drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 0

Sekapur Sirih Penulis


Oleh : drh.chaidir, MM

HARI berganti hari, pekan berganti pekan, bulan dan akhirnya zaman berganti zaman. Sang Burung Waktu (meminjam istilah sastrawan Melayu Allahyarham Idrus terus saja mengepakkan sayap tak henti, lagi dan lagi, dan belum ada tanda-tanda akan berhenti. Sang Burung Waktu senantiasa singgah dan dengan ramah menyapa siapa saja. Sebagian mengelu-elukannya dengan sedaya yang bisa diupayakan, namun sebagian menyia-nyiakan begitu saja sampai kemudian sesal yang tak berguna itu akhirnya tiba. Di beberapa sudut, banyak yang masih hidup dan mengaku hidup, tapi sebenarnya ia telah redup ditinggalkan oleh waktu.

Begitulah, kehidupan terus berlangsung dan terus mengusung segala macam tantangan sesuai zamannya. Tantangan sesuai zaman atau zaman sesuai tantangan, apa bedanya? Paradigma berkejar-kejaran ingin saling mendahului, membuat kita laksana berada selalu dalam suatu masa transisi. Demikian banyak peristiwa yang terjadi di sekeliling kita, susul-menyusul, timpa-menimpa, laksana ombak menepuk pantai yang tak pernah habis-habisnya. Begitulah selama alam masih terkembang. Suka duka, baik buruk silih berganti.

Namun selalu saja ada sisi-sisi sederhana dari sebuah masalah kompleks, atau sisi kompleks dari sebuah masalah sederhana yang luput dari indra. Kerap sebuah peristiwa tak ubahnya laksana gunung es, muncul sedikit saja ke permukaan, bagian terbesar justru berada di bawah permukaan laut, hening menunggu mangsa dan sering tak terduga.
Ketika masih kecil dan hidup di kaki bukit barisan, aku membayangkan kuala Sungai Rokan itu seperti air terjun mencurah ke laut. Kenyataan yang kutemui setelah dewasa, kuala itu berlumpur akibat sedimentasi sepanjang masa yang dibawa dari hulu, menyatu dengan laut. Sebaliknya, anak-anak negeri yang tinggal di kuala, barangkali juga tidak pernah membayangkan di hulu Sungai Rokan airnya berarus deras, penuh beting berbatu-batu besar dan berbahaya. Aku beruntung memiliki imajinasi itu, sebuah imajinasi tak terlarang dan tidak bisa dimasuki setiap orang. Peristiwa yang terjadi di sekitar, seringkali mendorongku untuk berpikir sesuatu, sesuatu yang melintas cepat, dan cepat pula berlalu. Peristiwa memunculkan cerita, kerapkali juga mimpi-mimpi dan imajinasi.

Sebuah peristiwa mengundang persepsi, dan persepsi itu kerap berbeda. Banyak peristiwa tentu banyak pula persepsi. Perbedaan persepsi itu banyak dipengaruhi oleh latar belakang pengalaman hidup, latar belakang budaya, adat isitiadat, pendidikan dan sebagainya. Pengalaman dan perjalanan hiduplah, juga ilmu pengetahuan dan suara hati yang mempertautkan persepsi itu menjadi -barangkali- sebuah pemikiran pendorong munculnya gagasan-gagasan pencerahan.

Dewasa ini, di negeri kita ini, demikian banyak peristiwa yang bisa menjadi iktibar, tinggal pilih yang memilukan atau memalukan, atau keduanya sekaligus, atau tidak keduanya. Bencana demi bencana seakan tak memberikan waktu jeda. Kesengsaraan saja seringkali belum cukup, karena di tcngah penderitaan dan kepiluan, ada saja perbuatan-perbuatan yang memalukan akibat kebodohan-kebodohan yang tidak perlu atau karena kepentingan individual sesaat. Atau karena ada agenda-agenda tersembunyi, tetapi sesungguhnya tak lebih seperti burung onta yang bersembunyi, yang begitu yakin bisa menyembunyikan badannya yang besar, padahal pada kenyataannya hanya bisa menyembunyikan kepalanya. Semakin hari rasanya kita semakin asing saja dengan halaman tempat dimana kita biasanya bermain gasing.

Buku ini jelas bukan sebuah memoar, melainkan sebuah kumpulan catatan lepas, buku yang memuat persepsi, juga refleksiku terhadap berbagai peristiwa. Sebuah ungkapan perasaan sebagai respon, sebuah tanda keengganan ditinggalkan sang waktu. Setiap kali menemukan atau membaca sesuatu, atau berhadapan dengan berbagai masalah, baik dalam kapasitas pribadi maupun jabatan aku sungguh tak bisa mengendalikan imajinasi untuk menulis sesuatu. Walaupun untuk itu aku harus 'dicurigai' sebagai seorang politikus apologetik. Sesuatu itu bisa merupakan perasaan reaksi, protes, kerisauan, kegalauan, harapan, otokritik, suka cita, dukungan, tapi sesuatu itu tak tertungkap dalam bahasa lisan. Oleh karena itulah tulisan ini menjelajah banyak topik.

Aku menyadari sepenuhnya, menulis bukanlah sebuah jalan tanpa risiko. Sastrawan dan budayawan Goenawan Mohamad menukilkan dalam Kata Pengantarnya untuk bukuku "Membaca Ombak," pernah ada yang mengatakan bahwa politikus, di podium, tak boleh dinilai berdasarkan apa yang dikatakannya, melainkan berdasarkan apa yang dilakukannya. Tapi politikus yang menggunakan pena atau kalam dan menulis di surat kabar akan dinilai, baik berdasarkan apa yang dilakukannya dan apa yang ditulisnya. "Dan Chaidir adalah seorang politikus dan penulis. Dan ia sadar, ia sedang 'dicurigai' oleh pembaca". Apa yang ditulis Goenawan Mohamad itu kurasakan benar adanya. Semakin banyak tulisan terluahkan di surat kabar, semakin terdedah pula diri kita dan terbuka pula peluang untuk berbuat salah atau dipersalahkan.

Novelis Francis kelahiran Lebanon, Amin Maalouf, agaknya tepat menggambarkan keadaan tentang dunia tulis menulis ini dalam buku non fiksinya, In the Name of Identity. "Hidup yang dihabiskan buat menulis telah mengajari saya agar berhati-hati pada kata. Kata-kata yang tampak paling jelas kerap menjadi yang paling khianat". Menulis di surat kabar bisa menyebabkan seseorang terlihat hebat tapi juga sebaliknya, terlihat bodoh, karena sebuah persepsi yang terlalu naif misalnya. Tapi sesungguhnya suatu hal pasti, menulis juga bisa mengurangi kebodohan penulisnya sendiri. Untuk menulis sebuah kolom, seorang penulis harus membaca sebelumnya bahan bacaan yang berkaitan dengan topik yang hendak ditulis.

Menulis bagiku merupakan cara berdamai dengan ribuan "pengunjuk rasa" yang berkerumun dalam hati, meredakan ketegangan yang desak-mendesak. Menulis memungkinkan aku mengkhayal, menjelajahi ruang-ruang yang tak bisa dimasuki oleh siapapun. Namun sudah barangtentu, tak mungkin bagiku merespon semua peristiwa. Aku memiliki banyak keterbatasan. Tapi siapa suruh merespon semua, merespon satu pun tak ada yang suruh.

Buku ini, buku keenam kumpulan tulisanku setiap pekan di Tabloid MENTARI yang terbit di Pekanbaru, Riau dan buku kelima yang diterbitkan semenjak terpilih menjadi Ketua DPRD Provinsi Riau pada periode 1999-2004 dan 2004-2009. Judul buku "Demang Lebar Daun" diambil dari salah satu Judul kolom yang terdapat dalam buku. Sedikit terkesan agak berlebihan karena muatan tulisan dalam kolom tersebut sebenarnya kurang mendalam menggapai sang tokoh Demang Lebar Daun. Dalam sejarah Melayu, Demang Lebar Daun yang bermukim di Bukit Siguntang, Padang Penjaringan, di kawasan yang bernama Parlembang, memposisikan dirinya bukan sebagai mertua raja, tetapi sebagai wakil dari suara rakyat. Konon dalam versi sejarah itu, salah satu hal penting yang dilakukan Sang Sapurba sebeium melakukan perjalanan dari Kuantan hmgga Siantan, adalah membuat sebuah perjanjian, yang disebut "Ikatan Setia". Suara isi hati masyarakat diwakili oleh Demang Lebar Daun (mertua dari Sang Sapurba, raja itu sendiri). Isi dari Ikatan Setia itu adalah bahwa Demang Lebar Daun dan anak cucunya kelak tidak akan durhaka kepada Sapurba dan keturunannya apa pun yang terjadi. Demang Lebar Daun mengatakan, jika anak cucuku salah dan patut dihukum, hukumlah, jika kesalahannya amat besar dan patut dibunuh maka bunuhlah, namun jangan sekali-kali dipermalukan.

Apa yang tersirat dari hubungan Sang Sapurba - Demang Lebar Daun, barangkali kini tidak lagi relevan. Paradigma sudah berubah silih berganti. Namun perjanjian Ikatan Setia itu bukan tanpa pesan sebagaimana ditulis sastrawan Melayu Hasan Junus, siapa saja yang mempermalukan orang pastilah akan mendapat malu sebagai balasannya. Banyak raja-raja yang mendapat kenistaan oleh mahkamah sejarah. Tak pernah ada sosok yang dapat menghindar dari pengadilan sejarah. Itulah!

Kepada Il Signor Hasan Junus, pujangga Melayu yang ku kagumi yang dalam tempo singkat bersedia memberikan Kata Pengantar, aku menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang tak terhingga. Il Signor Hasan Junus telah membuat buku ini lebih bermakna.

Terus terang, tulisan refleksi dalam buku ini banyak terinspirasi oleh lingkungan sosial-politik-budaya lokal, nasional maupun regional, juga dalam interaksi dengan kawan-kawan dari berbagai komunitas: pemuka adat, pemuka masyarakat, seniman, dan sudah barangtentu kawan-kawan di DPRD Riau. Perdebatan demi perdebatan terhadap berbagai masalah selalu meninggalkan renungan mendalam ketika keheningan bergulat dalam diri, ketika tirai nurani mulai terbuka untuk berbicara. Kita terlalu banyak berpikir dan berbicara tentang perbedaan, sedikit sekali berpikir dan berbicara tentang persamaan yang justru sebenarnya lebih banyak. Keluhuran budi entah kemana padahal ianya pemandu perilaku yang paling setia. Suara air mata orang-orang yang kurang beruntung, jeritan parau ketidakadilan, empati terhadap mereka yang terpinggirkan seringkali merupakan dorongan yang dahsyat bagiku untuk menulis sesuatu.

Kepada kawan-kawan yang tak putus memberikan dorongan moril, yang tak mungkin digoreskan namanya satu persatu, dari lubuk hati yang terdalam aku mengucapkan terima kasih. Demikian pula kawan-kawan insan pers, teristimewa kawan-kawan di Tabloid MENTARI.

Keistimewaan tentulah untuk istriku Lian dan buah hatiku Rimba, Lingga, Hanna dan Chaleed, buku inilah tanda cintaku pada kalian. Apalagi yang bisa kuberikan selain kebanggaan seujung kuku dan buku? Si bungsu Chaleed yang sudah mulai menampakkan bakat menulis, teruslah menulis.

Akhirnya kepada para pembaca budiman buku ini kupersem-bahkan, semogalah bermanfaat.


Pekanbaru, Agustus 2007


Chaidir



Tulisan ini sudah di baca 207 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/388-Sekapur-Sirih-Penulis.html