drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 1

Bongkar Pasang


Oleh : drh.chaidir, MM

Bongkar pasang, baik itu sebuah mesin, pertanda ada masalah, paling tidak, ada nuansa ketidakpuasan. Bila ia mesin dari sebuah kendaraan, berarti sang kendaraan tidak lagi seperti diharapkan, dengan kata lain: ngadat. Di jalan datar dia tersendat-sendat, di lampu merah dia terbatuk-batuk, di pendakian tak bertenaga. Mesin cepat panas, bila dimatikan susah menghidupkannya kembali, atau, sudah dimatikan tapi tak mati-mati. Maka, mesinnya harus dibongkar, diganti onderdilnya, kemudian di pasang kembali. Bahwa ketika kemudian mesin sudah terpasang ternyata masih ada baut yang tertinggal, itu nasib sang bautlah namanya, akibat ulah mekanik dia tak lagi ketemu dengan mur. Pada bengkel yang belum computerize hal itu biasa terjadi. Setelah dibongkar dan dipa-sang kembali, diharapkan kendaraan dapat digunakan sebagaimana diharapkan.

Bila itu sebuah mesin pabrik, setelah bongkar pasang, kapasitas diharapkan bisa optimal, dan pabrik bisa berproduksi sebagaimana mestinya, menghasilkan produk sesuai kewajiban. Bila menyangkut sebuah kesebelasan sepakbola, bongkar pasang berarti masih dalam tahap mempersiapkan sebuah tim inti yang tangguh. Beberapa pemain dikeluarkan diganti dengan pemain baru. Atau beberapa pemain digeser posisinya, dari semula gelandang bertahan, dipasang menjadi gelandang penyerang, atau sebaliknya. Dari semula penyerang tengah, digeser ke sayap, dan seterusnya. Bongkar pasang bisa dimaklumi ketika uji coba, tetapi tidak terpuji bila itu dilakukan sang pelatih dalam pertandingan yang sesungguhnya. Kecuali memang, bila menggunakan jurus pendekar mabuk.

Bongkar pasang memiliki konotasi negatif. Imej yang terbentuk, bila mesin sudah bongkar pasang alamatlah kening akan selalu berkerut, sebentar-sebentar masuk bengkel, sebentar-sebentar turun mesin. Dan bilamana menyangkut tim sepakbola, bongkar pasang berkonotasi, kesebelasan itu tidak siap tempur, karena masih mencari-cari pemain yang siap dan cocok untuk suatu posisi atau strategi yang menjadi favorit pelatih. Kalau strategi yang dipilih adalah catenaccio, maka pemain yang dipilih tentu pemain yang kokoh dalam bertahan. Sebaliknya, bila yang menjadi favorit pelatih adalah total football, maka pemain yang dipilih tentu pemain yang serba-bisa dan agresif dengan stamina pilih landing.

Tapi reshuffle kabinet tidak sama dengan bongkar pasang mesin atau bongkar pasang pemain, karena kabinet bukan mesin dan bukan pula tim sepak bola. Kabinet adalah suatu badan atau dewan pemerintahan yang menjalankan tugas-tugas eksekutif terdiri atas para menteri. Dalam sistim presidensial yang kita anut, menteri bertanggungjawab kepada presiden dan mereka merupakan pembantu presiden. Menteri-menteri dalam kabinet presidensial dipilih menurut kebijakan presiden tanpa menghiraukan tuntutan partai-partai politik. Apalagi sekarang presiden dipilih langsung oleh rakyat. Sebagai tokoh yang mendapat mandat penuh dari rakyat untuk menjadi nakhoda, presiden mestinya pede (percaya diri), tak perlu ragu-ragu memilih pembantu, yang penting memiliki kapasitas dan harus kredibel.

Presiden memiliki hak prerogatif untuk memilih menteri yang akan membantunya menjalankan program dan roda pemerintahan. Oleh karena itulah partai-partai politik tidak bisa menuntut terlalu jauh kepada presiden agar diberikan jatah menteri. Apalagi sampai mengaitkan komposisi menteri dengan perimbangan suara di parlemen. Tidak ada hubungan komposisi asal parpol menteri-menteri dengan komposisi kursi di parlemen. Parpol tertentu boleh saja menguasai parlemen, tetapi dalam sistim kabinet presidensial kita, presiden tak tunduk dan tak bertanggung jawab kepada parlemen. Tetapi di sisi lain, presiden tentu tidak akan mengabaikan demikian saja logika dan realitas politik, namun itu bukan merupakan keharusan baginya.

Reshuffle memang sepenuhnya menjadi hak presiden. Sebagai pemimpin eksekutif dan orang yang paling bertanggungjawab daiam menjalankan roda pemerintahan dan mensejahterakan rakyatnya, presiden tentu berhak melakukan evaluasi. Kalau kinerja kabinet tidak sesuai harapan presiden, prestasi tim tidak sebagaimana diharapkan, tentulah ada sesuatu yang salah. Dan sesuatu yang salah itu perlu diidentifikasi untuk mengetahui kadar kelemahan dan sekaligus dicarikan solusinnya. Dari sudut pandang politik, reshuffle adalah upaya reorganisasi atau bisa juga redistribusi kekuasaan, tapi dari aspek unit organisasi, maka mesin mobil, mesin pabrik, tim sepakbola atau kabinet, hakikatnya sama saja, reshuffle adalah bongkar pasang. Organisasi memerlukan sinkronisasi dan sinergi antara satu elemen dengan elemen lain, antara satu komponen dengan komponen lainnya agar berdaya guna dan memberikan hasil guna yang maksimal.

Namun sebagaimana kita ikuti di media massa, reshuffle senantiasa menjadi perdebatan, apakah itu terapi yang tepat untuk mengatasi masalah atau tidak. Apakah itu satu-satunya jalan. Dan kalau dilakukan, apakah penggantinya orang yang tepat atau tidak. Dalam logika sederhana saja, kondisi setelah reshuffle memang haruslah lebih baik daripada sebelumnya. Bila sama saja maka kita akan merugi, dan apabila lebih buruk, itu berarti musibah.

Reshuffle memang berada dalam dua isu menarik, yakni antara kebutuhan dan desakan opini. Dan keduanya kelihatannya tidak bisa hitam putih, keduanya berkait kelindan. Namun setidaknya isu reshuffle itu sendiri telah menyita banyak energi, justru di saat bangsa kita dihadapkan dengan berbagai macam masalah. Atas nama reformasi dan perubahan kita seringkali tidak peduli dan saling menghancurkan. Bila kita menengok bilik sejarah, Presiden Soeharto yang memimpin kabinet presidensial selama enam periode tidak pernah melakukan reshuffle. Barangkali karena ketika itu reshuffle bukan merupakan prioritas atau mungkin ada cara lain untuk menutupi sisi lemah dari anggota kabinetnya.

Masyarakat kini menunggu apakah ini reshuffle kabinet (baca: redistribusi kekuasaan) yang diharapkan membawa perbaikan atau hanya sekedar bongkar pasang yang membawa konotasi negatif Siapapun, akan mendapat kesan reshuffle ini sarat dengan muatan politik. Rakyat kita sudah letih dengan agenda politik yang tak habis-habisnya. Rakyat menunggu perbaikan hidup.

Tiba-tiba saja saya teringat kisah Nasruddin Hoja. Suatu hari Nasruddin Hoja diminta menjadi khatib. Kedatangannya disambut dgn kehormatan, dan baginya disediakan pula kursi khatib yang indah. Namun demikian, setelah duduk beberapa lama di kursi khatib, Nasruddin tak berbicara sepatahpun, meski sebelumnya ia adalah orang yang pintar. Lama menunggu membuat jemaah menjadi kesal. Akhirnya Nasruddin berkata: "Amma ba'du, Saudara-saudara, anda tahu, saya paling tidak bisa bicara sambil duduk di kursi yang seperti ini. Banyak yang ingin saya katakan, tapi sedikit pun tidak ada kata-kata yang terlintas dalam pikiran saya."

Mendengar itu, anaknya yang duduk di lantai berdiri dan mendekatinya. Lalu anaknya berbisik, "Ayah, kalau memang tidak ada kata-kata yang terlintas dalam pikiran ayah, apakah juga tidak terlintas dalam pikiran ayah untuk segera turun dari kursi ini?"

Nasruddin Hoja agaknya tidak sendiri, tetapi semogalah tidak di negeri ini.


(Tabloid MENTARI No.220/Th V/12-18 Desember 2005)


Tulisan ini sudah di baca 153 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/396-Bongkar-Pasang.html