drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 2

Zikir


Oleh : drh.chaidir, MM

Semakin hari ritual zikir semakin meningkat saja di negeri ini. Dimana-mana masyarakat diajak berzikir, lengkap dengan busana putih-putih. Kemasannya pun tidak tanggung-tanggung, ada Pekanbaru Berzikir, ada Riau Berzikir, Indonesia Berzikir, dan lain-lain. Ada apa? Pertanda apa ini? Adakah kita sudah mendekati akhir zaman? Ataukah sudah semakin banyak orang yang menyadari dosa-dosanya?

Pesan pertama yang kita tangkap, tentulah, manusia semakin menyadari keberadaannya di muka bumi ini sebagai makhluk ciptaan Yang Maha Kuasa. Tiada tempat melantunkan do'a dan pinta selain kepada Sang Pencipta Alam Semesta. Kendati masih banyak yang mengusung kesombongan kesana kemari, namun, satu persatu, menusia mulai meruntuhkannya. Tak ada gunanya sombong, di atas langit ternyata masih ada langit. Ada peningkatan ibadah, ada peningkatan kesadaran religius. Dan ini tentu saja sesuatu yang menggembirakan. Agama memang sebuah anti-dota21) ampuh terhadap berbagai racun kehidupan.

Manusia memang selalu mencari tak pernah henti. Pencarian itu seringkali berbuah kebahagiaan batiniah. Namun kadangkala bermuara kepada ketidak puasan. Ada yang tidak puas dengan ajaran-ajaran yang ada, dan beberapa diantaranya membuat sekte, mencari pemahaman transendental sendiri. Maka beberapa waktu yang lalu, dikenal sekte Pondok Nabi, yang berafiliasi ke ajaran Kristen, dan belum lama ini kita dibuat ternganga oleh kelompok penganut Ajaran Eden yang merupakan sempalan dari ajaran Islam. Aneh memang, semakin religius kehidupan masyarakat semakin banyak tersedia jalur-jalur sempit yang kalau pengikutnya tidak hati-hati berpotensi salah jalur menyimpang dari koridor, namanya juga jalur sempit. Akan tetapi hal itu memberikan indikasi, manusia semakin menyadari, ada sesuatu yang maha tinggi, tak tersentuh, pencipta dan pengendali kehidupan. Orang Mesopotamia, berabad-abad sebelum masehi mempercayai dewa langit sebagai kekuatan yang memiliki otoritas. Lama-kelamaan mereka letih dengan kepercayaan itu dan mencari dewa penolong lain. Dalam konsep keislaman, Tuhan pencipta seluruh isi langit dan bumi, adalah zat yang Maha Tinggi. Dia memiliki semua otoritas yang tidak dimiliki seisi alam.

Zikir memungkinkan manusia berhadapan langsung dengan Allah Sang Pencipta. Dengan menyebut berulang-ulang nama Allah dalam nada takzim dengan penyerahan jiwa secara penuh, pada hakikatnya manusia telah membangun komunikasi transendental. Zikir biasanya dilakukan sendiri-sendiri, namun dilakukan bersama-sama dengan panduan seorang imam, juga tidak dilarang. Allah Yang Maha Kuasa menyediakan banyak sekali pintu untuk dimasuki umat.

Zikir memang tidak memerlukan kualifikasi pendidikan. Tidak otomatis orang berpendidikan tinggi, zikirnya akan lebih baik daripada orang yang berpendidikan rendah. Dalam beberapa literatur disebutkan, apapun tingkat pendidikan mereka, orang-orang Muslim yakin - dogmatis atau analitis - bahwa Islam memang memiliki intisari yang bernama tauhid. Secara tradisional dan sederhana, tauhid adalah keyakinan dan kesaksian bahwa "tak ada Tuhan kecuali Allah". Penafsiran ini sangat ringkas, namun memberi makna sangat kaya dan agung.

Tauhid menegaskan bahwa Tuhan Maha esa menciptakan manusia dalam bentuk terbaik, untuk menyembah dan mengabdi kepada-Nya. Ini berarti bahwa seluruh keberadaan manusia di muka bumi bertujuan mematuhi Tuhan, menjalankan perintah-Nya. Maka selayaknya dari sudut inilah kita memandang maraknya kegemaran masyarakat melakukan zikir bersama dewasa ini.

Pesan kedua adalah - agaknya - masyarakat sedang mengalami goncangan hebat yang tak tertanggungkan. Tekanan hidup dan perlombaan materialistik yang demikian hebat dalam masyarakat yang sedang berubah cepat telah membentuk masyarakat yang anomi, masyarakat yang mengalami kondisi ketidak-seimbangan psikologis yang menimbulkan perilaku menyimpang dalam berbagai manifestasi. Iri, dengki, sinis, hipokrit, perasaan berdosa, mudah tersinggung, mudah marah, adalah bagian dari manifestasi itu. Penyakit-penyakit itu adalah penyakit-penyakit hati yang memerlukan siraman rohani secara terus-menerus sebagai sitawar sidingin.

Ketidak seimbangan itu kemudian ditimpa dengan musibah yang datang silih berganti. Tak terhitung lagi banyaknya bencana alam, seperti tanah longsor, banjir bandang, asap, kebakaran hutan, sampai kepada musibah maha dahsyat sepanjang millennium, tsunami. Kecelakaan transportasi umum pun tak habis-habisnya, kecelakaan pesawat terbang, kecelakaan kereta api, kapal tenggelam, dan tabrakan demi tabrakan yang menebar maut, terjadi silih berganti. Itu belum selesai. Masih ada wabah flu burung yang menghantui, demam berdarah, malaria, polio, kemiskinan yang menyebabkan anak-anak kekurangan gizi. Cukup? Belum. Masih ada derita lain: Kenaikan harga BBM dan Tarif Dasar Listrik. Kenaikan harga BBM menyebabkan pula naiknya harga kebutuhan pokok masyarakat dan transportasi umum. Belum lagi musibah lain yang menebar ketidak adilan dan fitnah: mafia peradilan, illegal logging, korupsi dan penuhnya penjara oleh orang-orang tersangka yang tak disangka. Habiskah tekanan itu? Belum. Para pengedar narkoba berkeliaran pula laksana hantu siluman mengancam orang-orang tercinta.

Goncangan hebat yang tak tertanggungkan itulah agaknya yang menyebabkan orang mencari perlindungan transendental. Agama memang menjadi wadah yang memberikan fasilitas bagi umat untuk mencari penyelesaian instan terhadap berbagai permasalahan kehidupan. Agama memberikan akomodasi yang sangat ideal bagi umat untuk membangun komunikaksi vertikal dan horizontal. Agama memang tempat mengadu.

Zikir - berjamaah atau bersendirian - sebagai sebuan ibadah tentu saja sangat baik, sepanjang dilakukan ikhlas atas kesadaran ilahiah. Namun jika zikir berjamaah itu dilakukan dengan beragam maksud, atau hanya kamuflase, atau demi kepentingan siasah atau politik, maka tentu saja zikir semacam itu menjadi tak punya nilai sebagai ibadah. Dia akan terperangkap dalam simbol-simbol formalistik.

Sebagai sebuah bangsa yang religius, kita sesungguhnya sudah banyak berzikir. Jika kemudian bangsa ini tidak juga "sembuh-sembuh" dari penyakit menahunnya - demikian banyak masalah dan musibah - berarti doa kita belum dikabulkan. Bila permintaan belum dikabulkan berarti ada persyaratan yang kurang. Sambil berzikir, di samping memanjatkan doa dan pinta, harusnya kita juga melakukan instrospeksi dan evaluasi.

Suatu kali saya pernah mendengarkan ceramah dari seorang ustadz: Ada beberapa persyaratan agar doa kita diterima oleh Allah SWT. Salah satu diantaranya yang terpenting adalah perbaiki hubungan silaturrahim antar sesama manusia. Bila hubungan antar sesama manusia saja bermasalah, maka hubungan vertikal pun akan bermasalah. Bila hubungan vertikal bermasalah, alamatlah doa-doa yang kita lantunkan dengan berhiba-hiba hati kekurangan syarat untuk diakomodasi.

Kenyataan yang ada memberikan indikasi kepada kita, justru dewasa ini hubungan persaudaraan kita semakin longgar, rasa senasib sepenanggungan tidak lagi kohesif.
Kita agaknya harus memulai dari pelajaran yang paling sederhana, bahwa agama itu tidak berbohong.


(Tabloid MENTARI No.227/Th V/6-12 Maret 2006)

21) anti-dota, Latin, anti racun.


Tulisan ini sudah di baca 138 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/406-Zikir.html