drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 2

Riau Membaca


Oleh : drh.chaidir, MM

GERAKAN Indonesia Membaca kini menyentuh negeri Bumi Lancang Kuning, Riau. Setidaknya, itu bisa dilihat dari penyelenggaraan seminar ilmiah Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) di Pekanbaru. Itu saja dulu - dan itu sudah cukup bagus - jangan terlalu jauh bermimpi tentang substansi. Dengan seminar itu diharapkan tumbuh apresiasi masyarakat di daerah ini tentang pentingnya membaca.

Insan-insan IPI yang datang dari berbagai penjuru inilah yang menjadi "provokator" gerakan Indonesia Membaca. Kenapa ada gerakan Indonesia Membaca? Jawabnya sederhanya saja, karena, Indonesia tak juga kunjung-kunjung pandai membaca. Demikian banyak informasi, demikian berjibun gagasan setiap hari datang bertandang ke beranda kita, tapi kita tak menunjukkan minat.

Atau, kita tidak membacanya. Atau, kita membacanya, tapi dengan mengeja sehingga tidak mampu mengimbangi gelombang informasi yang datang gulung-menggulung bak tsunami.
Maka jangan heran (bin herman) bilamana kita ditinggal oleh Malaysia yang dulu masih berada di belakang, dan kini, Vietnam pun sudah mulai berada di depan yang semula tertinggal jauh oleh negeri kita yang kaya raya ini. Kenapa? Jawabannya tunggal: Mereka mampu mengolah informasi menjadi sebuah solusi yang tepat karena mereka mampu membaca informasi dengan cepat. Kalau gerakan Indonesia Membaca tidak kita mulai dari sekarang, bersiap-siap pulalah kita ditinggalkan Bangladesh, Laos, Kamboja dan Myanmar. Alamaaak...

Orang zaman dulu percaya bahwa unsur keberuntungan (luck) memegang peran penting dalam kehidupan, tapi kini orang bilang luck is the result of good planning, good planning is result of good information system well applied. Keberuntungan adalah hasil dari sebuah perencanaan yang baik, perencanaan yang baik adalah hasil dari sistim informasi yang baik. Informasi diperoleh dari membaca berita, tulisan, buku dan sebagainya. Oleh karena itulah tuntutan membaca semakin besar, sementara waktu semakin terbatas. Sekarang membaca, atau tidak sama sekali, tulis Wien Muldian, Koordinator Perpustakaan Pendidikan Nasional Depdiknas RI, memprovokasi.

Membaca mungkin tidak sulit, anak kelas satu SD pun sudah mulai bisa membaca, tapi serius membaca dengan cepat atau cepat membaca dengan serius agaknya memang sulit. Mari kita jujur bertanya kepada diri kita sendiri, berapa buah buku yang telah kita baca sampai dengan hari ini? Berapa banyak koran atau majalah yang kita baca setiap hari? Dapatkah kita membayangkan bagaimana presiden Amerika Serikat, Theodore Roosevelt membaca tiga buah buku setiap hari selama tinggal di Gedung Putih? Atau bagaimana seorang John F Kennedy mempunyai kecepatan membaca 1.000 kata per menit? Tapi itu sebuah realitas. Dan realitas pula bila umumnya kita membaca hanya dengan kecepatan 100-200 kata per menit. Bilamana kemampuan membaca presiden Amerika merupakan representasi kemampuan membaca warganya, wajarlah bila mereka memiliki keunggulan daya saing yang sangat tinggi. Mereka pasti melalap rakus semua informasi yang melintas di depannya.

Membaca pasti meningkatkan keunggulan kompetitif. Dan keunggulan itu memang kita perlukan untuk menghadapi masa depan yang penuh dengan nuansa kompetisi, ke depan, siapa-siapa yang tidak memiliki keunggulan dipastikan akan menjadi pecundang. Kita memang tidak bisa menghindari persaingan, tidak karena ancaman globalisasi pun kita sudah berkompetisi juga, apalagi ditambah dengan globalisasi. Logikanya sederhana: Kita hidup di planit bumi yang tidak bertambah besar atau bertambah luas. Pulau-pulau juga tidak akan beranak pinak, bahkan satu dua pulau-pulau kecil sudah mulai hilang disapu gelombang. Provinsi kita ini juga tidak akan bertambah luas, bahkan sebelum setengah abad usianya, telah terbagi dua18). Kota kita ini juga tidak akan bertambah luas, penghuninya tidak akan semakin berkurang, malah setiap hari semakin bertambah. Akibatnya lahan yang sama diperebutkan oleh semakin banyak manusia, kalau pun tidak dengan pendatang, sesama cucu kemenakan memperebutkannya.

Membaca memang sebuah tuntutan masa kini dan masa depan, karena tidak bisa dipungkiri, pelan tetapi pasti kita sedang menuju masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan, yaitu suatu masyarakat yang mengedepankan akal sehat atau ratio dalam bertindak. Masyarakat yang lebih suka menggunakan bahasa kuantitatif daripada kualitatif. Masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan harus banyak membaca.

Bila kita menengok bilik sejarah, mengagumkan, kita akan menemukan bahwa sesungguhnya dunia buku, dunia baca, kepengarangan dan semangat pencerahan, sesungguhnya merupakan sebuah dunia yang akrab dengan tanah Melayu. Ketika kerajaan-kerajaan lain sibuk dengan perebutan tahta, harta dan wanita, dunia Melayu justru muncul dengan semangat pencerdasan dan menghasilkan sejumlah pengarang. Sebelum masa pujangga Raja Ali Haji, kita sudah menemukan beberapa buku yang dikarang oleh orang-orang Melayu, seperti kitab Sulalat al-Salatin atau Sejarah Melayu karya Tun Seri Lanang, Hikayat Abdullah oleh Abdul Kadir Munsyi, serta sejumlah buku yang nama pengarangnya masih gelap, umpamanya Hikayat Hang Tuah.

Dunia pencerahan Masyarakat Melayu menemukan pun-caknya pada pertengahan abad ke-19 (1850-an) melalui kemunculan Raja Ali Haji yang mengarang begitu banyak buku seperti Kitab Pengetahuan Bahasa, Tuhfat an-Nafis, Muqaddima fi Intizam, Syair Suluh Pegawai, Gurindam Dua Belas, Bustan al-Katibin, dan lain-lain. Selain Raja Ali Haji kita dapat mencatat sederetan nama, seperti Abu Muhammad Adnan (Raja Abdullah) yang mengarang kitab Kutipan Mutiara, Khatijah Terong dengan bukunya Perhimpunan Gunawan Bagi Laki-laki dan Perempuan, Raja Ali Kelana yang mengarang lima buku diantaranya Bughyat al'Ani fi Huruf al-Ma'ani, Salamah Binti Ambar dengan naskahnya Nilam Permata, serta beberapa nama lain seperti Raja Aisyah Sulaiman yang berhasil mengarang tiga buah buku, Khalid Hitam dengan satu karangan, Raja Ahmad Tabib dengan empat karangan, Raja Haji Muhammad Yunus Ahmad sebanyak empat karangan dan beberapa nama lainnya.

Dalam tradisi Melayu, orang-orang pandai dan buku sangat dihormati. Dalam sebuah kisah disebutkan, ketika sebuah buku selesai ditulis, maka buku tersebut diarak, untuk kemudian disimpan dalam perpustakaan. Sebagai contoh, tatkala buku Durrat Manzum selesai disalin di tanah Pasai, buku tersebut diarak dari pelabuhan menuju istana dan penulisnya diberikan berbagai hadiah.

Tradisi buku, baca, mengarang, dan pencerahan di Riau masa lalu tak lepas dari keterlibatan penuh penguasa pada masa itu. Dari sejumlah penulis yang dapat kita sebut, sebagian besar adalah keluarga kerajaan. Ini memang sebuah fenomena. Jikalah semangat penulisan itu dilakukan oleh penguasa sekarang, kita akan mampu menuju Riau yang cerdas. Sayangnya pusat kekuasaan lebih tertarik pada tahta dan harta ketimbang agenda-agenda intelektualita.

Filososfi mengarang atau memperoleh pengetahuan bagi orang Melayu bukanlah sekedar melahirkan karya, tapi lebih dari itu menuntut ilmu dan mengarang merupakan bagian dari proses menegakkan kebenaran serta menyelamatkan masa depan. Oleh karena itulah naskah-naskah Melayu lebih banyak bermain dengan terma-terma moral universal, kemanusiaan, tata cara hidup, hubungan sosial, keteladanan, kepemimpinan pemerintahan dan agama.

Gerakan Indonesia Membaca sudah saatnya diikuti dengan Gerakan Riau Membaca. Membaca tidak hanya tuntutan masa depan, tetapi bagi Riau, juga sebuah panggilan sejarah. Saya sependapat dengan Wien Muldian, sekarang atau kita akan terlambat.

(Tabloid MENTARI No.198/Th IV/ 6 -12 Juni 2005)

18) Provinsi Riau melalui UU No 25 Tahun 2002 tanggal 25 Oktober 2002 tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau, dimekarkan menjadi dua Provinsi: Provinsi Riau (induk) dan Provinsi Kepulauan Riau, ibukota di Tanjung Pinang.


Tulisan ini sudah di baca 119 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/404-Riau-Membaca.html