drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 5

Haji Murah


Oleh : drh.chaidir, MM

Pria dan wanita berperawakan tinggi besar itu, berkulit hitam legam, berteriak-teriak menjajakan dagangannya di kaki lima di sekitar Masjidil Haram, "Haji, murah! Haji, murah."

Yang mereka maksud sebenarnya, "Haji, belilah barang ini, harganya murah." Namun karena keterbatasan kosakata, mereka hanya bilang, haji murah, haji murah. Yang penting calon pembeli mengerti apa yang dimaksud. Sebagai awal dari sebuah transaksi dagang, itu sudah cukup.

Anda memang tidak perlu bisa berbahasa Arab atau berbahasa Inggris untuk berbelanja, sebab rata-rata pedagang kaki lima dan pelayan toko di sekitar Masjidil Haram di Mekkah, maupun di sekitar Masjid Nabawi di Madinah, bisa berbahasa Indonesia walaupun terbatas hanya untuk keperluan tawar-menawar harga barang. Sebagian pelayan toko bahkan orang Indonesia betulan.

Ada dua hal yang menyebabkan pedagang-pedagang itu bisa berbahasa Indonesia. Pertama, jemaah haji Indonesia memang paling banyak dan dominan dibandingkan dengan jemaah haji dari negara lain. Dalam sepuluh tahun terakhir ini, jemaah haji Indonesia rata-rata hampir 200 ribu orang per tahun. Dan jemaah haji Indonesia memang selalu yang terbesar jumlahnya, sebab jumlah penduduk kita banyak, jadi kuotanya juga banyak. Sehingga tidak heran di mana-mana yang terlihat jemaah haji Indonesia. Orang-orang Indonesia yang bermastautin di sana pun cukup banyak, terutama orang-orang Madura, Bugis, dan Banjar. Mereka sudah beranak pinak di sana. Itu belum termasuk TKI dan mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di negara-negara Timur Tengah, termasuk yang sedang belajar di Mesir. Mahasiswa-mahasiswa ini biasanya direkrut oleh pemerintah untuk membantu jemaah haji Indonesia.

Kedua, jemaah haji Indonesia terkenal paling suka berbelanja, walaupun dalam manasik haji sudah berulangkali diperingatkan untuk mengendalikan nafsu ber"belanja. Kesempatan berkunjung yang amat jarang ke tanah suci agaknya menjadi alasan mengapa keinginan untuk membeli souvenir secara berlebih-lebihan itu muncul. Semua sanak saudara dan handai taulan yang berada di tanah air rasanya ingin dibelikan oleh-oleh. Oleh-oleh dari tanah suci kan lain dari yang lain. Saya beruntung menjadi salah seprang dari dua ratus ribu jemaah haji Indonesia pada musim haji tahun 1998. Jumlah jemaah haji tahun itu agaknya yang terbesar, itu pun masih ribuan calon jemaah yang tidak bisa berangkat karena kerterbatasan kuota.

Ongkos Naik Haji tahun 1998 itu pun terhitung sangat murah. ONH (sekarang namanya BPIH-Biaya Perjalanan Ibadah Haji) ketika itu hanya Rp 9 juta. Dari jum"lah tersebut 1500 rial dikembalikan kepada masing-masing jemaah haji di asrama pemberangkatan sebagai pocket allowance (uang saku) biaya hidup untuk selama di Saudi Arabia. Dengan nilai tukar Rp3.250 per satu rial di Medan waktu itu, maka jumlah yang dikembalikan bernilai Rp4.875.000. Berarti jumlah uang yang betul-betul dibayar kepada panitia cuma Rp4.125.000. Jumlah inilah yang diperuntukkan bagi tiket pesawat Indonesia-Jedah (PP), akomodasi selama berada di Madinah dan Makkah (38 hari), transport lokal Jedah-Madinah-Makkah-Padang, Arafah-Mina-Makkah-Jedah, dan beberapa kali makan yang ditanggung oleh panitia termasuk konsumsi selama wukuf di Arafah dan melontar jumrah di Mina.

Dihitung-hitung, biaya perjalanan haji tahun itu me"mang sangat murah. Oleh karena itu, sampai sekarang pun bila bertemu teman-teman seperjalanan, setelah bersalaman kami saling berucap, "Haji murah-haji murah".

Kamis tanggal 17 Februari 2000 lalu, pukul 00 WIB (tepat tengah malam), dalam kapasitas saya selaku Ketua DPRD Propinsi Riau, saya mendapat kehormatan berdiri di dalam pesawat Boeing 747 Garuda Indonesia yang akan menerbangkan 450 jemaah haji kloter pertama Riau dari bandara Polonia Medan ke tanah suci. Sejujurnya, saya hampir tidak bisa berbicara apa-apa. Perasaan haru yang begitu kental menyelintuti hati saya. Akhirnya saya hanya mengucapkan selamat jalan, jaga kesehatan baik-baik, jaga nama baik bangsa, dan berdoalah agar bangsa dan daerah kita dapat cepat keluar dari berbagai krisis yang dihadapi. Tepat pukul 00.30 WIB sesuai jadwal, Boeing 747 itu pun mengangkasa dengan gagah menembus kegelapan malam yang berbintang menuju bandara King Abdul Aziz di Jeddah, Saudi Arabia.

Dalam perjalanan pulang setelah melepas jemaah haji itu, saya masih merasa tersanjung dengan kesempatan yang sangat baik tersebut. Saya mencoba merekonstruksi tentang apa yang baru saja saya ucapkan di pesawat. Dalam hati saya membatin, sebenarnya tanpa diminta atau diingatkan pun para jemaah haji itu pasti akan berdoa untuk bangsanya. Dalam doa yang akan mereka ucapkan di Padang Arafah, yang disebut miniatur Padang Mahsyar, doa untuk kemaslahatan masyarakat, bangsa, dan tanah air itu memang sudah ada.

Event pemberangkatan jemaah haji sebenarnya adalah sebuah kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun. Namun prosesinya selalu melibatkan banyak pihak dan selalu menyentuh perasaan yang mendalam, baik bagi mereka yang berangkat, keluarga yang ditinggalkan maupun panitia pemberangkatan.

Di Medan, beberapa orang wartawan menanyakaan kepada saya, "Kapan Riau akan memiliki tempat embarkasi haji sendiri, bukankah Riau kaya?" Saya menjawab sekenanya, "Insya Allah tahun depan." Wartawan masih mendesak dan memprovokasi, "Tapi, bukankah dana untuk membangun embarkasi haji di Riau itu oleh pemerintah pusat telah dialihkan ke Aceh?" Saya katakan, "Kalau ya, apa salahnya? Aceh mungkin sangat memerlukan, kita akan upayakan sumber lain." Saya melirik Pak Rasyid Hamidy, Kakanwil Agama Riau itu tersenyum di sebelah saya.

Riau konon sudah memiliki lokasi untuk pembangunan Asrama Haji seluas 2,4 ha di Batam. Tepatnya di Batam Center, berdekatan dengan Masjid Raya megah dan indah yang sekarang sedang dibangun. Kalau itu menjadi kenyataan, maka jemaah haji Riau akan sedikit dapat menghemat biaya. Tapi yang namanya haji murah, tampaknya hanya akan tinggal mimpi. Biarlah, yang penting kan bukan murahnya, tapi mabrurnya.



(25 Februari-2 Maret 2000)


Tulisan ini sudah di baca 146 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/89-Haji-Murah.html