drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 5

Idul Fitri Kuburkan Benci Bangkitkan Simpati


Oleh : drh.chaidir, MM

Sulit dipungkiri, catatan harian kita penuh dengan nuansa permusuhan, kebentian, kedengkian, dan kecurigaan. Persahabatan, kejujuran, kesabaran, dan kepercayaan, nyaris tak terdengar.

Kenapa kemarahan cepat sekali sampai ubun-ubun? Baku hantam, baku caci, baku bakar, bahkan baku bunuh, menjadi berita sehari hari. Tiada hari lanpa kekerasan. Buruh marah kepada majikan, majikan marah kepada buruh. Bawahan marah pada atasan, atasan marah pada bawahan. Pemukim marah pada pendatang, pendatang marah pada pemukim. Daerah marah pada pusat, eh, ternyata pusat juga punya stok marah.

Pemaksaan kehendak menjadi lumrah. Padahal pemaksaan kehendak adalah eufemisme dari perkosaan dan perampokan di siang belong. Sebab pada saat kita memaksakan kehendak kepada orang lain maka pada saat yang sama ada kehendak orang lain yang kita rampas. Hak kita dipaksakan pada orang lain, otomatis sebagian hak orang lain secara paksa kita ambil. Paling tidak hak orang lain untuk tidak bersedia dipaksa. Tesis ini agaknya tidak sulit dipahami.

Memang, tidak semua orang tahu, bahwa orang lain juga punya hak yang sama dengan kita. Ada yang tidak tahu bahwa dia tidak tahu, tapi ada juga yang pura-pura tidak tahu. Bukankah manusia adalah Homo sapiens makhluk si pemikir, bukan homo homini lupus - manusia yang satu serigala bagi manusia yang lainnya.

Jadi, ke mana gerangan perginya persahabatan, kejujuran, kebaikan, dan kesabaran itu? "Ke mana per"ginya hati, ke mana hilangnya rasa," kata lirik penyanyi Semenanjung Ahmad Djais, yang sekarang memang tidak lagi pernah terdengar. Betulkah kita tergolong bangsa pemberang yang suka perang? Ke mana bangsa yang penuh dengan sopan santun dan murah senyum itu? Ataukah karena selama ini, kita pandai menyembunyikan "belang"?

Sekarang setelah "tiada lagi ilalang tempat berlindung", belangnya kelihatan dan kita kehilangan kearifan, karena kaget dengan perubahan keadaan. Betulkah kita tergolong bangsa pemberang yang suka perang? Kemana perginya bangsa yang penuh sopan santun yang penuh senyum itu? Ataukah karena selama ini kita pandai menyembunyikan "belang?".

Setidaknya ada empat jenis kambing hitam atau barangkali lebih enak disebut dalil-dalil pembenaran terhadap sikap pemberang masyarakat ini, sebagaimana sering diungkapkan oleh para pengamat. Pertama, krisis ekonomi; ini masalah hidup mati keluarga, sementara penyembuhannya belum menampakkan tanda-tanda akan segera berhasil.

Kedua, katanya sih, itu akibat kebebasan yang terkekang selama orde baru. Dulu orang tidak boleh mengkritik, kalau mengkritik ditangkap. Aspirasi tersumbat, demokrasi tidak jalan tidak ada keterbukaan. Itu dosa keturunan. Sekarang, setelah sumbatnya dibuka orang ramai-ramai "merapel" kemarahan.

Ketiga, kita kan berada dalam masa transisi peradaban, semacam akulturasi. Kita sudah hampir terbiasa dengan kebudayaan feodalistik. Aturan mainnya, the boss can do no wrong. Padahal yang namanya manusia bisa berbuat salah kapan saja, tidak ada yang abadi. Jadi ibarat pertandingan, hasil yang sudah ada, dianulir, dan kembali harus dihitung ulang: 0-0. Peraturan baru permainan pun diterapkan. Pemain yang tadinya sudah unggul tentu merasa kesal, sedangkan pemain yang tadinya sudah hampir putus asa, berjingkrak-jingkrak, euforia. Dengan aturan main baru, ritme permainan menjadi rusak dan perasaan jengkel kepada keadaan tumbuh dengan subur. Tidak hanya di kalangan pemain, "boneknya" juga ikut-ikutan jengkel.

Keempat, kambing hitamnya adalah provokator (maaf, menggunakan istilah penguasa). Provokator inilah, konon yang menyemaikan kebencian, menyuburkan dendam, menghasut, dan mengadu domba. Masalah yang kecil dibesar-besarkan, buhul yang sudah kokoh diungkai. Provokator laksana musang berbulu ayam atau ayam berbulu musang, sama saja. Musang berbulu ayam berarti penyamaran untuk menipu lawan. Ayam berbulu mu"sang berarti penyamaran untuk menipu kawan. Kawan lari ketakutan, makanan yang tinggal disantap sendiri. Akibatnya tumbuh rasa curiga.

Dalam masyarakat yang sedang mengalami turbulensi di awal Milenium III ini, orang hampir kehilangan kepercayaan diri dan hampir menyerah pada keadaan. Kelompok orang-orang seperti ini akan menjadi mudah tersinggung, marah dan bertindak melewati batas-batas kewajaran. Nafsu adalah akar dari semua masalah yang menimbulkan permusuhan, kedengkian, kebencian, orang lain untuk tidak bersedia dipaksa. Tesis ini agaknya tidak sulit dipahami.

Apa yang dikatakan oleh Richard Nixon agaknya benar, "Ingatlah bahwa orang lain bisa saja membenci Anda, tetapi kalau Anda meladeni dengan balas memben"ci mereka, Anda merusakkan diri Anda sendiri." Kata orang bijak, membenci orang lain adalah laksana membakar rumah kita sendiri untuk mengusir seekor tikus.

Sebulan lamanya kita berperang melawan hawa nafsu itu dan saat kita merayakan Idul Fitri pekan ini, de facto kita telah keluar sebagai pemenang. Mestinya catatan harian yang penuh dengan noda-noda hitam itu sudah habis dibakar. Namun catatan harian itu kan catatan imajiner yang ada dalam hati setiap insan. Secara hori"zontal barangkali dapat dibuat tolok ukur, tetapi secara vertikal? Kata orang, dalam laut dapat diduga, dalam hati
siapa tahu?

Namun, untuk apa menduga-duga. lebih baik kita mulai melangkah ke depan dengan berpikir positif: kuburkan kebertcian dan bangkitkan simpati. Mari bersalam-salaman. Idul Fitri adalah kemenangan kita semua, di sini menang, di sana menang.


Selamat Idul Fitri, Saudara, mohon maaf lahir dan batin.


17-13 Januari 2000)


Tulisan ini sudah di baca 109 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/88-Idul-Fitri-Kuburkan-Benci-Bangkitkan-Simpati.html