drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 2

Damai Itu Indah


Oleh : drh.chaidir, MM

Lao Tse115), seorang filsuf Cina yang hidup 2600 tahun yang silam, dengan bijak mengatakan bahwa seorang jenderal yang baik hanya menggunakan perang sebagai pilihan terakhir. "Dia akan berhenti begitu dia mencapai tujuannya." Kata Lao Tse. "Dia tidak menjadi bangga karena apa yang dia lakukan. Meskipun jika dia memenangkan perang, dia tidak akan menikmati kemenangannya. Mereka yang menikmati kemenangan menikmati pembunuhan. Dia yang suka membunuh tidak akan pernah mencapai tujuannya."

Lao Tse agaknya benar. Tidak ada yang menikmati kemenangan dalam konflik yang telah berlangsung selama lebih kurang 30 tahun di Aceh. Tidak ada musuh yang bertekuk lutut. Kontak senjata berkali-kali, yang menimbulkan korban jiwa tidak kurang dari 15.000 jiwa, hanya menyisakan penderitaan, air mata, anak-anak yatim dan janda. Selebihnya kemiskinan dan keterpurukan. Selesaikah masalahnya? Ternyata tidak juga. Mereka yang beruntung tidak diterjang peluru dalam sebuah kontak senjata hanya merasakan kegembiraan sesaat. Dalam kontak senjata seperti itu memang hanya ada pilihan dibunuh atau membunuh. Siapapun, pasti memilih yang terakhir. Secara naluriah sesungguhnya, tidak ada yang suka terdorong ke situasi yang sulit seperti itu.

Akibat perang, ribuan anak-anak dan wanita terserang penyakit; sejumlah kemajuan, serta pranata sosial dan ekonomi yang terbangun hancur berkeping-keping. "Ketika perang usai," kata Francis Moore, "setelah kedua belah pihak lelah baku hantam dan akhirnya berdamai, apakah sebenarnya yang diperoleh rakyat?" Moore menjawab sendiri: "Pajak, janda, kaki kayu, dan utang."

Jalur konflik senjata memang tidak menyelesaikan masalah. Konflik Aceh kembali membuktikan itu. Perseteruan tidak bisa diselesaikan dengan kontak-kontak senjata dibelantara, dentuman meriam atau bom yang dicurahkan dari langit. Jalur diplomasi bila konflik antar negara, atau jalur perundingan bila konflik terjadi secara internal, selalu menjadi pilihan penyelesaian. Tidak terkecuali konflik Aceh. Begitulah adanya, kesepakatan damai itu akhirnya datang juga. Hanya saja kesepakatan damai konflik Aceh ini justru diciptakan melalui meja perundingan nun jauh dari tanah rencong Nangroe Aceh Darussalam.

Helsinki adalah kota yang beruntung mencatat sejarah itu. Helsinki merupakan ibukota Republik Finlandia, sebuah negeri yang dijuluki "Negeri Seribu Danau" yang terletak di timur semenanjung Skandinavia. Dan salah satu dari danau itu ikut menjadi saksi bagaimana Hamid Awaluddin, Ketua Tim Juru Runding Indonesia dan Malik Mahmud (Perdana Menteri GAM) berupaya keras meredakan ketegangan antara kedua belah pihak dan merumuskan kesepakatan-kesepakatan.

Finlandia tentulah negeri orang bule, negeri yang bila musim panas, siang teramat panjang seakan matahari enggan tenggelam, di musim dingin pula, sang surya seakan enggan beranjak dari peraduan. Di musim dingin semua membeku. Bagi negeri kita yang berada di khatulistiwa sifat alam seperti itu terasa aneh. Kita tidak akrab dengan alam dan musim seperti itu. Negeri kita negeri yang tidak bermasalah dengan sinar matahari dan tidak pernah dendam dengan malam.

Di Helsinki tidak ada azan subuh yang membangunkan warga dari mimpi, tidak pula ada kokok ayam atau kicau cucak-rowo. Maka sebenarnya negeri kita tidak familiar dengan negeri itu. Tanah rencong pun tidak memiliki hubungan sanak famili dengan negeri yang alamnya aneh seperti itu. Tetapi sejarah mencatat, di negeri itulah dua saudara yang bersitegang memperjuangkan hak masing-masing berunding, berdamai atau didamaikan, dan mereka mau.

Sia-siakah pengorbanan mereka yang gugur di medan pertempuran, di pihak manapun mereka berada? Tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti. sang waktulah yang akan menjadi saksi kelak di kemudian hari. Bila upaya damai dari konflik yang panjang itu - masyarakat Aceh khususnya dan Indonesia umumnya - memberi manfaat yang besar dan mampu membangkitkan Aceh dari keterpurukan, maka pengorbanan itu akan bermakna. Tetapi sebaliknya pengorbanan itu akan menjadi sia-sia bila kemudian tidak ada pihak yang menarik iktibar dan Aceh tidak mampu bangkit dengan kepala tegak.

Kita sebenarnya tidak bisa menjawab dengan pasti konflik seperti apa yang terjadi di Aceh antara Pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka. Masing-masing tentu memiliki pembenaran untuk apa mereka saling menyerang, untuk apa mereka saling bermusuhan. Pihak manapun selalu bisa mengemas misinya dan adakalanya memberi kesan keangkuhan. Bila itu sebuah keangkuhan politik maka wajarlah bila ada yang mengatakan bahwa kesepakatan perdamaian ini sesungguhnya merupakan buah dari pohon keangkuhan politik yang ditanam.

Aceh memang sebuah negeri dengan riwayat panjang sebuah kepedihan dan ketersinggungan. Bila kita menyingkap bilik sejarah, kita menyimak, ketika negara Indonesia didirikan, Aceh hanya dimasukkan ke dalam Provinsi Sumatera Utara dan itu membuat sejumlah tokoh Aceh meradang. Padahal Aceh merasa memberikan kontribusi yang tidak sedikit bagi Inbdonesia. Juga jika dipandang dari sudut sejarah, Aceh merupakan satu wilayah yang memberikan nilai tersendiri dalam perjuangan negara Indonesia. Beberapa pahlawan Aceh seperti Cut Nya' Din, Panglima Polem, Teuku Umar, Laksamana Malahayati, dan lain-lain, menjadi sebuah catatan tersendiri dalam risalah sejarah nasional Indonesia melawan kolonialisme.

Apa yang dilakukan oleh pemerintah pusat ditahun-tahun awal kemerdekaan bangsa kita, bagi masyarakat Aceh adalah semacam sebuah penistaan. Sehingga tokoh Aceh pada masa itu seperti Teuku Daud Baurereh pun tak kuasa untuk tidak melawan dengan memproklamirkan Aceh sebagai bagian dari DI/TII yang dicetuskan oleh Kartosuwiryo.

Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, kekecewaan rakyat Aceh semakin menjadi. Distribusi sumberdaya ekonomi semakin timpang. Selain ketimpangan distributif, Aceh juga menjadi wilayah apa yang kemudian populer dengan istilah DOM (Daerah Operasi Militer). Tekanan politik pada masa Orde Baru kemudian memunculkan perlawanan pula, maka nama pimpinan pergerakan perlawanan, Hasan Tiro, kemudian menjadi sangat populer.

Tekanan yang dirasakan rakyat Aceh, baik secara politik, ekonomi, sosial, dan sebagainya, seakan menjadi kehendak politik pemerintah, persis sebagaimana yang dikatakan Hernando De Soto16), bahwa kehendak politik (political voluntarism) pemerintah pusat seringkali merupakan hal yang harus terjadi di daerah. Kehendak yang berlebihan pada gilirannya menimbulkan resistensi dan sebuah pandangan negara adalah sesuatu yang harus dilawan, atau minimal membuat rakyat cenderung berkata tidak kepada negara. Ini jugalah agaknya yang merupakan cikal bakal dari sebuah pem-berontakan. Sebab, pemberontakan, kata Albert Camus17), adalah orang yang berkata tidak.

Kesepakatan damai sesungguhnya juga terwujud bila ada semangat untuk mengatakan tidak terhadap konflik. Cobalah buat daftar panjang perbedaan yang menyebabkan timbulnya sebuah konflik atau bahkan perang, dan buat pula daftar panjang persamaan, bahwa kau dan aku sesungguhnya sama. Saya yakin daftar persamaan tetap lebih panjang. Jangan ada keengganan untuk mengatakan, kita adalah umat yang bersaudara. Damai itu indah.

(Tabloid MENTARI No.209/Th IV/29 Agustus-4 September 2005)

15) Lao Tse atau Lao Tzu, filsuf China yang legendaris, diperkirakan hidup pada abad ke-6 Sebelum Masehi.
16) Hernando De Soto (15007-42), intelektual Peru, Presiden Institutefor Liberty and Democracy di Lima, Peru. Ekonom dan innovator terkemuka Amerika Latin abad XX.
17) Albert Camus (1913-60), Penulis dan filsuf Prancis. Pemenang hadiah Nobel di bidang Perpustakaan, pada 1957.


Tulisan ini sudah di baca 161 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/403-Damai-Itu-Indah.html