drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 5

Marhaban Ya Ramadan


Oleh : drh.chaidir, MM

Saya kira pengalaman masa kecil sangat berpengaruh bagi seorang muslim dalam memberikan apresiasi terhadap bulan Ramadan. Mulai dari saat-saat belajar berpuasa, bangun untuk makan dini hari di tengah malam yang hening, dan saat-saat kehausan menunggu berbuka, semuanya terasa sebagai sebuah perjuangan yang berat, tetapi indah dan mengasyikkan.

Sejujurnya, bagi saya, dan barangkali juga bagi Anda, menjalani hari-hari bulan puasa Ramadan di desa terasa lebih syahdu daripada di kota. Entah sekarang ketika suasana di desa tidak lagi tenteram seperti dulu. Tetapi sesungguhnya romantisme keindahan suasana berpuasa di desa itu barangkali adalah karena peng"alaman masa kecil yang tidak terlupakan.

Masa kecil yang indah di desa tentulah tidak sama dengan masa kecil anak-anak di kota dalam menghabiskan waktunya untuk menunggu waktu berbuka puasa. Umumnya sekarang anak-anak di kota menunggu waktu berbuka dengan bermain-main di plaza, sibuk dengan permainan artifisial di Time Zone atau tenggelam dalam permainan playstation di rumah yang sejuk full AC. Bagi orang dewasa barangkali mereka akan menghabiskan waktunya dengan window shopping, berjalan-jalan sambil melihat-lihat, cuci mata. Tetapi khususnya di Pekanbaru, sayangnya tidak tersedia tempat-tempat yang asri untuk cuci mata seperti misalnya Plaza Taman Anggrek atau Plaza Senayan di Jakarta. Jangankan plaza yang nyaman, atau taman kota yang hijau, trotoar tempat pejalan kaki saja tidak tersedia.

Tapi sabarlah, konon nanti, Masjid Agung An-Nur akan memiliki taman yang indah dan nyaman, karena Stadion Hang Tuah yang ada sekarang akan dibongkar untuk selanjutnya kawasan tersebut akan dijadikan ta"man kota. Alangkah indahnya. Tentu akan ramai keluarga bercengkerama menunggu saat saatberbuka di taman itu nanti. Berbuka di taman, salat di Masjid Agung, aduhai indahnya.

Lain di kota lain di desa. Di desa umumnya anak-anak dan remaja menghabiskan waktunya dengan bermain-main di surau, memancing ikan, menangkap bu"rung dengan getah, sore hari bermain bola kemudian kembali ke rumah menjelang berbuka, sambil tidak lupa menengok ke dapur apa makanan untuk berbuka yang dimasak ibunda.

Agaknya benar, iblis dan setan-setan diberangus selama bulan suci Ramadan. Suasana hati terasa aman dan tenteram. Sama sekali tidak ada kekhawatiran untuk keluar malam, berangkat ke masjid untuk tarawih dan tadarus. Padahal dulu, keadaan desa gelap gulita. Yang ada hanya lampu teplok, belum terang benderang seperti sekarang setelah listrik masuk desa. Dan dulu pun harimau belum lagi hampir punah seperti sekarang, sehingga setiap malam ada saja kambing atau ayam penduduk yang dimangsanya. Tapi anehnya walaupun dulu masih banyak harimau, tidak pernah terdengar berita orang pergi tarawih diterkam harimau. Mungkin karena habitat harimau tersebut belum terganggu.

Bagi anak-anak dan remaja di kota, bulan puasa Ramadan berarti kembali meriah dengan apa yang populer disebut "JJS" (Jalan-jalan subuh). Asmara subuh pun mulai bersemi. Episode ini terlewatkan dalam kenangan Ramadan saya, antara lain tentu disebabkan oleh cara anak muda bergembira memasuki bulan puasa yang berbeda. Di desa, barangkali bukan asmara subuh, tetapi lebih tepat asmara tadarus. Saya ingat persis bagaimana kami bersama-sama dengan remaja-remaja lainnya, putra-putri, adu kebolehan mengaji di masjid. Banyaknya lembaran kitab suci Alquran yang bisa dibaca pada suatu malam akan menjadi bandingan untuk malam-malam berikutnya. Kian hari harus kian banyak, kalau bisa sebelum Ramadan berakhir kita sudah mengkhatamkan Alquran.

Menunaikan puasa Ramadan di luar negeri memi"liki keasyikan tersendiri. Kerinduan terhadap kampung halaman, ayah bunda, dan sanak keluarga terasa lebili indah dari biasanya, ketika belum memasuki bulan Rama"dan. Sebuah kerinduan yang indah tak terlukiskan. Tahun 1991, kebetulan saya menunaikan ibadah puasa Ramadan di kota Reggio Emilia, Italia (kira-kira empat jam dengan kereta api di utara Roma), tempat saya studi selama tujuh bulan. Pada hari pertama puasa, teman sekelas saya, Lalou Fadhilla, seorang gadis Aljazair pemeluk Islam yang fanatik, bertanya kepada saya. "Fratello, apakah Anda puasa Ramadan?" Dia memanggil saya Fratello yang berarti saudara kandung laki-laki. Saya tidak menjawab ya atau tidak. Saya langsung melafalkan ayat Alquran, "Bismillaahirrahmaanirrahiim Ya ayuhalladzina'amanu kutiba'alaikumussiam kama kutibaalallalazi namingkablikum la'allakum tattaqun." Fadhilla menjerit girang, "Hei Fratello, kamu bisa baca Alquran."

Agaknya dia masih belum percaya. Diambilnya Alquran kecil dalam tasnya dan minta saya membacakan beberapa ayat. Tentu tidak ada masalah bagi saya, orang kampung yang besar di surau. Yang menarik adalah, Fadhilla juga merasa sangat rindu kepada kampung halamannya, ingin menunaikan puasa di tengah sanak keluarganya. Kerinduan Ramadan ini barangkali kerinduan yang universal di kalangan umat Islam tidak peduli apa bangsanya. Alangkah luar biasanya bulan Ramadan ini.

Puasa Ramadan memang lain. Ramadan adalah sebuah momentum kita untuk berkontemplasi dan introspeksi. Dalam beberapa pengajian yang pernah saya dengar, puasa Ramadan adalah perisai untuk menghadang kedurhakaan dan dosa di dunia serta dari neraka di akhirat. "Tatkala engkau berpuasa," begitu kata ustad, "Maka janganlah berkata kasar. Jika orang-orang mencacimu atau mengajakmu berkelahi, maka katakanlah, sesungguhnya aku sedang berpuasa." Keburukan iiuak perlu dibalas dengan keburukan, tetapi keburukan justru hams dibalas dengan kebaikan. "Engkau harus ingat," begitu selanjutnya petuah ustad, bahwa engkau berada dalam ibadah yang tidak perlu dinodai. Dengan sepenuh hati engkau bisa memberi tahu, "Aku sedang berpuasa". Marhaban ya Ramadan.


(10-16 Desember 1999)


Tulisan ini sudah di baca 114 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/86-Marhaban-Ya-Ramadan.html