drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 1

Hit and Love


Oleh : drh.chaidir, MM

BULAN Februari 2005, tidak kurang 2000 wartawan tumpah-ruah di Pekanbaru, Riau. Rrrrrrruar biasa. Rasanya belum pernah Pekanbaru .dibanjiri kuli disket seperti itu selama ini. Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) pun hadir. Ada tiga agenda yang mereka lakukan: Puncak Hari Pers Nasional (HPN), Pekan Olahraga Wartawan dan Konvensi Nasional Wartawan. Agaknya insan pers ini mencari tuah ke Pekanbaru. Bukankah Pekanbaru dijuluki Kota Bertuah? Presiden SBY pun mempersiapkan baju teluk belanga dan beberapa untai pantun.

Seberapa signifikankah agenda itu? Pada hemat saya, agenda ini penting bagi insan pers. Dan karena pers merupakan komponen penting dalam kehidupan bangsa kita, maka agenda itu memiliki dimensi strategis. Dan bagi Riau sendiri, sayang bila momentum ini tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Pers memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan bangsa kita. Mereka lebih dulu lahir. Jangankan dari Indonesia, dari dunia pun pers lebih dulu lahir. Setidaknya begitulah pemahaman seorang pakar politik Jerman Karl Klauss. "In the beginning was press and then the world appeared" Pers lebih dulu lahir daripada dunia, kata Klauss. Tuan Klauss agaknya berlebihan. Kalau demikianlah logikanya, berarti pers itu berasal dari dunia lain, pantaslah dia bisa masuk kemana saja, ketika orang lain tidak bisa masuk. Berarti pers itu sama dengan makhluk halus, dia bisa masuk ke lubang jarum tanpa hambatan, dia bisa menyentuh tapi tidak bisa disentuh. Dia berada dimana-mana walaupun tidak kemana-mana.

Tapi maksudnya tentulah tidak demikian. Tuan Klauss bukan dukun, dia hanya ingin mengekspresikan, pers itu lebih dulu tahu tentang segala sesuatu sebelum orang lain tahu. Ketika dunia masih lelap dalam tidurnya di peraduan, pers telah gentayangan merekam kejadian demi kejadian, menuliskan dan kemudian memberitakan. Esok hari ketika dunia terbangun dari sejuta mimpi, dia terkaget-kaget, matanya melotot melihat layar televisi, ada geiombang tsunami. Dunia kemudian menyambar koran di sana sudah ada berlembar-lembar tulisan, dan ada pula badai di kutub selatan. Ketika orang-orang belum berangkat, pers telah sampai di tempat. Pers tak ubahnya seperti kura-kura yang lebih dulu tiba di garis finish sebelum sang kancil tiba, padahal sang kancil demikian kencangnya berlari meninggalkan kura-kura di garis start.

Begitulah pers. Dia lebih dulu tahu ketika dunia belum tahu, sehingga wajar dan rasanya tidak salah bila disebut pers lebih dulu lahir dari dunia. Tanpa pers dunia memang tidak ada apa-apanya. Dunia tidak akan melihat dan mendengar apa-apa. Kehebatan pers ini diakui oleh Thomas Jefferson,1) sehingga pers disebut sebagai kekuatan keempat (the fourth estate). Demikian hebatnya kekuatan pers, dia bisa mendudukkan atau menjatuhkan seorang kepala negara; bukan dengan senjata, melainkan melalui pembentukan opini. Presiden Amerika Serikat Richard Nixon2) jatuh karena dihajar pemberitaan kasus water-gate. Presiden Filipina, Ferdinand Marcos3) diturunkan dari singgasananya oleh people power karena pemberitaan seputar penyalahgunaan kekuasaannya tidak lagi bisa dibendung. Revolusi Iran juga terjadi akibat pemberitaan negatif tentang sang Raja Diraja Shah Iran sudah tidak lagi bisa dikekang. Isterinya Farah Diba ternyata memiliki kekayaan yang tak terkira di Amerika. Padahal sebelumnya Iran di bawah Raja Diraja Shah Iran juga disebut oleh pers sebagai sebuah negeri yang menjunjung tinggi demokrasi.

Tidak usah jauh-jauh, di negeri kita tercinta ini, reformasi yang terjadi dan merubah total paradigma politik kita, adalah karena keran pers dibuka selebar-lebarnya oleh Prof BJ Habibie yang kala itu menjabat sebagai Presiden RI. Dahsyat gelombang tsunami, lebih dahsyat lagi gelombang keterbukaan yang dilakukan oleh pers seiring dengan keterbukaan itu, sehingga konon, Amerika Serikat sendiri terkejut melihat keterbukaan pers yang sangat luar biasa di Indonesia yang bahkan di negeri kampiun demokrasi itu sendiri tidaklah sampai sebebas itu.

Bila kita membalik bilik sejarah Melayu, Raja Ali Kelana melakukan perjalanan jurnalistik sebelum menjadi Yang Dipertuan Muda pada abad ke-19. Setelah melakukan perjalanan ke sekeliling negeri, Raja Ali Kelana membuat reportase hasil pertemuannya dengan masyarakat. Oleh karena itulah, untuk memberikan penghargaan kepada wartawan pilihan, di Riau ada Anugerah Jurnalistik Raja Ali Kelana.

Dan contoh yang cukup aktual adalah bagaimana Presiden SBY memenangkan opini media massa dalam proses pencalonannya sebagai presiden beberapa waktu lalu. Hampir semua media massa seakan memanjakan SBY dengan pemberitaan-pemberitaan yang kondusif.

Tapi kalau kemudian Presiden SBY terlihat akrab dengan pers, tentu bukanlah karena balas jasa. Paling tidak itu kesan saya ketika bersama Gubernur Riau HM Rusli Zainal dan Panitia Pusat Hari Pers Nasional (HPN) dan Porwanas beraudiensi dengan Presiden SBY di Istana Merdeka pada 20 Januari 2005 lalu. Menurut hemat saya, Presiden SBY memberikan apresiasi yang wajar kepada pers. Sebab pers dalam pandangan Presiden SBY adalah bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan demokrasi. Dalam kerangka pandangan seorang intelektual, presiden memposisikan pers sebagai mitra dinamis. Hubungan pers dan pemerintah adalah "hit and love", kata Presiden. Pers itu adakalanya dimarahi oleh penguasa, tapi tetap disayang. Demikian sebaliknya. Pers adakalanya marah pada penguasa karena pelit informasi, tapi mereka tetap sayang. Kedua-duanya benci tapi rindu. Hubungan pers dengan pemerintah, memang diposisikan dalam partnership yang unik. Dekat tapi jauh, jauh tapi dekat. Keduanya harus menjauhkan diri dari saling memperhambakan. Penguasa yang baik harus selalu memposisikan pers sebagai pihak yang independent, hanya mengabdi pada kepentingan rakyat.

Peran pers dalam kehidupan demokrasi memang sangat dominan. Kehidupan demokrasi memerlukan transparansi, saling kritik satu dengan lainnya dalam semangat membangun dan saling menghargai. Dan peran itu hanya akan berjalan dengan baik apabila diikuti dengan pers yang bebas dan profesional. Salah satu ciri kehidupan demokrasi yang baik pada negara maju adalah tegaknya pers yang dewasa. Pers seperti inilah yang menjadi dambaan kita, bukan pers yang menyebarkan kebencian seperti di zaman kolonial. Idealisme pers yang bebas dan profesional itu adalah pers yang membangkitkan harapan dan menumbuhkan kebanggaan, bukan pers yang selalu membangkitkan perasaan pecundang, merasa terpuruk dan merasa terpinggirkan.

Salah satu agenda penting rekan-rekan wartawan itu di Pekanbaru adalah Konvensi Nasional Wartawan. Dalam alam kebebasan tak bertepi seperti sekarang, tidak ada yang lebih tepat yang akan memberikan kritik terhadap peran insan pers itu kecuali insan pers itu sendiri. Saya kira otokritik adalah jawabannya.

(Tabloid MENTARI No.180/IV/31 Januari-6 Februari 2005)

1) Thomas Jefferson (1743-1826), Presiden ke-3 Amerika Serikat, memerintah pada 1801-1809.
2) Richard Milhous Nixon (1913-94), Presiden ke-37 Amerika Serikat, memerintah pada 1969-1974.
3) Ferdinand Edralin Marcos (1917-89), Presiden Filipina pada 1965-1986.


Tulisan ini sudah di baca 147 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/389-Hit-and-Love.html