drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 2

Ayolah Bangun


Oleh : drh.chaidir, MM

Tahun 1425 Hijriyah telah menjadi bangkai zaman (meminjam istilah DR Aidh al Qarni). Dan mulai 1 Muharram, kita telah memasuki tahun baru 1426 Hijriyah. "Betapapun seluruh manusia dan jin bersatu untuk mengembalikan semua yang telah berlalu, niscaya mereka tak akan pernah mampu", begitu kata penulis Timur Tengah DR Aidh al Qarni. Agaknya benarlah apa yang dikatakan. Jangankan mengembalikan masa silam, memperlambat terbang sang burung waktu saja (nah yang ini meminjam istilah sastrawan Allahyarham Idrus Tintin), adalah sebuah kemustahilan. Waktu terus bergerak tak kenal kompromi, tak ada jeda, tak ada macet-macetnya. Waktu tidak pernah bisa disuruh menunggu, betapa tinggi pun seorang petinggi yang selalu ditinggi-tinggikan. Juga tak akan pernah menunjukkan belas kasihan terhadap orang yang sudah terkapar dan ditimpa tangga sekalipun. Jangankan menolong, menoleh pun tak.

Begitulah kaidahnya. Waktu memang diskenario demikian, terus berjalan tak henti-henti ibarat escalator yang hanya bergerak ke satu arah. Kalau tidak mau tertinggal, buruan masuk dan ikut berangkat. Atau tinggal, dengan risiko tak akan pernah dilihat kembali dan dilupakan sejarah. Pilihannya memang hanya satu, ikut mengepakkan sayap, terbang. Itu pun dengan risiko lain, suatu saat kelak entah kapan dan dimana, kita pun akan terkena hukum alam, tak lagi bisa mengikuti irama, dan mengepakkan sayap, terpinggirkan oleh keadaan dan kemudian dilupakan.

Tahun 1425 Hijriyah tak akan pernah lagi kembali, tahun 1426 Hijriyah menggantikannya. Ada perubahan yang menarik. Kini munculnya tahun baru hijriyah ini mulai diapresiasi oleh umat Islam, walaupun masih terasa sangat sederhana, terbatas dan terkesan malu-malu. Di beberapa masjid diadakan perayaan berupa tabliq akbar dengan mengundang penceramah-penceramah kondang. Tapi hanya sampai di situ. Di masyarakat sama sekali belum nampak kemeriahannya. Masih belum semeriah perayaan tahun baru Masehi dan bahkan kemeriahan tahun baru Imlek Gong Xi Fa Choi, yang secara kalenderiah tahun ini kebetulan berdempetan dengan tahun baru Hijriyah. Di mal-mal, atau di plaza-plaza, yang terkesan dirayakan adalah Tahun Baru Imlek. Umbul-umbul, poster-poster, terlihat mendukung dengan meriah. Padahal dilihat dari aspek demografi dan geopolitik mestinya perayaan Tahun Baru Hijriyah harus lebih meriah.

Dulu masalah ini tabu untuk diperbincangkan, karena khawatir akan mengganggu stabilitas nasional. Tapi pendekatan itu ternyata tidak sepenuhnya betul. Kita dihantui oleh ketakutan terhadap bayang-bayang sendiri. Waktu kemudian mencatat kearifan. Keterbukaan dan kebiasaan kita yang semakin baik dalam menyikapi perbedaan, tidak lagi perlu ada sesuatu yang menakutkan. Kita sudah semakin terbiasa dan menyadari, di samping rumah kita juga hidup anggota kelompok masyarakat lain yang tidak seiman, sesuku atau sebangsa. Yang diperlukan adalah menjaga domain masing-masing dalam suatu format kesantunan, saling menghargai dan saling menghormati sebagaimana dipesankan dalam tunjuk ajar Melayu: "Hidup serumah beramah-tamah, hidup bertetangga jaga menjaga, hidup sedusun tuntun menuntun, hidup sekampung tolong menolong, hidup sedesa bertenggang rasa, hidup senegeri beri memberi, hidup sebangsa rasa merasa."

Saya juga mencatat, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini saya menerima banyak sekali short messages services (SMS) ucapan Selamat Tahun Baru 1426 Hijriyah dengan berbagai macam untaian kata-kata bijak yang berisi puja-puji kepada Sang Khalik dan nasihat-nasihat. Menurut hemat saya, barangkali itu adalah dampak dari kemudahan yang diberikan oleh pemberi jasa telekomunikasi, tetapi kita juga tidak boleh mengingkari dan harus mengakui dengan jujur, agaknya memang ada peningkatan apresiasi keagamaan. Ada semangat untuk saling mengingatkan bahwa kita ini adalah makhluk yang memerlukan perlindungan dari Yang Maha Kuasa.

Saya menangkap samar-samar (mudah-mudahan tidak salah) sudah semakin banyak yang mulai terbangun dari tidur indah yang memabukkan. "Mayoritas manusia di dunia ini sedang terlelap", tulis DR Aidh al Qarni14), "meskipun pada zahirnya mereka bangun, makan, minum, maupun bersenda gurau, sejatinya mereka sedang tidur dan lalai. Sebab ada keterjagaan yang berbeda dengan keterjagaan dari tidur, yaitu keterjagaan hati, sehingga ia tak pernah tertidur selama-lamanya. Jika kebanyakan manusia terjaga hatinya, pasti mereka akan berjalan dengan sungguh-sungguh dan mencari dengan gigih."

Tahun baru 1426 Hijriyah dihitung dari hijrahnya Nabi Muhammad saw dari Mekkah ke Madinah. Umat Islam di bawah pimpinan Nabi Muhammad SAW pindah ke Madinah sebagai salah satu upaya untuk mencari tempat yang lebih baik untuk beribadah dan mencari penghidupan. Mekkah tidak lagi kondusif bagi Rasulullah dan pengikutnya. Penindasan yang dilakukan oleh kaum Quraisy yang menentang Nabi Muhammad dan pengikutnya demikian kejam. Hijrah ini mempunyai arti yang sangat penting bagi perjuangan Islam. Di Madinah inilah kemudian berdiri pemerintahan Islam yang pertama, dan Madinah sendiri ditetapkan menjadi ibukota pemerintahan Islam yang pertama. Menurut catatan sejarah, permulaan hijriyah itu adalah pada bulan September tahun 622 M. Tahun inilah yang ditetapkan oleh Khalifah kedua Umar bin Khattab (yang memerintah tahun 634-644 M) sebagai tahun pertama dalam agama Islam, yang disebut tahun Hijriyah.

Peringatan tahun baru Hijriyah tidak hanya sekedar merayakan pergantian tahun, tetapi lebih dari itu. Secara religius, hijrah berarti sebuah perjalanan dengan niat religius. Dilakukan untuk membuka era baru. Hijrah adalah penolakan simbolis terhadap rasa putus asa dalam menghadapi penindasan. Hijrah oleh kaum musiim berabad-abad kemudian diberi berbagai makna dan simbolisme untuk mengabsahkan secara religius berbagai dimensi pengalaman Islam.

Secara populer nilai-nilai religius hijrah itu dielaborasi oleh para da'i sebagai suatu semangat perubahan. Semangat reformasi misalnya adalah hijrah dari sistem yang semula sangat tertutup dan sentralistik menjadi keterbukaan dan desentralisasi. Semangat otoriter berubah menjadi semangat demokrasi. Management pemerintahan yang buruk berubah menjadi good governance. Pemerintah yang korup berubah menjadi pemerintah yang bersih (clean government). Perubahan tersebut diharapkan tidak hanya sebatas simbolisme dan retorika belaka, tetapi seyogianya menyentuh secara substantif.

Di akhir tahun 1425 H dan di awal tahun 1426 H, Riau mencatat beberapa peristiwa penting yang sesungguhnya harus mampu dimaknai dengan semangat hijrah. Presiden untuk kedua kalinya datang ke Riau. Dengan simbol teluk belanga yang dipakai dan untaian pantun yang dilantunkan, ada semangat berempati kepada Riau.
Menjadi sebuah momentum keberpihakan pusat terhadap daerah yang selama ini dirasakan sangat minim? Kita memang harus berupaya hijrah untuk mengembangkan semangat kebersamaan simbiose mutualistik, bukan menumbuh-kembangkan kebencian dan kedengkian.

Mampukah kita menangkap semangat itu dan mengubahnya. Nasihat DR Aidh al Qarni berikut agaknya menarik untuk kita renungkan: "Orang yang berpikiran jernih tidak akan pernah melihat dan sedikitpun menoleh ke belakang. Pasalnya, angin akan selalu berhembus ke depan, air akan mengalir ke depan, setiap kafilah akan berjalan ke depan, dan segala sesuatu bergerak, maju ke depan. Maka dari itu, janganlah pernah melawan sunnah kehidupan." Ayolah kita



bangun, bangkit. Kembangkan semangat hijrah, semangat perubahan ke arah sesuatu yang lebih baik dari hari kemarin.

(Tabloid MENTARI No. 182/IV/14-20 Februari 2005)

14) DR Aidh al-Qarni, penulis Timur Tengah, seorang doctor dalam bidang hadis yang hafizh Qur'an, ribuan hadis, dan juga ribuan bait syair Arab kuno hingga modern.


Tulisan ini sudah di baca 166 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/402-Ayolah-Bangun.html