drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Demang Lebar Daun | Bagian : 0

Pengantar Hasan Junus


Oleh : Hasan Junus

"Alkisah maka tersebutlah perkataan ada sebuah negeri di Tanah Andalas, Palembang namanya, Demang Lebar Daun nama pemimpinnya, Muara Tatang nama sungainya. Maka di hulu Muar Tatang itu ada sebuah sungai, Melayu namanya. Dalam sungai itu ada sebuah bukit, Seguntang Mahameru namanya.

Rangkaian kata yang membuka Sejarah Melayu atau Sulalatus Salatin sebagaimana tertera di atas menggambarkan tentang apa yang dinamakan oleh para budayawan sebagai "Malay Caddle of civilization" yaitu buaian peradaban Melayu. Dari Pulau Sumatera bagian selatan tempat saksi peradaban itu banyak berserakan dan menyebar berupa prasasti-prasasti, peradaban lalu itu menghiliri Sungai Musi, berpindah-pindah tempat, ke Bintan, Tumasik @ Singapura, Melaka, dan kembali ke Pulau Sumatra. Dengan mengandalkan salah-satu cabang kebudayaannya yaitu bahasa, peradaban Melayu itu menyebar ke mana-mana, ke sekotah Nusantara, bahkan keluar dari sana melanjutkan perjalanan budayanya, ke dunia luas.

Di kawasan tempat buaian peradaban Melayu inilah berlangsungnya kontrak sosial pertama di Alam Melayu antara raja dengan rakyat, karena pada masa itulah terjadi sumpah antara Demang Lebar Daun yang mewakili rakyat dengan Sri Tri Buana dari pihak raja. Kontrak sosial itu terjadi karena kedua pihak bersepakat untuk saling bersetia. Bahkan Demang Lebar Daun menegaskan bahwa apabila dari keturunannya melakukan kesalahan, kalau besar kesalahan itu sehingga sepadan untuk dibunuhpun boleh dibunuh tapi tidak dipermalukan. Dengan demikian tersimpul suatu formula bahwa bagi Orang Melayu yaitu rasa sakit dipermalukan lebih dahsyat dari rasa sakit dibunuh. Meskipun Demang Lebar Daun mertua Sri Tri Buana dan keturunan sang raja, ia tetap memposisikan diri sebagai wakil rakyat sejati.

Teladan inilah yang hendak dipakai dan diterapkan dalam kehidupan hari ini. la dan rakyat yang dipimpinnya ialah penduduk setempat sedangkan para raja-raja Melayu terdiri dari orang-orang yang datang dari luar kawasan itu, bahkan mereka itu berasal dari kawasan yang jauh yang dapat dinamakan orang asing.
Kawasan kebudayaan Melayu yang luas, ragam dan berbunga-bunga itu semuanya senantiasa berupaya dapat menyumbangkan milik lokalnya. Salah satu kawasan kebudayaan Melayu itu ialah Riau.

Cukup banyak informasi tentang kebudayan Melayu, misalnya tentang kelautan dan navigasi, yang luncas lepas dari kepemilikan asli karena informan yang memberikan keterangan tentangnya diperkirakan bukan orang Melayu. Bukankah Orang Melayu selalu dilekatkan dengan agama Islam? Seorang pelaut Melayu bernama Awang (yang namanya luas dikenal dalam cerita pusaka, dongeng dan kisah pengembaraan yang diabadikan dalam dendang para tukang koba, juga dalam roman atau roman modern) dibawa kapal Portugis ke Portugal, ia bahkan dimasukkan ke agama Katolik dan diganti namanya menjadi Enrico. Dari Enrico inilah infomasi tentang ilmu kelautan dan ilmu navigasi Melayu banyak direkam di Portugal dan asal usul ke-Melayu-annya dilupakan sehingga kebudayaan Melayu kehilangan hak dan kepemilikan kulturalnya.

Akan tetapi segala sesuatu yang diberikan oleh masa lalu kepada kita tidaklah harus mendjadi sesal-sesalan apalagi sampai dibuat menjadi sesal menyesal. Orang tidak harus memandang masa lampau sebagai sesuatu yang terus dirindu-rindukan sehingga merangsang nostalgia yang sia-sia. Apa-apa yang terjadi di masa lampau hendaklah menjadi teladan sementara hidup masa kini terus ditegakkan dengan atau tanpa kejadian di masa lampau yang cemerlang berseri-seri. Orang yang hidup di masa kini harus senantiasa memberikan present meaning area makna kekinian kepada apa-apa yang dimilikinya di masa lampau agar terhindar dari nostalgia yang memabukkan dan yang melemahkan semangat/Orang tak boleh tidak hidup disini dan kini dan bukan di situ dan dulu, tidak juga di sana dan lusa.

Suatu renungan filosofis yang dilakukan terhadap ungkapan orang Prancis yang mengatakan bahwa sejarah berulang kembali (L'histoire se repete) mungkin menghasilkan pernyataan yang terbalik dari ungkapan itu yaitu sejarah tidaklah pernah berulang kembali se-hingga ungkapannya menjadi sejarah tak pernah berulang (L'histoire ne se repetejamais). Mengapa? Karena dengan membuat kajian pada sejarah si perenung sampai pada kesimpulan bahwa tak pernah ada pengulangan dalam perjalanan hidup manusia.

Seandainya ada terjadi suatu peristiwa di masa lampau yaitu di situ dan dulu persis sama terjadi lagi pada hari ini dan di sini seyogianya disandingkan dengan ungkapan bahasa Arab yang mengatakan tak ada yang baru di bawah matahari (Lajadid tahtasy syams) yang sama dengan ungkapan bahasa Prancis Il n'y a de nouveau sous le soleil. Si perenung mungkin sekali berpikir bahwa matahari hari ini berikut kejadian yang berlangsung di bawahnya ialah matahari kemarin ditambah panas matahari satu hari sehingga tak dapat dikatakan sama.

KARENA itulah kalau ada seorang yang persis sama dengan Demang Lebar Daun dan karena ia hidup di sini dan kini sedangkan Sang Demang hidup di situ dan dulu maka kedua orang itu tak mungkin orang yang sama. Sebagai wakil rakyat yang menjadi Ketua DPRD Riau drh. H Chaidir MM pernah dinamakan oleh seseorang di Riau ini sebagai Demang Lebar Daun. Namun Chaidir bukanlah Demang Lebar Daun. Bahkan kalau ada orang yang mengatakan ia ialah reinkarnasi dari Sang Demang, yang demikianpun harus dijawab tidak, meskipun ia memiliki kepiawaian berbahasa Italia karena pernah melanjutkan studi di Roma dan memiliki indera yang setajam silet sampai-sampai ia berkemampuan membaca ombak. Lebih dari semua itu ia patut sangat diperhitungkan sebagai seorang penulis kolom di sebuah media di Riau yang telah pula menerbitkannya sebagai buku-buku.

Semangat zaman menyebabkan dan menjadikan kedua orang itu berbeda meskipun sebesar dan sebanyak apapun persamaannya. Adalah semangat zaman yang menjadikan Demang Lebar Daun dan Chaidir banyak samanya namun tak pernah bisa menjadi benar-benar sama. Setiap orang berkiprah dengan kemasing-masingannya dan inilah yang menandai hidup orang-orang itu, hidup yang bermula di lauhul-mahfuz dan tiada mengenal akhir sampai ke Yaumi-akhir. Hal itupun kita semua tahu, namun kita pun tahu pula bahwa semangat - suatu kata bahasa Melayu yang sangat tua -Demang Lebar Daunlah yang didambakan oleh Chaidir. Semangat orang-orang yang berbeda, juga berbeda masa dan berbeda tempat mungkin sekali bisa sama. Untuk itu baiklah kita membaca tulisan-tulisannya, yang sudah terkumpul dalam bentuk buku ini.


Hasan Junus



Tulisan ini sudah di baca 119 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Demang Lebar Daun

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Demang-Lebar-Daun/387-Pengantar-Hasan-Junus.html