drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 1

Mantra Baru: Otsus


Oleh : drh.chaidir, MM

Agaknya, ini sebuah kado yang terlalu dini. Hari jadi emas Riau Tahun 2007 tanggal 9 Agustus masih lagi lama, sekarang baru awal Januari, tapi Riau sudah mendapatkan kado istimewa: Deklarasi perjuangan otonomi khusus. Kado? Bukankah perjuangan itu belum berhasil? Betul. Ini baru langkah pertama dari sebuah perjalanan panjang. Namun sebuah perjalanan sejuta langkah sekalipun, selalu dimulai dengan langkah pertama. Langkah pertama saja kita sudah senang, apatah lagi nanti perjuangan itu membuahkan hasil yang menguntungkan bagi rakyat.

Deklarasi Forum Perjuangan Rakyat Riau menuntut Otonomi Khusus pada 11 Januari 2007 di Pekanbaru menarik untuk disimak. Ribuan massa dari berbagai kalangan yang menjadi stakeholder daerah hadir dalam acara ini, bahkan tokoh nasional sekaliber Prof Ryaas Rasyid pun ikut memberikan dukungan moril melalui orasinya. Ini tentu sebuah peristiwa yang mencuri perhatian di awal 2007. Bagi masyarakat Riau yang memiliki kepedulian sejarah dan masa depan, langkah ini dipandang sebagai suatu keniscayaan, tapi barangkali tidak demikian bagi sementara pejabat pusat yang berpikir selalu penuh dengan kekhawatiran dan selalu berprasangka buruk terhadap daerah.

Tidak ada sesuatu yang salah dari deklarasi ini, tidak juga ada sesuatu yang berlebihan yang patut disebut memprovokasi kekhawatiran. Sebagai sebuah negeri yang berdemokrasi dan sedang mencari format penyampaian dan perjuangan aspirasi yang paling sesuai, perjuangan untuk mendapatkan Otonomi Khusus (Otsus) seperti itu sah-sah saja. Bagi kalangan tertentu di Riau, hal itu justru dilihat sebagai langkah mundur dari hasil Kongres Rakyat Riau (KRR) II yang dilaksanakan pada 29-30 Januari 2000 beberapa tahun lalu. Dalam KRR II ada tiga opsi yang menjadi perdebatan kala itu, yakni Opsi Merdeka, Opsi Federal dan Opsi Otonomi Luas. Demikian serunya perdebatan antar pendukung opsi, sampai-sampai keputusan belum bisa diambil kendati waktu tidak merangkak melewati tengah malam akibatnya voting tidak terhindarkan. Dan esok harinya ketika masyarakat terbangun dari tidurnya, mereka mendapatkan Opsi Merdeka yang unggul dalam pemungutan suara.

Tidak ada pesta kembang api menyambut opsi hasil voting tersebut. Hal itu dipahami sebagai kulminasi dari kekecewaan kumulatif masyarakat Riau terhadap perlakuan pusat yang selama ini dianggap sangat merugikan masyarakat di daerah. Janji memberikan bagi hasil secara lebih memadai, tinggal janji. Formulanya, hari ini bersabar, esok hari pasti dibantu. Demikian seterusnya, hari esok selalu tidak tergapai, karena ketika kita menjumpai hari esok, hari esok itu menjadi hari ini, demikian seterusnya.

Sebenarnya, hasil KRR II tidak hanya masalah opsi tersebut, tetapi juga ada beberapa keputusan lain yang sangat penting, seperti misalnya penggunaan bahasa Melayu dalam kehidupan sehari-hari, mengajarkan bahasa Melayu sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah, sosialisasi tunjuk ajar Melayu, perlindungan bagi tenaga kerja lokal, dan lain sebagainya yang pada intinya menjadikan kebudayaan Melayu sebagai jati diri masyarakat Riau.

Hari berganti hari, pekan berganti pekan, purnama pun berlalu tak lagi terhitung, Riau sejahtera yang diimpikan tak jua kunjung terwujud. Daerah ini sudah tertinggal jauh dan untuk mengejar ketertinggalan itu diperlukan tenaga besar. Seiring dengan itu kesadaran masyarakat semakin tumbuh dan berkembang. Komunikasi dengan berbagai daerah lain menyebabkan masyarakat memiliki pembanding. Riau misalnya, masih memiliki angka kemiskinan yang cukup tinggi (Kajian Litbang Riau menunjukkan angka 22,96%). Rata-rata tingkat pendidikan masyarakat juga masih rendah, 56% masyarakat Riau hanya berpendidikan SD dan tidak tamat SD.

Infrastruktur Riau misalnya, baru mencapai 46% dari kebutuhan. Jangan tanya jalan-jalan di pedesaan, kondisinya amat memprihatinkan. Jalan negara yang menghubungkan Riau - Jambi, Riau - Sumbar dan Riau - Sumut bisa bercerita banyak betapa malangnya nasib Riau yang kaya raya dengan SDA tapi terabaikan. Ruas jalan negara dari perbatasan masuk ke wilayah Jambi, Sumbar dan Sumut mulus, lebar dan lengkap dengan markanya, sementara jalan negara yang berada dalam ruas Riau, rusak dan sempit pula. Seorang teman di Jambi berkelakar, kalau anda tertidur dalam kendaraan, kemudian terbangun karena jalannya rusak, itu tandanya anda sudah masuk wilayah Riau.

Riau boleh menjadi provinsi penghasil devisa negara terbesar dari migas (45% lebih) dan memberikan sumbangan pajak yang sangat besar bagi republik ini, namun dana yang kembali ke daerah tidak memadai. Alokasi dana APBN untuk daerah yang disebut dengan DIPA, untuk Riau jumlahnya relatif jauh lebih kecil dari provinsi tetangga, Sumatera Barat. Tahun 2006 Riau memperoleh DIPA 4,4 triliun rupiah, Sumbar pada tahun yang sama memperoleh Rp 7,7 triliun. Pada 2007 Riau memperoleh DIPA Rp 5,8 triliun, bandingkan dengan Sumbar yang memperoleh Rp 10,5 triliun. Kita tidak minta DIPA daerah tetangga dikurangi, bahkan kalau perlu tambah, tapi perhatikan Riau secara proporsional.

Membiarkan Riau terpuruk dalam ketertinggalannya, akan memberikan citra yang kurang bagus bagi bangsa kita. Masalahnya, Riau ditakdirkan bertetangga dekat dengan negeri maju seperti Singapura dan Malaysia. Data menunjukkan tidak kurang dari 1000 orang setiap bulan wisatawan sakit (wiskit?) berangkat ke Melaka melalui bandara Pekanbaru. Wiskit ini adalah warga Riau dan sekitarnya yang berangkat ke Melaka untuk berobat. Itu belum termasuk wisatawan sungguhan dan kunjungan keluarga. Malaysia yang kini menjadi negeri maju memang menawarkan kesenangan bagi wisatawan khususnya dari Riau, sebab di samping adanya kesamaan budaya, bahasa dan agama, biaya ticket pesawat Pekanbaru - Melaka, bahkan Pekanbaru - Kuala Lumpur lebih murah daripada Pekanbaru - Jakarta. Kalau mau murah meriah ada juga, berangkatlah lewat laut, bisa langsung dari Pekanbaru, bisa pula dari Dumai. Sehingga jangan heran, bila musim liburan tiba, guru-guru dan anak sekolah di Riau, ramai-ramai berdarmawisata ke Malaysia.

Tingginya tingkat kunjungan Pekanbaru - Melaka/Kuala Lumpur membawa konsekuensi lain. Warga yang kembali dari Melaka/Kuala Lumpur akan selalu membuat perbandingan betapa hebatnya kemajuan negeri orang dan betapa tertinggalnya negeri kita. Gubernur Riau HM Rusli Zainal mengemukakan ilustrasi dalam beberapa kesempatan, belayarlah anda dari selatan menyusuri Selat Melaka ke utara, maka di sebelah timur akan terlihat cahaya gemerlapan, itulah dia Singapura dan Malaysia, dan pandanglah ke barat akan terlihat kegelapan, itulah Riau.

Suka atau tidak suka, Riau karena letak geografisnya akan tetap bertetangga dengan semenanjung sampai dunia kiamat, sebagai salah satu gerbang utama di wilayah barat Indonesia. Membangun Riau sebagai wilayah yang maju dan modern, menjadikan Riau sebagai pusat perekonomian dan kebudayaan Melayu tidak akan ada ruginya sama sekali bagi bangsa Indonesia. Semakin maju Riau, semakin besar kontribusinya bagi Indonesia. Sebab, Riau, di samping memiliki wilayah yang luas dan potensi alam yang banyak, merupakan wilayah terdekat yang mudah dijangkau oleh investor manca negara yang bermarkas di Singapura, Kuala Lumpur maupun Melaka. Ibaratnya, para pemodal ini akan dengan mudah memantau aliran kas perusahaannya di Riau dari apartemen mewahnya di megapolitan tersebut. Jaringan bisnis multinasional yang dimiliki oleh ketiga kota ini akan dengan mudah memanfaatkan potensi Riau. Dengan catatan, Riau memiliki prasana infrastruktur jalan, jembatan, bandara, listrik, air bersih, telepon yang memadai.

Oleh karenanya membangun Riau adalah membangun kebanggaan Indonesia. Riau cemerlang Indonesia terbilang. Jadi tidak perlu khawatir, tidak perlu ragu. Otsus Riau kini menjadi mantra baru, mantra bersama, di daerah dan di pusat. Satu mantra satu gerakan. Syabas!!!


(Tabloid MENTARI No.250/Th V/15 - 25 Januari 2007)


Tulisan ini sudah di baca 170 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/401-Mantra-Baru:-Otsus.html