drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 1

Pesona Tepian Narosa


Oleh : drh.chaidir, MM

Wakil Presiden RI Jusuf Kalla tak hendak menyembunyikan rasa senangnya ketika mengangkat bendera merah putih tanda start Pacu Jalur di Anjungan Start Tepian Narosa, Teluk Kuantan, pada 24 Agustus 2006. Secara protokoler sebenarnya Wapres hanya melepas dua jalur pertama yang beradu cepat menuju garis finish dengan penuh semangat untuk saling mengungguli lawannya. Tapi agaknya, melihat ribuan atlit pacu jalur yang berwarna-warni memenuhi Batang Kuantan dan puluhan ribu penonton yang menyemut di kedua tepi sungai, Wapres tak tahan, dan kembali mengangkat bendera start, sehingga waktu yang disediakan protokol kepresidenan di Anjungan Start menjadi sedikit molor.

Prosesi itu adalah puncak kehadiran Wapres Jusuf Kalla di Arena Pacu Jalur Tepian Narosa, setelah secara resmi membuka perlombaan legendaris ini dalam acara seremonial di Lapangan Limuno, dan kemudian ikut pula bersama isteri dan beberapa Menteri, didampingi Gubernur Riau beserta istri dalam acara tradisi Maelo Jalur12). Keikutsertaan Wapres beserta isteri secara langsung dalam acara Maelo jalur Juga merupakan spontanitas, karena saya dengar, semula Wapres hanya diagendakan menyaksikan acara Maelo jalur dari tempat khusus yang telah disediakan. Tapi acara itu memang sangat menarik minat tetamu, sebab, lain daripada yang lain, unik dan mengesankan. Ikut sertanya Wapres beserta isteri, para Menteri dan Gubernur beserta isteri. Maleo Jalur sudah barang tentu disambut meriah oleh ribuan masyarakat yang menyaksikan dan terutama tentu oleh bujang dan gadis jalur yang dari pagi sudah menunggu dengan berdebar-debar.

Di kediaman Bupati H Sukarmis, Wapres Jusuf Kalla terlihat menghitung-hitung jumlah atlit dan penonton bersama Bupati dan Gubernur. Jumlahnya memang fantastis. Jalur yang ikut berlomba tahun 2006 berjumlah 166 buah. Dengan atlit dayung rata-rata 60 orang per jalur berarti ada 9.960 atlit yang ikut berlomba. Kalau masing-masing atlit membawa 3 orang supporter (orang tua dua orang, dan saudara atau istri orang) maka berarti ada 29.880 orang supporter langsung. Hebatnya, masing-masing jalur membawa orang sekampung sebagai supporter untuk ikut memberikan semangat. Seisi kampung tidak akan mau ketinggalan, mereka seakan menitipkan jiwa raganya pada jalur kebanggaan mereka. Oleh karena itu wajar kalau Bupati Kuantan Singingi H Sukarmis menyampaikan dalam pidato sambutannya, sekitar 200.000 orang tumpah ruah di Tepian Narosa.

Kesan saya, Wapres Jusuf Kalla kelihatannya tidak menyangka kalau prosesi Lomba Pacu Jalur itu demikian meriah dan atraktif. Ketika melepas Wapres Jusuf Kalla d
i Bandara SSK II Pekanbaru sore harinya, saya tanyakan kepada Gubernur Rusli Zainal kira-kira bagaimana kesan Wapres menyaksikan Pacu Jalur Teluk Kuantan. Kata Gubernur, Wapres kelihatannya sangat terkesan. "Kalau meriah seperti ini, harusnya protokol saya bisa disusun lebih longgar," ujar Wapres sebagaimana dikutip Gubernur Rusli Zainal. Ini sinyal, Wapres barangkali akan datang lagi tahun depan?

Lomba Pacu Jalur tahun ini memang istimewa. Panitia boleh berpuas hati. Wapres tidak hanya datang beserta istri. Ikut dalam rombongan Wapres ini Mendagri M. Ma'ruf, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri Pertanian Anton Apriantono, Gubernur Lemhanas Prof Muladi, dan beberapa pejabat penting lainnya. Hatta Mustafa, mantan Ketua Umum DPP AMPI sebelum periode Agung Laksono, yang duduk di sebelah saya dalam bus yang membawa kami dari helipad ke arena pacu jalur, juga terkesima melihat antusiasme masyarakat. Keistimewaan Pacu Jalur tahun ini tidak hanya pada kehadiran Wapres beserta beberapa orang Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, tapi juga karena keikutsertaan pendayung dari Sumatera Selatan dan pendayung dari negeri jiran, Malaysia. Mereka menggunakan jalur yang disewa dari masyarakat setempat.

Lomba Pacu Jalur Teluk Kuantan ini memang unik. Sebagaimana diuraikan dalam kaflet, Pacu Jalur merupakan hasil karya budaya masyarakat yang memiliki ciri-ciri dan nilai-nilai tersendiri yang sudah berurat berakar sejak lama dalam kehidupan masyarakat Kuantan Singingi. Tradisi itu sampai saat ini masih tetap terpelihara dan dilestarikan. Pacu jalur dalam wujudnya merupakan produk budaya dan karya seni tempatan yang khas, sebagai perpaduan unsur olah raga, olah seni dan olah batin. Sebagai olah raga, pacu jalur merupakan adu kekuatan, kekompakan, ketangkasan, keterampilan dan sportivitas. Sebagai olah seni pacu jalur merupakan perpaduan keindahan seni ukir, musik dan tari. Sebagai olah batin perlombaan itu sarat dengan muatan magis yang merupakan lambang spiritual masyarakat Kuantan Singingi. Masyarakat Kuantan telah mengenal pacu jalur sejak lama, sejak sekitar tahun 1900. Dan semenjak mulai diperlombakan pada tahun 1903, Tepian Narosa memang selalu menjadi arena puncak Pacu Jalur.

Tidak banyak daerah di Indonesia yang memiliki perlombaan dengan akar budaya yang demikian kuat seperti Pacu Jalur. Kini, dengan kehadiran Wapres dan sejumlah Menteri kabinet, Lomba Pacu jalur menjadi lebih bergengsi. Tapi hal ini bukan tanpa konsekwensi. Seluruh lapisan masyarakat bersama pemerintah kabupaten dan provinsi kini perlu melakukan evaluasi, menyegarkan kembali komitmen untuk menjadikan lomba Pacu Jalur tetap menjadi sebuah lomba tradisional tetapi dikelola secara profesional dengan cita rasa modern. Pacu jalur harus dibuat lebih atraktif. Para pen-gunjung yang menyaksikan perlombaan harus dimanjakan dengan fasilitas yang memadai. Kebersihan, keindahan, kemudahan harus menjadi prioritas. Batang Kuantan, terutama di wilayah Tepian Narosa harus bebas dari WC umum, sebagai gantinya pemerintah harus membangun WC dan kamar mandi umum yang bersih dalam jumlah yang cukup dan mendidik cleaning service yang handal. Bangunlah beberapa musholla yang bersih dan representatif, bangun pula beberapa menara air bersih. Arena lepian Narosa harus menjadi taman kota yang indah dengan trotoar yang nyaman bagi pejalan kaki.

Momentum kedatangan Wapres Jusuf Kalla harus dipergunakan untuk menata ulang pengembangan Tepian Narosa. Menurut hemat saya sekarang saat yang tepat untuk mengundang konsultan handal, bagaimana merencanakan atau mendesign ulang Tepian Narosa. Design yang indah dan modern perlu untuk mengantisipasi para pengunjung yang setiap tahun semakin membludak, dan mengantisipasi kemajuan zaman, yang menuntut pelayanan dan fasilitas prima, tapi tetap dalam identitas tradisional.

Kita ingin beberapa tahun ke depan, Pacu Jalur Tradisional Teluk Kuantan menjadi perlombaan nasional yang pantas dibanggakan tidak hanya karena Pacu Jalur ini sudah menjadi bagian dari jiwa masyarakat rantau Kuantan, tetapi karena fasilitas dan peny-elenggaraannya sempurna. Bupati Kuansing H Sukarmis tentu ingin mendatangkan Presiden suatu saat nanti.

Pada bagian lain masyarakat Teluk Kuantan umumnya dan masyarakat di sekitar Tepian Narosa khususnya perlu diberdayakan agar memiliki persepsi bahwa Pacu Jalur ini merupakan ayam bertelur emas yang harus dipelihara baik-baik. Masyarakat harus mendapatkan nilai tambah secara ekonomis dari Lomba Pacu Jalur ini dengan membangun home stay, industri kerajinan, industri makanan dan sebagainya. Pemerintah Provinsi dan khususnya Kabupaten Kuantan Singingi harus memberikan bimbingan kepada masyarakat, tidak boleh kenal lelah. Ruas jalan Pekanbaru - Teluk Kuantan idealnya diperlebar dan dipermulus. Pada jarak-jarak tertentu, pengusaha rumah makan dibantu membangun tempat peristirahatan yang bersih dan representatif seperti tempat peristirahatan lebuh raya Melaka - Kuala Lumpur.

Kalau upaya pembenahan terencana tidak dilakukan dari seka-rang maka pesona Tepian Narosa lambat laun akan luntur, bahkan bukan tidak mungkin Tepian Narosa dan sekitarnya akan menjadi wiiayah yang kumuh, jorok, menjadi tontonan yang murahan dan tidak lagi memiliki nilai jual.


(Tabloid MENTARI No.244/Th V/29 Agustus - 7 September 2006)

12) Maelo Jalur, tradisi di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Batang kayu yang sudah ditebang dan dipahat di hutan untuk menjadi sebuah jalur (perahu) ditarik beramai-ramai ke sungai Batang Kuantan.


Tulisan ini sudah di baca 165 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/398-Pesona-Tepian-Narosa.html