drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 1

TepianNarosa


Oleh : drh.chaidir, MM

Sejenak lupakan kemiskinan dan kebodohan. Lupakan juga penyakit malaria, demam berdarah atau busung lapar, atau kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM). Lupakanlah juga rupiah yang melemah, atau tuntutan sumpah setia untuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pasca memorandum perdamaian, atau proyek multi years yang mulai menuai badai. Lalu? Datanglah ke Tepian Narosa, di Tepian Narosa tidak ada permasalahan itu semua. Di Tepian Narosa matahari seakan enggan tenggelam. Bila pun akhirnya sang surya tak kuasa melawan kehendak alam, maka di malam hari pun purnama selalu tersenyum mengambang. Di Tepian Narosa pendek kata hanya ada satu rumus: bersuka-ria!!

Jauhkah Tepian Narosa di Venezia sana, atau di Granada, atau di Venezuela, atau barangkali di sekitar pantai Kuta, di Bali? Tidak. Namanya memang berbau Latin, tapi tidak ada hubungan sanak saudara dengan negara-negara Amerika Latin, dengan Italia pun tidak. Tepian Narosa ada di negeri kita, di Riau, Bumi Lancang Kuning8), rantau bertuah, kira-kira 150 km dari Pekanbaru ke arah selatan. Tepatnya di Teluk Kuantan ibukota Kabupaten Kuantan Singingi (bukan Senggigi sebagaimana sering disalah-ucapkan oleh orang-orang Jakarta karena mirip dengan nama pantai di Pulau Lombok). Dengan kendaraan roda empat, Tepian Narosa dapat dicapai dalam perjalanan sekitar tiga jam dari Pekanbaru.

Tepian Narosa adalah arena pacu jalur 9) yang terletak di tengah kota, di tepi Sungai Kuantan yang membelah kota Teluk Kuantan. Di Tepian Narosa itulah setiap tahun sampai sekarang, bermula lebih dari seabad yang lampau, berlangsung tradisi perlombaan pacu jalur. Jalur adalah sejenis sampan panjang terbuat dari satu batang pohon utuh yang dipahat. Satu jalur memuat 50-60 orang pendayung.

Lomba tradisi pacu jalur ini rasanya tak akan tertandingi oleh perlombaan sejenis manapun, sebab lomba ini bukan kreasi pemerintah walaupun kemudian pemerintah memberikan dukungan. Lomba pacu jalur tradisional ini merupakan hasil karya budaya masyarakat yang memiliki ciri-ciri dan nilai-nilai tersendiri yang berurat berakar sejak lama dalam kehidupan masyarakat Kauntan Singingi dan sampai saat ini masih tetap dipelihara dan dilestarikan. Pacu jalur dalam wujudnya merupakan produk budaya dan karya seni tempatan yang unik, sebagai perpaduan unsur olah raga, olah seni dan olah batin. Sebagai olah raga, pacu jalur merupakan adu kekuatan, ketangkasan, keterampilan dan sportivitas. Sebagai olah seni pacu jalur merupakan perpaduan keindahan seni ukir, musik dan tari. Sebagai olah batin perlombaan itu sarat dengan muatan magis yang merupakan lambang spiritual masyarakat Kuantan Singingi.

Masyarakat Kuantan Singingi telah mengenal pacu jalur sejak lama, sejak sekitar tahun 1900. Pada mulanya jalur itu sendiri dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai sarana transportasi untuk mengangkut hasil bumi atau hasil hutan.

Jalur ini populer di Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, diperlombakan setiap tahun. Pada awalnya jalur tersebut tidaklah seindah jalur sekarang yang diperkaya dengan ukiran-ukiran dan beraneka ragam asesoris. Di zaman penjajahan Belanda dulu, pacu jalur konon dimanfaatkan Belanda untuk memeriahkan hari ulang tahun ratu mereka, Ratu Wilhelmina.

Kendati sebagian besar mempertandingkan jalur antar kampung, lomba pacu jalur tradisional Teluk Kuantan ini sudah masuk dalam Kalender Wisata Budaya Nasional. Namun sesungguhnya, dengan atau tanpa ukuran formalitas seperti itu pun Lomba Pacu Jalur Tradisional Teluk Kuantan ini tetap merupakan sebuah perlombaan raksasa.

Bayangkan saja. Jalur yang ikut berlomba tahun ini berjumlah 160 buah jalur. Dengan atlit dayung sebanyak rata-rata 50 atlit saja per jalur (umumnya per jalur berkisar antara 45 - 60 orang) berarti ada 8.000 atlit yang ikut berlomba. Itu baru jumlah atlitnya. Kalau masing-masing atlit membawa tiga orang supporter, berarti ada 24.000 supporter langsung. Hebatnya, masing-masing jalur membawa orang sekampung untuk ikut memberikan semangat, sebab seisi kampung seakan telah menitipkan jiwa raganya pada jalur kebanggaan mereka. Oleh karenanya tidak heran setiap tahun ratusan ribu orang memadati Tepian Narosa.

Bagi masyarakat Kuantan Singingi lomba pacu jalur merupakan puncak dari segala kegiatan, segala upaya, dan segala cucuran keringat yang mereka keluarkan untuk mencari kehidupan selama setahun. Dari hari ke hari mereka tidak sabar menunggu lomba pacu jalur berikutnya. Oleh karena itulah ketika lomba dimulai pada tanggal 23 Agustus setiap tahun (dalam beberapa tahun terakhir, tanggal ini sudah menjadi jadwal tetap), kampung-kampung menjadi lengang, semua tumpah ruah ke gelanggang Tepian Narosa, laki-perempuan, tua-muda, besar-kecil, tak peduli. Demikian dahsyatnya tarikan magis lomba pacu jalur ini, konon dari cerita rakyat yang berkembang, suami-isteri bisa bercerai bila salah satu dari pasangannya menolak berangkat ke Tepian Narosa. Pendek kata, di bulan Agustus, hanya ada satu agenda: lomba pacu jalur. Yang lain ketepikan.

Lomba pacu jalur tradisional ini telah menjadi modal dasar pembangunan yang paling dahsyat bagi rantau Kuantan Singingi. Atas nama kemeriahan lomba pacu jalur, masyarakat rela melakukan apa saja yang sifatnya positif. Lomba pacu jalur merupakan icon masyarakat Kuantan Singingi. Dengan mengusung icon pacu jalur, pemerintah daerah bisa menggerakkan kebersamaan masyarakat (societal cohesiveness) untuk membangun negeri. Pembangunan men-jadi sebuah optimisme kolektif. Pekerjaan yang paling susah dalam manajemen pembangunan agaknya adalah menggerakkan masyarakat untuk menumbuhkan partisipasi. Tumbuhnya partisipasi akan menumbunkan pula rasa memiliki, tumbuhnya rasa memiliki akan menumbuhkan rasa ikut bertanggungjawab untuk menikmati dan memelihara hasil pembangunan itu sendiri. Di Kuantan Singingi, hal itu kelihatan menjadi mudah.

Dari aspek bisnis pariwisata, lomba pacu jalur tradisional Teluk Kuantan merupakan sebuah peluang yang sangat besar. Namun kelihatannya dari tahun ke tahun peluang ini belum tergarap secara optimal. Masyarakat setempat masih memposisikan diri sebagai konsumen pacu jalur, belum melihat itu sebagai sebuah peluang, misalnya sebagai produsen yang siap menjual berbagai komoditi hasil pertanian dan industri kerajinan rakyat berupa souvenir, dan lain-lain.

Peran pemerintah daerah yang memiliki fungsi pengaturan, pemberdayaan dan pelayanan, masih terkonsentrasi bagaimana mencari donasi guna suksesnya acara dan mempersiapkan acara-acara seremonial dengan menghadirkan petinggi-petinggi dari Jakarta dan Pekanbaru. Dari sudut gengsi pemerintah daerah dan masyarakat, barangkali benar kehadiran petinggi-petinggi tersebut penting. Tetapi acara-acara seremonial tersebut justru memerlukan biaya yang sangat besar.

Ke depan, lomba pacu jalur ini harus disosialisasikan sebagai lomba tradisional yang dikelola secara profesional dengan cita-rasa modern. Pacu jalur harus dibuat menjadi lebih atraktif. Masyarakat dan pengunjung harus dimanjakan. Untuk itu beberapa aspek perlu diperhatikan, antara lain sungai harus bersih dari WC umum. WC umum harus dibangun di darat dalam jumlah yang memadai. Dengan demikian pinggiran sungai hanya diisi dengan tribune. Bangun beberapa musholla yang bersih. Bangun menara-menara air bersih. Kemudian beri kemudahan dengan membangun trotoar-trotoar cantik dan indah untuk pejalan kaki. Tempat pembuangan sampah disediakan dalam jumlah yang memadai. Posko-posko kesehatan harus didirikan untuk P3K. Penduduk di sekitar Tepian Narosa dibantu membangun kamar-kamar untuk home-stay10) yang bernuansa asli tetapi bersih dan comfort. Harus ada speed boat penyelamat, disamping mengantisipasi segala kemungkinan, speed boat ini juga berfungsi sebagai P3K terapung, dan memberikan kesan profesional. Prinsipnya, setahap demi setahap pacu jalur harus ditata menjadi "BERIMAN" (bersih, indah, mudah dan aman). Masterplan pengembangan Tepian Narosa menurut saya mendesak untuk mengantisipasi kemajuan, perkembangan cita-rasa dan semakin membludaknya pengunjung. Kalau tidak, kawasan Tepian Narosa dan sekitarnya nanti akan menjadi jorok, menjadi tontonan murahan dan tidak lagi memiliki nilai jual.

Kawasan Tepian Narosa adalah ayam bertelur emas bagi Kauntan Singingi, jangan sembelih ayam itu, pelihara baik-baik.


(Tabloid MENTARI No.208/Th IV/22-28 Agustus 2005)

8) Lancang Kuning, perahu kerajaan dalam legenda Melayu.
9) Jalur, perahu tradisional panjang lebih kurang 25 meter, terbuat dari satu batang kayu utuh yang dipahat.
10) homestay, bahasa Inggris, rumah inap dengan tarif murah, dengan konsep pendekatan kekeluargaan.


Tulisan ini sudah di baca 112 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/394-TepianNarosa.html