drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 1

Mata Duitan


Oleh : drh.chaidir, MM

Duit itu memang syetan, tak ada duit orang jadi syetan, banyak duit orang kesyetanan, lupa daratan. Duit bisa membuat orang bermata gelap atau silap mata, bisa membuat orang bermata hijau, membuat orang rela menjadi mata-mata, juga bisa membuat orang mata duitan. Duit bisa memicu perang saudara, perang antar negara, bisa meruntuhkan rumah tangga, duit juga bisa menghancurkan generasi muda dengan narkoba, bisa membuat orang jadi tersangka bahkan terpidana, tapi duit juga bisa membuat orang menang pilkada, dan last but not least duit juga bisa membuat orang menjadi gila.

Duit bisa membuat orang menjadi terkemuka, tapi duit juga bisa membuat orang kehilangan muka. Coba lihat, berapa banyak pemuka-pemuka yang kehilangan muka.

Duit sangat dibutuhkan dalam kehidupan modern, duit menjadi tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Tidak hanya orang hidup, orang yang sudah mati pun terpaksa dikenakan uang kubur. Duit menjadi sesuatu yang maha penting, tanpa duit orang tak bisa lagi makan dan minum, bahkan hidup secara layak dengan sandang dan papan yang baik. Oleh karenanya segala macam upaya dilakukan untuk menghasilkan duit. Adakalanya bahkan dengan menghalalkan segala macam cara. Akibat persepsi yang sedemikian rupa, maka duit sangat akrab dengan segala sesuatu yang berbau illegal. Korupsi, kolusi, pencurian, perampokan, penipuan, pemalsuan, pelacuran adalah dunia kelam yang inheren dengan duit.

Berbagai bentuk label yang menggunakan atribut illegal pun tak bisa dipisahkan dari upaya untuk pengumpulkan duit atau uang secara tidak sah. Ada illegal fishing, illegal logging, illegal oiling (oil smuggling), illegal mining, dan sebagainya. Kenapa uang akrab dengan sesuatu yang berbau illegal? Sebab, dengan cara legal atau cara yang halal, orang tidak bisa kaya mendadak, kecuali menang lotre atau menemukan harta karun seperti Ali Baba. Seseorang, misalnya, hanya memperoleh gaji satu juta rupiah sebulan, tapi dengan cara tidak halal, nyerempet-nyerempet bahaya - vivere pericoloso, pendapatan itu bisa berlipat ganda. "Bung," kata seorang kawan bergurau, "yang haram sudah tinggal sedikit, apalagi yang halal." Pendapat seperti itu tentulah ajaran sesat. Tapi sebuah adagium, "more risk more money," (semakin besar bahayanya, semakin besar pula onggok duitnya), tidak seluruhnya salah. Orang yang tidak berani ambil risiko, dalam perniagaan misalnya, tak akan pernah dapat untung besar.

Tapi, "more risk more money," agaknya diterjemahkan secara berbeda oleh apa yang kita kenal sebagai kelompok mafia atau gangster, atau penjahat "kampak merah," atau kelompok "kolor ijo." Bagi kelompok-kelompok ini, semakin nekad semakin hebat, semakin sadis semakin besar upetinya.

Istilah mafia yang semula dikenal di pulau Sisilia, Italia, itu pun kemudian melintasi benua dan mengharungi samudra, sampai pula ke nusantara. Maka kita pun mengenal ada mafia tenaga kerja, ada mafia judi, ada pula mafia peradilan, mafia kayu, dan sebagainya. Dalam bidang lain yang bersanak famili dengan mafia, ada pula yang disebut ninja, ada ninja sawit, ninja politik, ninja proyek, dsb. Dalam bidang anggaran, dikenal pula istilah calo anggaran. Secara substansi, entah yang namanya mafia, entah kolor ijo, entah ninja, entah calo, sama saja, semuanya "UUD" (Ujung-Ujungnya Duit), akhirnya memang berputar-putar di seputar itu juga, maka betullah kata orang Medan, "hepeng na mangatur negara on" (duit yang mengatur negara ini).

Semua sudut kehidupan tidak bisa dipisahkan dengan uang. Politik misalnya, ada uangnya, namanya "money politic" bahkan makhluk halus siluman pun ada uangnya, namanya uang siluman. Ada uang panas, itu artinya uang pinjaman dengan bunga tinggi, ada uang pelicin atau uang stempel, itu uang korupsi. Tapi ada juga uang biaya kenakalan orang tua, namanya "uang lanang" (uang laki-laki). Uang laki-laki biasanya disimpan dalam kaos kaki atau ditinggal di kantor dalam laci. (Ini juga bagian dari ajaran sesat.ha.. ha..ha...Namun demikian yang konotasmya baik juga tidak sedikit, ada uang pakaian, uang makan, uang lauk-pauk, uang lembur, uang jajan, uang duka, uang asuransi, uang kebersihan, uang beras dan sebagainya.

Uang sesungguhnya adalah sebuah kesepakatan, sama dengan kesepakatan untuk memberikan tanda kepada waktu, seperti sehari ditetapkan 12 jam. Coba dari dulu ditetapkan 10 jam, maka sampai sekarang kita akan menyebut satu hari adalah 10 jam. Demikian juga uang. Dalam masyarakat maju, uang berarti segala sesuatu yang biasanya digunakan dan diterima secara umum sebagai alat penukar atau standar pengukur nilai, standar daya beli, standar utang, juga sebagai garansi penanggung utang. Dalam dunia modern, mata uang dikeluarkan pemerintah suatu negara berupa kertas, perak, emas atau logam lain yang dicetak dengan bentuk dan gambar tertentu.

Tidak jelas betul kapan budaya uang sebagai nilai tukar dikenal dalam peradaban manusia. Dahulu kala, di zaman batu, alat tukar itu adalah berupa kerang, kacang, manik-manik dan batu-batuan. Dalam perkembangannya, alat tukar itu berganti dengan logam karena lebih mudah menggunakannya, lebih mudah menyimpan dan lebih tahan lama. Uang coin pertama ternyata dibuat di Kerajaan Lydia (di kawasan barat Asia Kecil) tahun 700 SM, terbuat dari emas dan perak. Negeri ini terkenal sebagai kerajaan yang kaya dan makmur, sampai kemudian ditaklukkan oleh Croesus dari Persia tahun 546 SM. Yang mengejutkan, uang kertas pertama dibuat oleh China pada abad ke-7. Maka agaknya tidak heran kalau apresiasi etnis China terhadap uang ini memang luar biasa. Namun sistem nilai tukar dengan uang kertas ini rupanya lambat sekali perkembangannya. Eropa baru mengembangkannya pada abad ke-17.

Beberapa pekan terakhir ini, saya disibukkan dengan pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPED) Riau Tahun Anggaran 2006. Bersama Panitia Anggaran DPRD Riau dan Tim Anggaran Eksekutif (Pemprov Riau), kami bergulat angka demi angka dalam jumlah triliunan rupiah. Semuanya uang, tapi tentu hanya di atas kertas buku-buku tebal, buku bujur dan buku lintang. Kegiatan itu diliput dan diberitakan oleh media massa secara luas karena pembahasannya memang terbuka untuk umum.

Bagi DPRD dan pemerintah daerah, proses penyusunan dan pembahasan Rancangan APBD, adalah penjabaran program tahunan dalam kegiatan-kegiatan dan angka-angka. Namun demikian APBD tidak dapat dipandang semata-mata sebagai proses penetapan angka-angka dan pemenuhan kepentingan pemerintahan jangka pendek. Sebaliknya APBD justru digunakan untuk mewujudkan visi dan misi daerah dalam jangka menengah dan jangka panjang. APBD akan menggerakkan perekonomian daerah, oleh karenanya penetapannya selalu ditunggu oleh banyak pihak.

Satu hal yang kadang kala terlupakan adalah, uang yang dipergunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan dalam ABPD tersebut adalah uang rakyat, yang dikumpulkan dari pajak yang mereka bayar, oleh karenanya rakyat berhak tahu bagaimana anggaran dikelola dan diawasi oleh DPRD. Masyarakat berhak tahu ke mana, bagaimana dan untuk apa dana tersebut digunakan.

Merencanakan belanja ternyata tak sederhana. Banyak uang bingung tak ada uang linglung. Dalam era otonomi daerah sekarang, masyarakat berhak bermanja-manja pada pemerintahnya, pemerintah pun berkeinginan memuaskan semua. Tapi itu tentu tidak mungkin. Pada kondisi ini berlakulah prinsip prioritas yang seringkali amat sulit dipahami bahkan oleh Anggota Dewan sendiri.Betullah kata orang, "...Ada uang abang sayang.

(Tabloid MENTARI No.229/Th V/20-26 Maret 2006)


Tulisan ini sudah di baca 131 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/397-Mata-Duitan.html