drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 4

Di Sini Senang Di Sana Senang


Oleh : drh.chaidir, MM

Petuah orang tua-tua, "Tiba di mata dipicingkan, tiba di perut dikempiskan. Kalau kusut sama diselesaikan. Bila keruh sama dijernihkan."

Ketika orang belum lagi berbicara tentang win-win world (dunia menang-menang), orang Melayu sudah memiliki tunjuk-ajar tentang penyelesaian suatu pertikaian. "Win-win solution" kata orang Barat. "senamg sama senang" kata orang kita

Pendekatan solusi "menang-menang" sekarang sering dipergunakan dalam mencari jalan keluar dalam suatu masalah. Kelemahan pendekatan ini adalah, proses pengambilan keputusan seringkali memerlukan waktu agak lebih lama, tetapi hasilnya memuaskan semua pihak, di sini senang di sana senang.

Sebuah musyawarah pada hakikatnya adalah bagian dari demokrasi. Sejak dulu orang sudah terbiasa menyelesaikan segala sesuatu persoalan melalui forum musyawarah.

Oleh karena itu, setiap muncul persoalan senantiasa dibawa ke meja musyawarah. Bukti yang tersisa sampai kini adalah berupa ungkapan-ungkapan seperti misalnya, tak ada keruh yang tak dapat dijernihkan, tak ada kusut yang tak dapat diungkai. Banyak lagi tunjuk ajar yang berkaitan dengan win-win solution ini, seperti misalnya:

"Kalau berkuasa jangan aniaya
Bila berduit jangan mengimpit
Kalau besar jangan melanda
Bila bergigi jangan menggigit".


Pendekatan menang-menang tidak memberikan tempat pada konsep yang memperbolehkan adanya tirani minoritas atau dominasi mayoritas. Yang besar jangan "membuldoser" yang kecil. Yang kecil pula jangan keras kepala, jangan "teking". Semua pendapat dan kepentingan diakomodasi secara proporsional. Dalam masyarakat Jawa, paradigma ini populer dengan ungkapan "Sugih tanpa bondo, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake". Kira-kira maksudnya kaya tanpa harta, bertempur tanpa pasukan, dan menang tanpa menyoraki yang kalah. Kalimat-kalimat ini sederhana, tapi sangat filosofis. Untuk menguraikan filosofi ungkapan tersebut, mungkin dibutuhkan waktu bermalam-malam dan itupun tidak di Pekanbaru, tapi di Kesultanan Ngayogyakarta sana.

Konsep pendekatan menang-menang dalam menyelesaikan suatu masalah, mudah diucapkan sulit dilaksanakan, tapibukan mustahil. Dengan kata lain tetap ada peluang untuk mencari sisi-sisi yang sama untuk kemudian dikembangkan, dan melihat sisi-sisi yang berbeda untuk kemudian dihilangkan. Solusi menang-menang sebenarnya bukanlah teknik, melainkan filosofi interaksi manusia. Ada beberapa paradigma alternatif, seperti menang-kalah, kalah-menang, menang-menang, atau tidak sama sekali. Tapi paradigma alternatif ini tidak begitu penting untuk dibicarakan. Paradigma menang-kalah (win-lose) misalnya, tidak aneh. Kita sudah terbiasa dengan pendekatan ini. Paradigma ini mengatakan "jika saya menang, Anda kalah". Pendekatannya otoriter, kekuasaan. Saya mendapatkan apa yang saya inginkan dan Anda tidak mendapatkan apa yang Anda inginkan.

Menang-menang adalah kerangka pikiran dan hati yang terus-menerus mencari keuntungan bersama dalam semua interaksi manusia. Menang-menang berarti bahwa kesepakatan atau solusi memberikan keuntungan dan kepuasan yang timbal balik bagi pihak-pihak yang bertikai. Dengan solusi menang-menang semua pihak merasa senang dengan keputusan yang dibuat dan merasa terikat dengan rencana tindakannya.

Menang-menang melihat kehidupan sebagai arena yang kooperatif. Kebanyakan orang cenderung berpikir secara dikotomi, kuat atau lemah, keras atau lunak, menang atau kalah. Akan tetapi, cara berpikir seperti ini pada dasarnya cacat. Cara berpikir ini didasarkan pada kekuasaan dan jabatan, bukan pada prinsip.

Menang-menang didasarkan paradigma bahwa ada banyak peluang untuk setiap orang, bahwa keberhasilan satu orang tidak dicapai dengan mengorbankan atau menyingkirkan keberhasilan orang lain. Menang-menang adalah kepercayaan akan alternatif ketiga. la bukan jalan Anda atau jalan saya; ia adalah jalan yang lebih baik, jalan kita.

Pencarian solusi dari suatu masalah menjadi suatu kebutuhan pokok masyarakat dunia yang dilanda turbulensi dewasa ini. Permasalahan demi permasalahan tidak terhindarkan akibat intensitas interaksi antarindividu, antarkeluarga, antarkelompok atau (apalagi) antar-negara, sangat tinggi. Aktivitas sosial kemasyarakatan, ada kalanya menimbulkan benturan budaya karena berkaitan dengan persepsi terhadap perubahan nilai-nilai, dan gaya hidup. Secara alamiah benturan peradaban ini akan menimbulkan konflik bagi masyarakat itu sendiri.

Sesungguhnya konflik tentang nilai-nilai dan gagasan adalah sehat, konflik ini akan menjaga kesatuan dalam perbedaan. Hanya konflik-konflik yang tidak berada pada saluran konstruktif akan saling meminggirkan, menimbulkan konflik selanjutnya dan akhirnya menimbulkan kekerasan. Yang menjadi masalah, menjaga konflik agar tetap pada tataran konstruktif, memerlukan kedewasaan.

Penyelesaian konflik nilai-nilai baru tidak hanya untuk menyelamatkan bumi, tetapi yang jauh lebih penting adalah untuk mengembalikan nilai-nilai dasar kekeluargaan, persaudaraan, komunitas, hubungan kasih sayang, dan kesederhanaan. Nilai-nilai ini, yang agaknya terasa mulai longgar dalam masyarakat kita dewasa ini. Orang-orang yang dulu sangat santun, kini menjadi pemarah. Perkelahian antarkelompok demikian mudahnya terjadi. Komunikasi seakan mengalami kebuntuan.

Pendekatan psikologi adalah kunci untuk membantu masyarakat agar mengerti dalam memanfaatkan saluran Konflik yang konstruktif dan bagaimana mempertemukan kebutuhan-kebutuhan dalam norma-norma sosial. Kita punya hak, orang lain juga punya hak, orang lain punya kewajiban, kita juga punya kewajiban.

Pendekatan menang-menang adalah sebuah tawaran. Pendekatan ini dapat dicapai melalui pola-pola aliansi atau kerja sama

yang lebih kooperatif dan saling menguntungkan, dalam tatanan peradaban masyarakat dengan paradigma baru.
Kenapa kita tidak mencoba?



(3-9 September 1999)


Tulisan ini sudah di baca 105 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/85-Di-Sini-Senang-Di-Sana-Senang.html