drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 2

Benang Kusut Pendidikan


Oleh : drh.chaidir, MM

TAK percaya tapi nyata. Tigabelas SMA di Yogyakarta, Kota Pelajar kita, tidak ada satu pun siswanya yang lulus Ujian Na-sional (UN). Di Riau, Negeri Pantun, 22 SMP dan SMA bernasib sama. Kita tidak perlu lagi bertanya seperti penyanyi Ariel Peterpan, ada apa denganmu? Semua terang benderang. Tidak perlu seorang kandidat doktor untuk bisa menguraikan soalnya. Penyebabnya jelas, ini masalah kualitas alias mutu pendidikan. Begitu standar kelulusan dinaikkan dari 4,01 pada tahun 2004 menjadi 4,26 pada tahun 2005, korban pun berjatuhan.

Artinya, selama ini ternyata cukup banyak siswa yang berada sedikit saja di atas garis ambang tingkat kelulusan, sehingga ketika batas ambang tersebut ditinggikan sedikit, banyak siswa yang terkurung di bawah garis, sehingga termasuk kelompok tidak lulus.

Siswa berprestasi yang berada jauh di atas garis ambang standar kelulusan memang ada, tetapi tidak banyak. Dan siswa-siswa yang berprestasi ini kelihatannya, lebih banyak dipengaruhi oleh talenta, bukan oleh suatu sistim. Indikasi ini terlihat, ketika standar kelulusan dinaikkan, maka jumlah siswa yang tidak lulus meningkat secara signifikan dibandingkan dengan tahun lalu. Data yang disiarkan berbagai surat kabar menyebutkan, tahun 2004 siswa yang tidak lulus secara nasional berjumlah 403.872 sedangkan pada tahun 2005 meningkat dua kali lipat menjadi 815.527 siswa.

Kita bisa membuat pembenaran, sekolah-sekolah yang siswanya tidak ada satu pun yang lulus adalah sekolah-sekolah swasta yang didirikan asal-asalan, tidak terakreditasi, tetapi harap dicatat, sekolah negeripun banyak siswanya yang hanya lulus asal lulus. Standar kelulusan terlalu tinggi? Ya memang, disitulah masalahnya. Kalau kita tidak mampu dengan standar kelulusan yang tinggi, berarti kita hanya mampu lulus dengan standar kelulusan yang rendah, berarti mutu pendidikan kita rendah. Sekali lagi, itulah masalahnya.

Sebetulnya kita masih bisa menghibur diri. Amerika Serikat pada awal tahun delapan puluhan adalah sebuah negara yang secara terang-terangan mengakui pendidikannya mengalami krisis hebat. Prof Dedi Supriadi menulis dalam bukunya "Mengangkat Citra dan Martabat Guru" yang diterbitkan Adicita Yogyakarta, bahwa dalam beberapa dokumen disebutkan adanya bukti-bukti misalnya: (a) dibandingkan dengan negara-negara maju yang lain, selama 10 tahun terakhir, skor yang dicapai oleh siswa Amerika pada 19 mata pelajaran yang diteskan tidak pernah menempati peringkat pertama atau kedua, dan prestasi akademis mereka telah menjadi yang terendah dibandingkan dengan rekan-rekannya di negara-negara maju lainnya; (b) prestasi tes siswa pada mata pelajaran bahasa, sains, dan matematika terus menurun sejak tahun 1960-an; (c) sebanyak 23 juta orang dewasa AS mengalami buta huruf fungsional; meskipun mereka lulus SD, mereka tak mampu memahami bacaan yang sederhana sekalipun.

Salah satu laporan dalam dokumen itu, sebagaimana dikutip oleh Prof Dedi Supriadi menyatakan, "What is unimaginable a generation ago has begun to occur; others are matching and surpassing our educational attainments" (Apa yang tidak pernah terbayangkan satu generasi yang lalu telah mulai terjadi; prestasi pendidikan negara-negara lain melampaui prestasi pendidikan kita). Laporan yang dibuat di masa pemerintahan Presiden Ronald Reagan19) kemudian ditindaklanjuti oleh Presiden George Bush20) (ayahanda dari Presiden George Walker Bush), dengan mencanangkan program "America 2000".

Program itu merupakan janjinya kepada bangsa Amerika untuk mengangkat kembali pendidikan yang babak belur dan dilampaui oleh negara-negara pesaingnya di Eropa dan Asia. AS mencanangkan sebelum akhir abad 20 mereka harus kembali berkibar dan menjadi yang terbaik di dunia.

Berhasilkah AS dengan program Amerika 2000 itu? Kita belum tahu, setidaknya saya secara pribadi belum membaca atau mendapatkan jurnal yang berkenaan dengan itu. Tetapi beberapa prinsip dan program America 2000 itu agaknya layak kita cerman. Bahwa AS cepat mengidentifikasi masalah yang amat serius yang mereka hadapi. Mereka tidak segan-segan mengatakan Amerika Dalam Bahaya (A Nation at Risk). Kalau mereka tidak bangkit, mereka tidak lagi akan menjadi pemimpin dunia dan mereka akan kehilangan pengaruhnya.

Hal lain yang patut kita pelajari dari cara AS keluar dari krisinya adalah, mereka mampu bergerak cepat, mengerahkan segenap kemampuannya untuk bangkit secara sistematis melalui suatu kajian yang mendalam. Melalui kajian itulah, betapa terke-jutnya mereka bahwa ternyata masa belajar efektif sekolah di AS hanya 180 hari per tahun, sementara Jepang 240 hari, Jerman 210 hari, Korea Selatan 220 hari, dan rata-rata di negara-negara maju di atas 200 hari.

Kita juga menyaksikan dengan mata kepala sendiri, betapa Malaysia di awal tahun 70-an mendatangkan guru-guru terbaik dari Indonesia untuk mengajar Aljabar, Ilmu Ukur dan Ilmu Alam di negeri itu. Guru-guru yang mereka datangkan diberi fasilitas dan gaji yang menggiurkan. Malaysia pun mengirimkan ribuan siswanya untuk belajar di luar negeri, ke Inggris dan juga ke AS. Dari berbagai sumber diperoleh informasi bahwa dari seribu mahasiswa Indonesia yang belajar di Amerika, hanya lima persen saja yang memperoleh beasiswa dari pemerintah, sementara mahasiswa yang berasal dari Malaysia dalam jumlah yang sama seluruhnya diberi beasiswa oleh pemerintahnya. Agaknya, ini bukan masalah kemampuan ekonomi, tapi masalah pilihan program prioritas.

Hasil jerih payah Malaysia itu terlihat kini, setelah satu generasi, mereka sudah jauh unggul meninggalkan saudara tuanya yang masih saja beium puas-puas dengan bongkar pasang peraturan dan sistim pendidikannya, sehingga ketinggalan kereta. Bahkan Kamboja, negeri yang belum lama bangkit dari perang, pun kini sudah disebut mengungguli Indonesia dalam hal pendidikan dasar.

Sesungguhnya kita menyadari, bahkan sangat menyadari, hanya negara yang pendidikannya unggul yang bisa memainkan peranan penting dalam percaturan global dalam bidang ekonomi, politik, penguasaan informasi, sain dan teknologi. Bukti-bukti menunjukkan bahwa ada korelasi antara mutu pendidikan di suatu negara dengan kemajuan negara itu dibandingkan dengan negara-negara lain. Negara yang tergolong maju pastilah negara yang pendidikannya maju pula, dan demikian sebaliknya. Jadi pendidikan menopang kemajuan suatu bangsa. Hal ini dimungkinkan karena selain mampu menghasilkan the best minds, pendidikan di negeri itu memiliki relevansi yang tinggi dengan kebutuhan masyarakatnya.

Itulah sebabnya mutu pendidikan yang rendah menjadi kepriha-tinan bangsa secara keseluruhan, bukan hanya kalangan tertentu yang terlibat langsung dalam proses pendidikan.
Pendidikan kita memang dalam krisis, ibarat benang-benang kusut, tidak tahu lagi yang mana ujung yang mana pangkalnya. Masalahnya memang tidak sederhana. Orang bisa berdebat berhari-hari tentang kriteria pendidikan yang bermutu. Tapi pada lingkup persekolahan, mutu dapat diukur dari segi: apakah para siswa menunjukkan prestasi yang memuaskan dalam penguasaan materi pelajaran, dengan kata lain apakah mereka mampu mengerjakan soal ujian dengan baik?

Sebuah gebrakan atau bahkan revolusi di bidang pendidikan agaknya langkah yang niscaya dipertimbangkan. Opsi cukup tersedia, tinggal pilih apakah model America 2000, model Malaysia, model Jepang atau model Koreakah atau model gado-gado? Opsi yang manapun, kita tetap memerlukan Undang-Undang Guru, sarana dan prasarana sekolah yang bagus, fasilitas belajar-mengajar di kelas yang prima (jangan takut biaya mahal), dan last but not least, tumpas mafia di tubuh dunia pendidikan kita dari pucuk sampai ke akar-akarnya.

Kita sudah tertinggal, apa hendak dikata. Maka sekarang kesempatan kita untuk bangkit atau tidak sama sekali.


(Tabloid MENTARI No.203/Th IV/11 -17 Juli 2005)

19) Ronald Wilson Reagen (1911- ), Presiden ke-40 Amerika Serikat. Memerintah 1981-1989.
20) George Herbert Walker Bush (1924), Presiden Amerika Serikat ke-41, memerintah 1989-1993.


Tulisan ini sudah di baca 164 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/405-Benang-Kusut-Pendidikan.html