drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 5

Sabar, Password Ramadan


Oleh : drh.chaidir, MM

Anda pernah menggunakan waktu sekitar lima menit sehari untuk bermenung melakukan introspeksi, atau mencoba mencerna kejadian demi kejadian yang masuk memori Anda hari itu? Kalau belum, cobalah lakukan di bulan Ramadan ini, barangkali ada manfaatnya.

Rulan-bulan terakhir ini rasanya kita sedang dihadapkan pada sebuah kenyataan pahit, kesabaran kita se"dang bermasalah. Orang menjadi tidak sabaran, mudah tersinggung, cepat marah, saling caci, saling hujat, saling serang, dan bahkan masya Allah, saling bakar. Dendam dan kebencian mewabah di mana-mana, virusnya berkembang dengan subur. Fenomena apa ini? Kesabaran seakan menjadi barang yang amat langka. Atau karena stoknya memang terbatas dan sekarang sudah habis? Mudah-mudahan tidak. Orang sabar itu kan dikasihi Allah.

Menurut pendapat para ulama, sabar adalah salah satu akhlak yang mulia, yang menghalangi munculnya tindakan tidak terpuji. Sabar adalah salah satu kekuatan jiwa dan dengannya segala urusan menjadi baik dan lancar. Seorang Ulama, Al-Junaid bin Muhammad, membuat sebuah perumpamaan, hakikat sabar adalah laksana meneguk sesuatu yang pahit tanpa perlu merengut. Berarti mudah diucapkan, tetapi sulit untuk dilaksanakan. Walaupun demikian bisa dilaksanakan kalau kita mau melaksanakannya.

Jiwa adalah kendaraan seorang hamba dan dengan"nya ia berjalan menuju surga atau neraka, kebaikan atau keburukan. Sedang sabar bagi jiwa adalah kendali. Jika kendali hilang, maka jiwa kehilangan arah, seperti kapal patah kemudi, senantiasa terombang-ambing dan ini merupakan makanan empuk para provokator yang sekarang memang sedang merajalela.

Dalam jiwa terdapat dua kekuatan, yaitu kekuatan mendorong dan kekuatan menolak. Maka hakikat sabar ialah mengarahkan kekuatan yang mendorong kepada apa yang bermanfaat baginya dan mengarahkan kekuat"an penolak dari apa yang merugikannya. Ungkapan bijak filsuf E.H. Chapin sangat relevan untuk direnungkan, " tidak pernah jiwa manusia tampil begitu kuat seperti saat mereka mengurungkan balas dendam dan berani memaafkan."

Semakin kita sabar, semakindapatmenerimahidup ini apa adanya, bukan memaksakan hidup ini persis seperti yang kita kehendaki. Antara harapan dan kenyataan tidak selalu sama. Manusia hanya bisa merencanakan, keputusan di tangan Allah Swt. Dalam konteks ini, sebuah musibah bagaimanapun kecilnya adalah merupakan ujian bagi kesabaran.

Di tengah perubahan masyarakat yang berlangsung cepat dewasa ini, tanpa tingkat kesabaran yang tinggi pastilah membuat kita sangat frustasi. Orang akan mudah marah, jengkel, terganggu, merasa tidak didudukkan pada tempatnya, dilecehkan, dan merasa disakiti. Kesa"baran menambahkan suatu dimensi ketenteraman dan rasa menerima dalam hidup kita. Kesabaran juga mengharuskan kita melihat ketidakbersalahan pada diri orang lain dan memahami ketidaksempurnaan sesama manusia. Bila prinsip tersebut disadari dengan ikhlas, kita akan menjadi orang yang lebih sabar dan tenang. Dan dengan cara yang aneh, mulai menikmati saat-saat yang biasanya akan membuat kita frustasi.

Untaian kata bijak filsuf Og Mandino agaknya menarik untuk disimak, "Kesabaran adalah kekuasaan. Pergunakanlah untuk memupuk semangat, meredakan kemarahan, meredam angkara murka, mengubur rasa iri, menekan kesombongan, menahan lidah, mengekang tangan, sampai tiba waktunya Anda memanen seluruh hasilnya. Berjuang meraih harta tanpa kesabaran justru akan mengamblaskan milik yang sudah ada. Berani tanpa disertai kesabaran akan membunuh Anda."

Dalam konsep Barat, kesabaran dapat dilatih. Caranya. mulailah mpngatakan pada diri Anda, "Oke, selama lima menit berikut ini aku akan membuat diriku tidak merasa terganggu oleh apa pun dan oleh siapa pun, Aku akan sabar." Lakukan itu setiap hari dan Anda akan terkejut melihat hasilnya, ternyata Anda bisa. Coba bayangkan bila temponya diperpanjang menjadi sepuluh menit, satu jam, atau satu hari.

Umat Islam punya cara tersendiri untuk melatih kesabaran, yaitu melalui puasa Ramadan. Sekali setahun umat Islam diberi kesempatan untuk berkontemplasi, merenung, mengevaluasi apa yang telah dilakukan dan apa yang telah diperoleh. Bulan Ramadan merupakan kesempatan emas bagi seorang muslim untuk menambah kebaikan dan mengurangi sebab-sebab timbulnya keburukan. Pintu-pintu kebaikan dan pintu-pintu surga terbentang lebar. Sementara pintu-pintu neraka tertutup rapat dan setan-setan terbelenggu. Selama puasa Ramadan opsi kebaikan memang tersedia amat banyak sedangkan opsi keburukan sangat sedikit dan terbatas. Artinya cukup banyak tersedia ruang untukberbuat kebajikan. Sungguh bahagia orang yang menggunakan kesempatan ini dan memillh opsi yang tepat.

Puasa yang baik adalah jika bukan hanya sekadar puasa menahan haus dan lapar serta puasa menahan nafsu syahwat. Tetapi lidah, mata, telinga, dan semua anggota badan harus ikut berpuasa. Kedua matamu, begitu sering diajarkan ustad, harus berpuasa memandang hal-hal yang haram. Lidahmu harus berpuasa dari dusta, caci-maki, dan adu domba.

Kalau sebulan lamanya kita berpuasa dan terlatih sabar, maka kebiasaan ini akan berpengaruh pada perilaku hari-hariberikutnya setelah Ramadan. Kebaikan dan keburukan sebenarnya bermula dari kebiasaan. Manusia kadangkala kurang memiliki kecerdasan emosional sehingga terdorong untuk melakukan hal-hal yang tidak pantas dan konyol. Untung ada kesabaran sebagai kendali untuk menghalanginya. Pertempuran sering meletus di antara keduanya dan medan pertempuran adalah hati seorang hamba.


(17-23 Desember l999)


Tulisan ini sudah di baca 144 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/87-Sabar,-Password-Ramadan.html