem Ujian Nasional kita, selalu saja menjadi perdebatan, karena tidak menjamin sebagai ukuran kemampuan atau kepintaran seorang anak didik. Padahal ujian harusnya menjadi ukuran apakah seorang anak didik memenuhi syarat minimal untuk disebut telah menyelesaikan pendidikan di suatu jenjang pendidikan. Sebagai contoh, seorang siswa yang nilainya jatuh pada mata pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia misalnya, sudah bisa memvonis siswa tersebut tidak lulus UN. Padahal boleh jadi sang siswa memiliki keunggulan di bidang sains, suatu bidang studi yang sangat penting untuk olah kemampuan siswa pada jenjang pendidikan yang lebih berat di Perguruan Tinggi. Ke depan kita harus menyusun suatu sistem ujian yang sungguh-sungguh bisa menjadi alat ukur kemampuan seorang siswa, sehingga tidak membunuh masa depan anak didik.

Tapi baiklah, andai asumsi siswa yang tidak lulus UN tidak memiliki potensi akademis itu benar, berarti tertutup peluang mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Perguruan tinggi. Bila jumlah tersebut ditambah dengan siswa yang lulus UN tapi tidak memiliki kemampuan finansial untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi, maka jumlahnya menjadi sangat signifikan. Dan ini tentu sangat memprihatinkan apalagi di tengah tumbuhnya kesadaran bahwa masa depan kita penuh dengan persaingan. Sumber daya semakin terbatas, sementara di pihak lain manusia yang memperebutkannya semakin banyak.

Oleh karena itulah di Korea Selatan, pendidikan di tingkat SMA, dilakukan dengan sangat keras. Siswa-siswa SMA seakan kekurangan waktu untuk belajar, mereka kesetanan mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir yang sangat menentukan. Sistem pendidikan formal di Korea Selatan sama dengan kita, SD enam tahun, SMP tiga tahun dan SMA tiga tahun. Semenjak tahun 1969. Korsel telah melaksanakan wajib belajar 9 tahun. Ujian masuk SMP mereka hapus. Dengan kebijaksanaan tersebut 99,2% lulusan SD dapat melanjutkan pendidikan ke SMP. Kemudian semenjak tahun 1973 ujian masuk SMA juga dihapus, tetapi ujian masuk Perguruan Tinggi tetap dilakukan. Rata-rata hanya 55% yang lulus dari SMA bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Tapi untuk masuk kelompok 55% itu tidak mudah, nilainya harus sangat baik. Bangku SMA memang tahap yang paling menentukan masa depan seorang remaja di Korsel. Dia akan menjadi orang-orang yang sukses atau tidak, banyak ditentukan pada tahap ini. Oleh karena itu pendidikan pada tingkat SMA sangat spartan. Jam pelajaran resmi memang hanya dari pukul 09.00 s/d 16.00, tetapi kemudian tanpa pulang ke rumah, mereka melanjutkan lagi dengan jam ekstra sampai pukul 22.00. Dengan pendidikan yang spartan seperti itu, dampak negatifnya ada juga, siswa yang gagal merasa malu sehingga ada yang bunuh diri, bahkan ada juga kasus, orang tuanya ikut bunuh diri.

Belum tentu juga seorang lulusan Perguruan Tinggi memiliki potensi akademis yang memadai. Bilamana hal itu terjadi, apalagi diikuti dengan kecerdasan emosional pas-pasan, keberadaannya bisa menjadi kontra produktif bagi peradaban. Seorang sarjana yang tidak memiliki kecerdasan emosional boleh jadi akan terperangkap dalam wilayah sempit bidang pengetahuannya dan tidak memiliki kepekaan lingkungan kehidupan dimana dia berada.

Inti dari bangku sekolah adalah belajar. Sekolah hanya medium. Dengan kata lain, sebenarnya, dunia belum kiamat bagi orang yang tidak bisa masuk sekolah atau tidak bisa melanjutkan pendidikannya ke Perguruan Tinggi. Ingat tokoh otodidak kita Allahyarham Adam Malik, Wakil Presiden Republik Indonesia di awal era Presiden Soeharto? Penemu besar Thomas Alva Edison, tak mengenyam pendidikan tinggi, bahkan ia pernah dikeluarkan dari sekolah karena dianggap bodoh, tapi dia tekun belajar dan berhasil menemukan bola lampu listrik, dan lebih dari seribu penemuan lainnya. Thomas Alva Edison, "Si Orang Bodoh" itu disebut menjadi tokoh penemu ilmu pengetahuan terbesar sepanjang abad. Pujangga Rabindranath Tagore bahkan lebih keras. la justru menganggap sekolah adalah sumber kekakuan pikiran, sehingga ia pernah melontarkan ide yang disebut deschooling, yaitu menganjurkan orang meninggalkan bangku sekolah dan mencari ilmu pengetahuan melalui pengalaman dan alam terbentang. Memang ada beberapa tokoh besar dunia yang tidak memiliki fasilitas sekolah tapi karena memahami proses belajar secara baik, mereka menjadi tokoh dunia.

Dalam konteks ini yang terpenting adalah bagaimana siswa secara terus menerus belajar memahami sesuatu dengan baik. Dengan kata lain harus ada keseimbangan antara fasilitas dan motivasi. Tapi bukan berarti dengan demikian kita tidak memerlukan institusi sekolah yang bagus. Adam Malik, Thomas Alva Edison, Rabindranath Tagore, Socrates, hanya sebagian kecil dari unikum dunia. Negara-negara maju justru memberikan subsidi yang besar bagi membantu pendidikan anak negerinya. Amerika Serikat memberikan subsidi Rp 250 juta per mahasiswa pertahun, sedangkan Malaysia memberi subsidi Rp 75 juta per mahasiswa per tahun. Kita? Indonesia baru mampu Rp5 juta, jadilah.

Kenapa sekolah yang bagus menjadi penting? Sebab menurut penjelasan para ahli, kemiskinan yang melanda 1,4 milyar penduduk dunia memiliki korelasi yang signifikan terhadap berbagai bentuk keterbelakangan dan kebodohan yang diakibatkan rendahnya pendidikan dasar penduduk.

Kita bersyukur jumlah siswa yang lulus Ujian Nasional tahun 2006 meningkat drastis dibandingkan dengan kelulusan tahun 2005, bahkan secara nasional Riau dengan persentase kelulusan SMA 96,92 menempati peringkat kedua setelah Jawa Barat untuk tingkat SLTA. Padahal nilai ambang kelulusan telah dinaikkan dari 4,25 menjadi 4,5. Kita bangga dengan keberhasilan itu, tapi bangga saja tidak cukup. Kita perlu mengkaji relevansi keberhasilan itu dengan setting tantangan kehidupan global masa kini dan masa yang akan datang. Pendidikan tanpa memikirkan korelasi dengan lapangan pekerjaan adalah nonsense. Namun bagaimanapun tingkat kelulusan yang tinggi tahun ini memberikan semangat kepada kita untuk secara terus menerus melakukan perbaikan-perbaikan sistematis. Tingkat kelulusan yang tinggi seharusnya menggambarkan potensi akademis yang tinggi dari anak-anak didik kita, dan bila ini bukan suatu kebetulan, maka di tahun-tahun mendatang kita akan dapat mempertahankan tingkat kelulusan tersebut.

Bagaimana dengan nasib siswa-siswa yang tidak lulus? Mereka adalah bagian dari masalah kita, dan kita adalah bagian dari masalah mereka. Sebuah pendekatan empati amat diperlukan. Jangan pernah melupakan mereka.

Kita boleh meniru Korea dalam hal etos, tetapi tidaklah perlu sampai melecehkan kehidupan yang diberikan dengan cara bunuh diri. Dunia kan belum kiamat.


(Tabloid MENTARI No.240/Th V/10 -20 Juli 2006)


Tulisan ini sudah di baca 168 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/409-Dunia-Belum-Kiamat.html