drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 4

Gunung Es


Oleh : drh.chaidir, MM

Jack Dolson dan pacarnya, Rose, sedang berciuman ketika "Titanic", kapal mewah yang mereka tumpangi, menabrak sebuah gunung es. Kapal itu, secara perlahan, kemudian tenggelam ke dasar samudra. Jack Dolson mati beku kedinginan. Namun Rose, diselamatkan oleh sebuah kapal barang.

Titanic adalah sebuah film spektakuler yang memenangkan 11 Auidemy award. Film ini diangkat dari kisah nyata, judulnya pun diambil dari nama kapal penumpang tnggris, "Titanic", yang tenggelam dalam pelayaran perdananya menyeberangi Samudra Atlantik, dari Southampton, Inggris, menuju New York, pada tanggal 14 April 1912.

Menurut versi kisah nyata, kapal Titanic dilepas dalam suatu upacara sangat meriah. Upacara pelepasan di pelabuhan Southampton tersebut, juga disaksikan oleh ribuan orang yang mengelu-elukan keberangkatan Titanic.

Ironisnya, pada malam pertama pelayarannya, kapal mewah itu menabrak sebuah gunung es di sekitar New Founland pada kecepatan penuh. Hanya dalam tempo 2 jam 40 menit, kapal mewah yang mengangkut kalangan selebritis itu tenggelam ke dasar Samudra Atlantik.

Masih dalam versi kisah nyata, sekitar 1500 orang dari 2200 orang penumpangnya mati tenggelam atau mati kedinginan. Tragisnya, kapal Titanic ternyata tidak memiliki sekoci penolong dan perlengkapan penyelamatan yang memadai. Pasalnya? Pembuat kapal mewah itu mengatakan Titanic tidak mungkin tenggelam.

Kisah nyata itu, kemudian difilmkan oleh Paramount Pictures dan Twentieth Century Fox, dua perusahaan perfilman raksasa di Hollywood, Amerika Serikat. Kedua perusahaan raksasa itu membuat film tersebut amat mengesankan. Sutradara James Cameron berhasil menyedot emosi penonton dan melambungkan nama bintangnya Leonardo diCaprio, yang berperan sebagai Jack Dolson, dan Kate Winslet sebagai Rose.

Kisah nyata Titanic yang amat tragis itu, mengingatkan kepada kita dua hal sekaligus. Pertama, betapa kesombongan anak manusia ditundukkan oleh Yang Maha-kuasa melalui fenomena alam yang bernama gunung es (iceberg). Kedua, betapa dahsyatnya benda alam gunung es itu, sehingga demikian saja menenggelamkan kapal yang paling mewah ketika itu. Gunung es di laut ternyata lebih misterius dan berbahaya daripada gunung es di darat (tapi bukan karena gunung es di laut memiliki jin).

Gunung yang memiliki jin, konon, adalah Gunung Bromo di Jawa Timur, yang katanya siiiih (menurut seorang kawan yang punya akses ke kalangan paranormal), jinnya baru-baru ini ikut rombongan Presiden Abdurrahman Wahid ke Tanjung Pinang. Nggak percaya? Tanya saja ke Gunung Bromo sana. Jangan tanya Gus Dur, sebab jawabannya sudah bisa diduga, "Gitu aja kok diurusin...."

Kita tidak ulas mengenai kesombongan anak manusia itu, tetapi mengenai gunung es menarik untuk dielaborasi. Gunung es di laut memang misterius, karena benda ini sulit diduga. Konon, menurut para ahli, apabila Anda melihat sebuah gunung es di laut, maka yang terlihat berkilau indah muncul di atas permukaan laut hanya seperenam bagian dari gunung es tersebut, lima bagian lainnya tenggelam di bawah permukaan laut. Dan sesungguhnyalah tidak ada yang tahu persis seberapa besar kaki gunung yang berada di bawah permukaan laut.

Sebuah gunung es tidak bisa diketahui dengan pasti bagaimana anatominya. Apakah bulat, lonjong, persegi, atau seperti cadas. Akibatnya, bagian di bawah permukaan laut adalah bagian yang misterius. Maka kemudian muncullah teori gunung es.

Dalam psikologi masyarakat, teori gunung es ini sering diadopsi. Gunung es dan masyarakat tentu berbeda, tetapi dalam konsep perilakunya hampir sama dan para pakar seringkali membandingkannya atau paling tidak dipakai sebagai perumpamaan.

Masyarakat kita pada dasarnya adalah laksana Sebuah gunung es, misterius dan sulit diduga. Apa yang terjadi sehari-hari, yang bisa kita amati dari masyarakat kita, adalah perilaku. Ini yang tampak di permukaan. Orang mudah membunuh dengan kejam, membakar dengan beringas, mencaci maki membabi buta, saling fitnah satu dan lainnya, semuanya adalah tingkah laku yang dapat diketahui dan disaksikan dengan mata.

Padahal tingkah laku itu tidak muncul dengan tiba-tiba. Dia mencerminkan sikap. Sikap dipengaruhi oleh latar belakang budaya, adat istiadat, agama, pendidikan, keluarga, tempat bersekolah, pergaulan, bahkan juga lingkungan masyarakat di mana seseorang dibesarkan.

Latar belakang tersebut tidak hanya terlihat dalam perbedaan perilaku, bahkan bisa menimbulkan perbedaan respons terhadap stimulus, perbedaan persepsi dan perbedaan opini terhadap sesuatu isu. Memang menurut George Carslake Thompson dalam bukunya The Nature of Public Opinion, dalam menghadapi isu tertentu, sikap masyarakat dapat berbeda-beda. Perbedaan itu disebabkan tiga hal.

Pertama, perbedaan pandangan terhadap fakta, walaupun faktanya sama. Jadi dengan fakta yang sama, orang bisa melihatnya dari berbagai sudut pandang. Kedua, perbedaan cara-cara mencapai tujuan; dan yang ketiga, perbedaan motivasi.

Dalam perspektif teori gunung es itu, kita tidak tahu dengan persis apa sebenarnya yang menjadi latar belakang berkembangnya perilaku aneh masyarakat kita, dari semula masyarakat yang santun dan ramah menjadi masyarakat yang pemberang. Demikian besarkah pengaruh perubahan yang terjadi terhadap sikap dan perilaku masyarakat sehingga demikian saja meluluhkan nilai-nilai yang selama ini dipegang teguh.

Tidak ada jalan lain, bila iugin inenemukan jawaban yang tepat terhadap perubahan perilaku masyarakat kita dan mencarikan jalan keluarnya, kita harus menyelami latar belakang kehidupan masyarakat itu sendiri. Cermat membaca yang tersurat dan arif membaca yang tersirat. Semakin diselami akan semakin kelihatan bahwa pendekatan-pendekatan uniformitas untuk berbagai kelompok masyarakat tidak efektif.

Masyarakat kita laksana gunung es dan kita tidak ingin bernasib seperti Titanic itu.


(23-20 April 2001)


Tulisan ini sudah di baca 188 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/83-Gunung-Es.html