drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 2

Menahan Diri


Oleh : drh.chaidir, MM

Puasa Ramadhan telah berlalu. Kaum muslim kembali menghitung hari menjelang Ramadhan berikutnya, entah akan bersua entah tidak. Di sudut dunia manapun berada, kaum muslimin pasti merindukan datangnya Ramadhan seiring perputaran waktu. Kerinduan iru sendiri adalah sebuah keindahan.

Ramadhan berlalu, Syawal pun datang - sebuah bulan kemenangan. Disebut bulan kemenangan karena umat Islam yang telah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dengan baik dianggap telah memenangkan sebuah perang besar. Selama sebulan penuh umat Islam berhasil menahan diri dari menuruti hawa nafsunya. Dalam konsep Islam perang melawan hawa nafsu dianggap perang besar bahkan disebut oleh Nabi Muhammad SAW sebagai lebih besar dari perang Badar yang memakan banyak korban termasuk pasukan Nabi Muhammad sendiri.

Perang melawan hawa nafsu adalah perang melawan diri sendiri, perang melawan ribuan serigala yang bersemayam dalam hati. Serigala-serigala itu bisa ditundukkan tetapi tidak pernah bisa dibunuh selagi makhluk si pemilik hati itu bernama manusia. Manusia memang sudah diskenario memiliki sifat baik dan buruk dalam dirinya. Beda satu dengan lainnya hanya masalah perimbangan faktor-faktor itu saja, banyak atau sedikit, dominan atau resesif. Selama bulan Ramadhan, pergulatan melawan hawa nafsu itulah yang terjadi, saat demi saat hari demi hari. Umat Islam yang menjalankan ibadah puasa, secara sadar menahan diri untuk tidak melewati garis demarkasi. Betapa tidak. Sesuatu yang sebenarnya halal, menjadi terlarang. Makan makananan yang merupakan hasil jerih payah sendiri - dan itu sesungguhnya rezeki yang diberikan oleh Allah - terlarang. Cinta yang sah karena sudah diikat tali perkawinan, itu pun menjadi cinta yang terlarang selama insan tersebut berpuasa. Padahal makan, minum, bercinta, bisa dilakukan di kamar tertutup yang tidak mungkin diketahui publik. Tetapi itu tidak dilakukan oleh insan yang sedang berpuasa. Mereka mampu menahan diri untuk tidak melampaui garis yang diperbolehkan. Mereka sadar sesadar-sadarnya bahwa kendati publik tidak melihat tetapi Allah, Sang Pencipta melihat dan mengetahuinya.

Selama sebulan penuh puasa Ramadhan, irama kehidupan umat Islam berubah. Secara physically umat Islam tidak makan dan minum seperti biasanya di siang hari. Dinihari pun mereka terpaksa bangun untuk makan sahur. Dan di malam hari, umumnya mengalokasikan waktu untuk ke mesjid menunaikan sholat tarawih. Para petinggi negeri pun sibuk bersafari, berkeliling dari satu mesjid ke mesjid lainnya untuk bersilaturrahmi sambil memberikan sumbangan ini itu dan sebagainya. Selama bulan puasa itu pula kaum Muslim terlihat lebih ramah kepada fakir miskin dan anak yatim. Panti-panti asuhan kebanjiran undangan berbuka puasa dari para pejabat atau orang-orang yang berada. Santunan pun tidak sedikit diberikan baik dalam bentuk barang maupun santunan langsung tunai (slt). Tapi "slt" yang santunan ini tidak ada hubungan saudara dengan SLT subsidi kenaikan harga BBM itu. Sebab Subsidi Langsung Tunai (SLT) itu program pemerintah, sedangkan santunan langsung tunai merupakan kebaikan hati orang-orang yang berada.

Sesungguhnya ada nilai universal yang sangat fundamental, yang patut dicatat untuk diimpelementasikan dalam kehidupan sehari-hari pasca Ramadhan, yakni disiplin dan menahan diri. Salah satu faktor yang merisaukan di tengah masyarakat kita dewasa ini adalah rendahnya disiplin. Rendahnya tingkat disiplin atau tingkat kepatuhan masyarakat bermakna bahwa kita belum memberikan apresiasi yang semestinya terhadap aturan main atau peraturan perundangan yang berlaku. Aturan main baru dihormati bila menguntungkan kelompok sendiri. Tapi bila dianggap kurang menguntungkan maka jurus akal-akalan pun bukan sesuatu yang tabu, bahkan sampai dengan menghalalkan segala macam cara, persis seperti di kebun binatang. Akibatnya pelanggaran disengaja atau pura-pura tidak disengaja sering terjadi. Kucing-kucingan pun menjadi rahasia umum.

Di bulan puasa Ramadhan, terlihat betapa disiplin itu menjadi gerakan serentak masyarakat. Umat Islam umumnya terlihat lebih menghargai waktu. Sholat dilaksanakan tepat waktu. Menahan diri untuk tidak makan dan minum serta tidak melakukan hubungan suami-isteri pun dilakukan dengan sungguh-sungguh, walaupun sebenarnya terbuka peluang untuk mencuri-curi kesempatan seperti di traffic-light sepi yang tidak dijaga oleh polisi lalu-lintas. Sebelum waktu berbuka tiba, semua duduk tertib menunggu waktu. Ketika waktu berbuka tiba semua dengan tertib melakukan berbuka. Kebersamaan pun sering diwujudkan dengan sholat berjemaah. Dan sebelum waktu sholat Isa tiba semua sudah bergegas ke mesjid. Secara umum terlihat betapa meningkatnya disiplin di tengah masyarakat. Andaikan disiplin yang sudah kita lakukan di bulan Rama-dhan dipraktrekkan dalam kehidupan sehari-hari pasca Ramadhan, tentulah masyarakat kita akan tertib, aman dan sejahtera. Bapak Pembangunan Singapura, Lee Kwan Yew pernah berujar mengenai ampuhnya resep disiplin ini, "It is not democracy to make the people welfare, it is the discipline." (Kira-kira maksudnya, bukan demokrasi yang membuat masyarakat sejahtera, tapi disiplin). Kedengarannya ekstrim sekali, tetapi Singapura telah membuktikannya.

Nilai lainnya yang sangat penting adalah menahan diri. Masalah besar yang dihadapi oleh bangsa kita dewasa ini adalah karena banyak yang melampaui batas, kita tidak mampu menahan diri, tidak mampu mengekang hawa nafsu. Garis pembatas dimana kita harusnya berhenti seringkali diterobos. Godaan umum serigala-serigala dalam hati yang sering disimbolkan dengan tiga "ta" (tahta, harta dan wanita) masih terlalu tangguh untuk ditundukkan. Untuk mengejar jabatan segalanya dihalalkan. Menahan diri untuk tidak terlalu berlebihan dengan jabatan dan kekuasaan nampaknya teramat sulit untuk dilakukan. Mengejar kekayaan harta juga demikian, ibarat minum air laut, semakin diminum semakin haus. Godaan wanita yang memabukkan pun seringkali direguk mentah-mentah.

Andaikan latihan menahan diri yang sudah kita lakukan selama puasa Ramadhan itu bisa kita praktekkan dalam kehidupan kita sehari-hari pasca Ramadhan, tentulah tidak akan terjadi lagi praktek-praktek KKN yang telah menggerogoti negeri kita ini. Tidak akan terjadi juga penyelundupan BBM, tidak akan terjadi illegal logging, tidak akan ada bom Molotov, bom bunuh diri, perkosaan, sodomi, perselingkuhan dan perbuatan-perbuatan illegal lainnya.

Serigala-serigala itu memang susah untuk ditundukkan, tapi bukan berarti tidak bisa. Kita saja yang harus bertempur lebih hebat lagi. "Kita akan menghadapi perang yang lebih besar, yaitu perang melawan hawa nafsu", demikian diucapkan Nabi Muhammad SAW seusai memenangkan Perang Badar. Ucapan empat belas abad yang lampau itu terbukti melintasi zaman.


(Tabloid MENTARI No.217/Th V/21-27 November 2005)


Tulisan ini sudah di baca 126 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/408-Menahan-Diri.html