drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 4

Habis Gelap Terbitlah Terang


Oleh : drh.chaidir, MM

Mana yang lebih beruntung antara kedua Kartini. Kartini yang istri bupati kemudian lantas mati muda, atau Kartini yang dituduh berzina, tapi kemudian selamat dari hukuman rajam sampai mati.

Keduanya barangkali sama enak dan sama tidak enak. Namun itulah nasib dua Kartini yang hidup dalam dua zaman yang berbeda. Keduanya tentulah tidak pernah minta dilahirkan untuk mengalami nasib yang ditakdirkan tragis. Kartini yang istri Bupati, namanya lengkapnya adalah Raden Ajeng Kartini, putri Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Joyodiningrat. Maka "darah biru" sangat kental mengalir dalam tubuhnya.

Tapi Kartini bangsawan ini tidak beruntung karena meninggal hanya setahun setelah menikah. la mati muda dalam usia 25 tahun. Yang kemudian terasa menyesakkan adalah bahwa ternyata Kartini istri sang Bupati Rembang ini bukan orang sembarangan dalam kapasitasnya sebagai manusia. Kartini sebenarnya mempunyai cita-cita yang sangat tinggi dan mulia. Dia memiliki pemikiran-pemikiran besar yang melintasi zamannya. Daya jelajah pikirannya luarbiasa. Dia ingin bersekolah tinggi seperti kawan-kawan sekolahnya, gadis-gadis Belanda. Cita-cita tinggal cita-cita. Kartini tidak pemah mengenyam sekolah tinggi seperti teman-teman "londo"nya itu. Tapi itu bukan bermakna Kartini berhenti berpikir untuk kaumnya.

Raden Ajeng Kartini menginginkan wanita-wanita Jawa diberi kesempatan yang lebih baik, tidak usah dipingit untuk kemudian hanya bekerja di dapur dan kemudian melahirkan anak-anak. Seorang putri bangsawan Jawa, yang lingkungannya sangat feodalistik, memiliki pemikiran yang demikian, seperti Kartini itu, tentulah terlarang. "Panggil aku Kartini saja," katanya dalam sebuah surat yang didokumentasi dengan baik oleh kawan-kawannya. RA Kartini telah berpikir tentang emansipasi perempuan ketika perempuan-perempuan di Jawa ketika itu belum memikirkannya. Dia telah mampu mengagregasi dan mengartikulasikan kehendak-kehendak perempuan yang tidak pernah terdengar, tapi dapat dirasakannya, walaupun itu hanya dalam bentuk surat-surat pribadi. Tapi itu sesuatu yang sudah maksimal ketika itu. Keadilan gender yang mulai hangat diperbincangkan oieh dunia sejak era 1970-an - lebih dari seabad kemudian - telah menjadi pergolakan pemikiran RA Kartini.

Dia tidak bisa mengubah keadaan secara fisik, tidak juga bisa berunjuk rasa seperti sekarang. Oleh karena itu, Kartini hanya bisa "curhat" kepada sahabat-sahabatnya. Cita-cita dan pemberontakan pemikirannya itu dituangkan melalui surat-surat yang ditujukan kepada sahabat-sahabatnya tidak hanya yang berada di Jakarta (Batavia), tetapi juga kepada teman-temannya yang berada di Negeri Belanda nun jauh di sana. Kartini mungkin tidak pernah menyangka bahwa curhatnya yang mengandung muatan sosiologis itu suatu saat akan diterbitkan, tidak hanya dalam bahasa Indonesia tetapi, juga dalam bahasa Belanda dan Inggris. Habis Gelap Terbitlah Terang adalah kumpulan surat-suratnya yang sangat terkenal dan pantas dikenang.

Kartini memang menjadi legenda, namanya pun diabadikan dalam dalam berbagai monumen di berbagai kota, bahkan Kartini pun tidak jarang dipergunakan dalam bahasa metafora. Pejuang wanita dalam berbagai bidang disebut Kartini. Bahkan juga tidak sedikit yang hanya sekadar meminjam nama. Termasuk Kartini, Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia yang bekerja di Uni Emirat Arab itu.

Kartini yang dituduh berzina ini, agaknya juga orang yang mempunyai cita-cita tinggi, orang yang tidak mau menyerah begitu saja kepada keadaan. Dia ingin mengubah nasibnya sendiri dan nasib keluarganya, dengan caranya sendiri, yakni menjadi TKW. Dia menggantungkan harapan yang tinggi dan memberontak terhadap keadaan di sekitar kampung halamannya yang sama sekali tidak menjanjikan perubahan dan harapan apa-apa. Sampai kemudian dia memutuskan untuk inengadu nasib jauh-jauh sampai ke Timur Tengah, meninggalkan keluarganya di tanah air. Sebagai manusia biasa dia kemudian menyerah kepada keadaan. Kita tidak memperdebatkan apa, mengapa dan bagaimana kesalahan itu dilakukannya. Mungkin tertekan oleh keadaan, mungkin karena ketidak sempurnaannya sebagai manusia. Yang pasti dia diancam dengan hukuman rajam sampai mati. Sebuah vonis yang amat mengerikan.

Namun berita terakhir yang kita dengar, ada titik-titik terang bahwa Kartini yang TKW ini akan lolos dari sergapan Hukum Pengadilan Syariah di kota Fujairah, Uni Emirat Arab. Kalau berita ini benar, maka sampai episode ini, nasib Kartini yang satu ini, agaknya sedikit lebih beruntung dari Kartini istri Bupati Rembang itu.

Tetapi sesungguhnya membandingkan kedua Kartini ini tentulah suatu pekerjaan yang mengada-ada. Kartini dan Kartini memang berbeda. Kalau kedua Kartini ini mau disebut memiliki hubungan saudara, itu tentulah karena keduanya sama-sama cucu Adam dan keduanya sama-sama dilahirkan di Nusantara ini. Selebihnya tidak. RA Kartini, karena pemikiran-pemikiran maju yang dituangkannya dalam surat-surat yang dikirimkan kepada sahabat-sahabatnya dan kemudian diterbitkan, telah ditetap sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 2 Mei 1964. Dan tanggal 21 April, hari lahir RA Kartini pada tahun 1879, ditetapkan menjadi hari nasional, Hari Kartini sampai sekarang.

Kartini binti Karim, yang kini masih mendekam menunggu nasib dalam penjara di Uni Emirat Arab itu, menjadi isu nasional. Kisah tragisnya berhasil memancing Menteri Pemberdayaan Perempuan, Ibu Khofifah Indar Parawansa untuk turun tangan. Kita belum tahu persis bagai mana ending dari kisah Kartini yang memancing simpati duma ini.

Andai RA Kartini di alam baka sana bisa memberi motivasi, agaknya beliau akan berkomentar: "Sabar, Nduk. Habis gelap terbitlah terang."



(21-27 April 2000)


Tulisan ini sudah di baca 166 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/82-Habis-Gelap-Terbitlah-Terang.html