drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 1

Negeri Pantun


Oleh : drh.chaidir, MM

Perkenalan saya dengan Tuan Fitz Gerald, Managing Director PT Caltex Pacific Indonesia (sekarang PT Chevron Pacific Indonesia) tidak berlangsung lama, karena dia segera pensiun dan kembali ke kampung halamannya di Houston, Amerika Serikat. Tapi ada yang berkesan dan tak terlupakan, kendati bahasa Indonesianya patah-patah seperti goyangan penyanyi dangdut Anissa Bahar, Fitz Gerald gemar berpantun.

Dalam acara perpisahan di Rumbai Club House, pada suatu malam beberapa tahun lalu, dia menutup pidatonya dengan pantun. "Sebagai penutup, saya akan membacakan dua setengah bait pantun", katanya berkelakar. Hadirin tentu saja tertawa. Tapi Fitz Gerald dengan mimik serius kemudian melanjutkan, "Pantun pertama", katanya,

"Kalau ada jarum yang patah
jangan disimpan di dalam peti
kalau ada kata yang salah
jangan disimpan di dalam hati."


Fitz Gerald tentu saja mendapat aplaus. "Pantun kedua", lanjutnya,

"Kalau ada sumur di lading
bolehlah saya menumpang mandi
kalau ada umur yang panjang
bolehlah kita berjumpa lagi."


Dua pantun itu sesungguhnya adalah pantun pusaka. Lalu pantun yang setengahnya?

"Sungai Rokan
Sungai Siak
Sungai Kampar
Sungai Indragiri
Itulah nama-nama sungai di Riau."


Pantun setengah yang jenaka dari Fitz Gerald ini disambut dengan tawa ria. Fitz Gerald tentu saja bercanda dengan pantun setengah itu, tapi dengan pantun dia secara cerdas telah berhasil melakukan "ice breaking" (mencairkan kebekuan suasana) sehingga pesta perpisahan itu menjadi penuh canda. Bagi saya peristiwa itu selalu terkenang. Bahwa seorang bule bisa bergurau dengan pantun dan menggunakan pantun sebagai alat komunikasi yang ampuh dalam menunjukkan empatinya, itu luar biasa.

Tapi Fitz Gerald bukan bule pertama yang jatuh cinta dengan pantun. Jauh sebelumnya, tepatnya pada tahun 1868, Prof H.C. Klinkert dari Belanda telah membuat sebuah karangan yang berjudul "de Pantuns of Minnezangen der Maleiers" artinya kira-kira, Pantun atau Nyanyian Orang Melayu.

Berkasih-kasihan. Pada 1883 Prof Pynappel mengarang pula hal ikhwal pantun dalam sebuah penerbitan di Belanda. Dan puncak apresiasi barat terhadap pantun agaknya terjadi ketika Prof Ch.A.van Ophuysen, seorang guru besar bahasa Melayu di Leiden, menyampaikan pidato panjang lebar tentang perkara pantun Melayu sebagaimana ditulis dalam Prakata buku Pantun Melayu.

Setelah Presiden pertama RI, Ir Soekarno (Bung Karno), jatuh cinta pada tari Melayu dengan senantiasa menyuguhkan tari Serampang 12 di Istana Negara dalam jamuan-jamuan resmi kenegaraan, tidak ada lagi Presiden RI yang memberikan apresiasi terhadap kesenian Melayu, sebutlah Presiden Soeharto, Presiden BJ Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid, atau putri Bung Karno, Presiden Megawati Soekarnoputri. Barangkali bukan karena tidak suka, tetapi agaknya hanya karena kurang memiliki sense of art saja. Tapi kini, Presiden SBY memekarkan kembali bunga di taman.

Memang masih terlalu dini untuk membuat sebuah kesimpulan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) telah jatuh cinta pada kesenian Melayu sebagaimana Presiden Bung Karno, tetapi apa yang diperlihatkan oleh Presiden SBY ketika menghadiri puncak acara Hari Pers Nasional (HPN) di Gedung "Lancang Kuning" DPRD Riau pada 9 Februari 2005 lalu, telah menumbuhkan sebuah harapan baru, yang membuat hati berbunga-bunga. Tidak jujur bila komunitas Melayu tidak merasa bangga. Presiden SBY tidak hanya kelihatan gagah dan serasi berpakaian Melayu Teluk Belanga, didampingi Ibu Negara yang cantik dalam busana kebaya Melayu, tapi penampilan Presiden lengkap dengan pantunnya.

Presiden SBY jelas terlihat tidak hanya berbasa-basi membacakan pantun (yang biasanya disiapkan untuk seorang petinggi yang akan berpidato), Presiden memberikan pengantar bahwa pantun itu disiapkannya sendiri. Saya teringat, dua pekan sebelum acara tersebut, ketika bersama Gubernur Riau, HM Rusli Zainal, mendampingi Panitia Nasional HPN beraudiensi dengan Presiden SBY di Istana Negara. Presiden ketika itu mengatakan akan hadir dalam puncak acara HPN dengan pakaian Melayu dan akan mempersiapkan pantun. Dan kita sudah sama-sama lihat, pantun itu disampaikan Presiden SBY secara deklamasi dengan sangat impressif. Serangkai pantun itu pun diberi judul "Majulah Riau Majulah Negeriku". Dengarlah:

"Tanah Riau indah berseri
angin bertiup ke Indragiri
Kita berkumpul menyatukan hati
melangkah maju membangun negeri.

Di Istana Siak kristal berkilauan
lambang masa silam penuh kemegahan
Tiadalah kehidupan tanpa persoalan
kita hadapi dengan kebersamaan.

Tutur indah Gurindam Duabelas
elok tari Rentak Bulian.
Indonesia bukan untuk jang menyerah dan cemas
tapi bagi yang gigih dan terus maju ke depan.
Dari Dumai ke Pekanbaru
bayang legenda kerajaan Kuantan.
Majulah Riau majulah negeriku
di naungan Allah membawa harapan.


Pantun Presiden itu sarat dengan pesan dan hangat dengan sentuhan sebagaimana layaknya sebuah pantun. Oleh karenanya tidaklah berlebihan, pantun tersebut tidak hanya membawa kesan yang mendalam bagi komunitas Melayu khususnya di Riau, tetapi juga diharapkan akan menjadi kenangan bagi Presiden sendiri, dimanapun berada dan kapan pun. Kiranya pantun itu ada dalam back-mind Presiden.

Tidak bisa dipungkiri, Riau memang identik sebagai Negeri Pantun. Sudah menjadi kebiasaan dan adat istiadat bagi orang Melayu sejak dulu kala menggunakan pantun dalam memperkaya komunikasi dalam berbagai kegiatan kehidupan sosial, seperti majelis adat, perkawinan, atau majelis-majelis lain yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat, bahkan muda-mudi yang sedang dimabuk asmara. Oleh karenanya, agaknya tidaklah berlebihan bila tokoh nasional perempuan sekelas Mien Uno memesan pantun kepada isteri saya untuk keperluan acara pertunangan kerabatnya di Malaysia.

Pantun adalah bentuk puisi Indonesia yang berasal dari bumi Melayu, tiap bait biasanya terdiri dari empat baris yang bersajak A-B-A-B atau A-A-A-A. Baris pertama dan kedua merupakan sampkan, baris ketiga dan keempat merupakan isi. Cobalah lihat pantun-pantun di atas. Tetapi pantun juga bisa dua baris atau disebut pantun kilat. Contoh:

"Pinggan tak retak
nasi tak dingin
Tuan tak hendak kami tak ingin."


Dalam khasanah kesusastraan Indonesia, pantun merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam perkembangan perpuisian. Dalam berbagai teks sastra Indonesia, (khususnya puisi) kita dapat melihat bagaimana pantun memberikan kontribusi bagi pengucapan, yang terus berkembang dan waktu ke waktu. Salah satu tokoh Melayu yang dapat kita sebut dalam hal mengembangkan pantun adalah Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda pada abad ke-19. Sepanjang masa produktifnya Haji Ibrahim melakukan berbagai eksplorasi terhadap pantun, sehingga pantun memiliki peran besar sebagai media komunikasi atau alat ucap. Tidak hanya itu, dalam perkembangannya kemudian, banyak kisah-kisah atau cerita-cerita dengan latar belakang kebudayaan Melayu dibuat dalam bentuk pantun atau syair.

Dilihat dari isinya pantun sangat beraneka ragam, seperti pantun nasehat, pantun pembangkit semangat, pantun puji-pujian, juga ada pantun sindiran dan pantun jenaka. Salah satu pantun jenaka misalnya:

"Sejak limau jadi kedondong banyak puding dimakan ulat
Sejak harimau giginya ompong
Banyak kambing melawan bersilat."


Agaknya tepat Gubernur Riau Rusli Zainal menuliskan sambutannya dalam buku Tunjuk Ajar Dalam Pantun Melayu karangan budayawan Tenas Effendy, "Semakin kita mendalami pantun, semakin kita hanyut dalam keindahan dan kedalaman maknanya. Keindahan pantun bukan saja terletak pada pilihan kata serta susunan kalimatnya yang rancak, tetapi lebih dari itu adalah pada makna dan filosofi yang terkandung di dalamnya. Pantun tidak saja indah dilantunkan, tetapi juga memberikan pelajaran dan kearifan yang sangat berharga."
Maka, nyatakanlah sesuatu dengan pantun.

(Tabloid MENTARI No. 183/IV/21-27 Februari 2005)


Tulisan ini sudah di baca 386 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/390-Negeri-Pantun.html