drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 4

Ombak dan Angin


Oleh : drh.chaidir, MM

Mana yang lebih dulu, ombak atau angin? Sahabat saya di Natuna, di Laut Cina Selatan sana, yang sehari-hari akrab dengan ombak dan angin, tidak bisa menjawab dengan pasti. Tetua bilang, kata kawan saya ini, "Ombak disebabkan oleh angin, tetapi angin juga bisa timbul karena ombak."

Jadi mana yang betul? Kedua-duanya bisa betul, kedua-duanya bisa salah. Persis seperti kontroversi interpretasi dari para pakar kita seputar "bugkot" yang sedang hangat itu, tergantung siapa yang memberikan komentar, atau tergantung siapa yang memesan komentar. Dan juga tergantung siapa pendengarnya. Konon di zaman sekarang komentar bisa disebut laksana bakso, mau pakai kecap asin atau kecap manis. Kecap pula ada yang nomor satu dan ada yang nomor dua. Karena ada yang nomor satu tentu ada yang nomor dua, kan? Nggak mungkin semuanya nomor satu. Bingung? Ngapain bingung-bingung, nanti jadi binun, stadium lanjut dari bingung. Nah kalau sudah sampai pada stadium binun,penginapan yang paling cocok bukan lagi Hotel Prodeo seperti yang ditempati Prof. Ginanjar Kartasasmita itu, tapi "hotel" di Panam pinggiran kota Pekanbaru alias Rumah Sakit Jiwa, alamaaaakl

Barangkali padanan kata yang sesuai dengan ombak dan angin adalah ayam dan telur. Ketika teka-teki alam ini saya ajukan kepada anak saya, dia mantap menjawab, "Jelas ayam, yang bertelur kan induk ayam," katanya.

Tetapi ketika saya sodorkan tesis lain, bukankah ayam menetas dari telur, jadi mestinya telur yang duluan kan? Dia mulai ragu, iya ya?!

Walaupun saya seorang dokter hewan, teka-teki tersebut tidak akan dapat dijawab dengan tuntas. Yang paling enak, jawabannya bisa dipesan, mau bermuatan apa, politik, ekonomi, budaya, atau bermuatan SARA. Persis seperti rasa mie, mau rasa kari, rasa baso, atau rasa ayam bawang. Atau seperti martabak bangka, mau isi kacang, isi durian, keju, ketan hitam, atau cokelat, pokoknya tergantung pada keinginan atau selera pemesan.

Angin lebih dulu dari ombak atau sebaliknya, atau ayam lebih dulu dari telur, atau sebaliknya, bukanlah hipotesis yang harus diuji kebenarannya. Hal itu sesungguhnya bukanlah sesuatu hal yang prinsip yang harus dijawab. Dan juga, bukan ilmu Aljabar yang jawaban soalnya hanya ada pilihan, betul atau sama sekali salah. Fenomena alam memang selalu menarik, dan oleh karena itulah agaknya A.A. Navis, sastrawan Minang yang terkenal ini mengatakan, "Alam terkembang jadi guru". Ada siang ada malam, ada hujan ada panas.

Flamboyan, tulis novelis Ashadi Siregar, sekali tempo akan gundul, tetapi kemudian akan kembali berdaun hijau di musim penghujan. Kacang pula, jangan ditanya, memang selalu lupa akan kulitnya.

Realitas kehidupan acapkali merupakan pancaran dari fenomena alam, atau lebih tepat agaknya, alam suka sekali menyindir dan menertawakan realita hidup dan kehidupan anak manusia. Alam sesungguhnya sering memberikan tanda-tanda zaman dan sering pula memberikan falsafah kehidupan seperti angin dan ombak itu, yang tak pernah letih berupaya mencapai pantai.

Tema bughot, yang sedang ramai diperkatakan itu, telah memperkaya khazanah wacana kita dewasa ini. Lihatlah dari aspek ini saja, jangan dari sudut yang lain-lain. Dan barangkali, itu adalah nilai positif yang paling mudah yang dapat kita cerna dari perdebatan yang cukup seru akhir-akhir ini tentang bughot. Bughot memang bukan kosakata yang umum dipergunakan, sehingga kedengaran agak aneh dan mengundang tanya. Ada yang bilang, bughot itu sama dengan makar, suatu kesalahan yang paling tinggi tingkatnya di mata pemerintah dan oleh karena itu orang yang melakukannya sah hukumnya dibunuh. Tapi ada yang bilang bughot itu bukan makar. Bingung kan?

Asyiknya lagi, semua yang memberikan komentar, baik yang pro maupun kontra, adalah orang-orang yang selama ini kita kenal sebagai manusia-manusia unggul, manusia-manusia bijak tempat kita bertanya. Kata tetua, "Tempat bertanya adalah pada orang yang bijak." Maka menurut hemat saya, lihatlah perdebatan tentang bughot itu dari kaidah-kaidah komunikasi saja, untuk memperkaya pengetahuan, jangan masukkan betul ke dalam hati.

Di sana ada pesan, di sana ada komunikator (pembawa pesan), dan di sana ada komunikan (penerima pesan). Komunikator yang baik akan mengubah pesan buruk menjadi baik, sebaliknya komunikator yang kurang baik akan memelintir pesan baik menjadi buruk. Komunikan juga tidak sama tinggi "antena"-nya. Daya serap mereka terhadap pesan yang dibawakan oleh sang komunikator berbeda-beda.

Faktor-faktor yang mempengaruhi daya serap ini bermacam-macam, sebut saja tingkat pendidikan, latar belakang pendidikan, agama, suku, latar belakang budaya, atau lingkungan pergaulan. Ibaratnya, seseorang mungkin sudah mabuk dengan hanya satu botol bir, sementara orang lain baru mabuk setelah minum tiga botol. Tetapi ada juga yang minum setengah botol saja sudah mabuk, bahkan ada yang lebih konyol, belum minum sudah mabuk.

Oleh karena itu, bisa dipahami, respon berbagai kelompok dalam masyarakat terhadap perdebatan para pengamat dan ucapan orang-orang hebat di Jakarta sana, memang bervariasi. Ada yang teeenang-teeenang saja, ada yang diam-diam pasang kuda-kuda, namun ada yang langsung sakau sesakau-sakaunya.

Kita memang berbeda-beda seperti pengakuan pendiri bangsa kita ini, sehingga muncul moto "Bhinneka Tunggal Ika". Tetapi tidak semestinya pemahaman kita tentang kebenaran bisa dipelintir-pelintir. Bukankah kebenaran itu universal? "Alam terkembang jadi guru," kata A. A. Navis, tetapi kita selalu terlambat belajar, bahkan seringkali tidak mampu melihat kenyataan, apalagi melihat tanda-tanda zaman. Ingat sajalah petuah orang tua-tua: kalau pandai meniti buih alamat sampai ke seberang. Petuah ini tidak hanya berlaku untuk Gus Dur, tetapi juga untuk Mbak Mega, Amin, dan Akbar, bahkan bagi siapa saja. Ombak tidak akan pernah berhenti menerpa pantai, tergantung kita saja. Kalau takut dilanda ombak jangan berumah di tepi pantai.



(20-26 April 2001)


Tulisan ini sudah di baca 109 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/84-Ombak-dan-Angin.html