drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 4

Hari Perempuan


Oleh : drh.chaidir, MM

Hari Ibu atau Hari Wanita atau Hari Perempuan, apa bedanya? Barangkali berbeda, barangkali juga tidak, tergantung suasana hati ketika sedang memikirkannya. Yang penting bukan peristilahannya, tetapi substansi apa yang diusung.

Ibu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Balai Pustaka, adalah orang perempuan yang telah melahirkan seseorang; sebutan untuk wanita yang telah bersuami; atau, panggilan yang takzim kepada wanita yang sudah atau belum bersuami. Wanita menurut kamus yang sama, adalah perempuan dewasa. Wanita karier berarti wanita yang berkecimpung dalam kegiatan profesi (usaha, perkantoran, dan sebagainya). Yang agak seru adalah definisi tentang perempuan. Kamus itu menyebutkan, perempuan adalah; "Orang (manusia) yang mempunyai puki, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui".

Kata "perempuan" agaknya lebih luas penggunaannya daripada kata "ibu" atau "wanita". Tetapi secara biologis ketiga istilah ini artinya sama.
Oleh karena itu, barangkali istilah Menteri Pemberdayaan Perempuan lebih luas maknanya daripada Menteri Pemberdayaan Wanita. Wanita dalam perspektif sosial adalah perempuan-perempuan yang sudah mapan yang tidak memerlukan lagi pemberdayaan. Istilah Tenaga Kerja Wanita (nakerwan) barangkali juga harus diganti dengan Tenaga Kerja Perempuan. Jadi, Ibu Khofifah memang harus lebih banyak mencurahkan tenaga dan pikirannya kepada "perempuan" yang dalam perspektif sosial memiliki stigma lebih banyak ketimbang "wanita".

Peringatan Hari Ibu kali ini adalah peringatan terakhir dalam abad XX. Ini sebuah momentum perenungan terhadap hari-hari panjang yang telah dilalui selama satu abad. Para perempuan tentu tidak perlu susah berdebat tentang nama yang dipergunakan, mau Kementerian Wanita, Kementerian Perempuan, Kementerian Hawa, boleh. Yang terlarang adalah Kementerian Betina, sebab ini hanya untuk komunitas sapi atau kerbau. Apalah artinya sebuah nama kan? Orang tidak akan menyorot namanya, tetapi akan sangat concern terhadap apa yang dilakukan oleh kementerian ini.

Deng Xiao Ping bilang, "Tidak peduli warna kucing itu hitam atau putih yang penting bisa menangkap tikus." Ada atau tidak Kementerian Perempuan, Hari Ibu tetap ada dan tetap diperingati. Tetapi diperingati sekalipun kalau tidak memberikan makna introspeksi apa gunanya. Banyak masalah yang perlu direnung, kenakalan anak-anak dan papanya, narkoba, mutu pendidikan, dan sebagainya. Dan kalau mau lebih keren sedikit ada masalah "gender", emansipasi, dan kesetaraan. Apalagi ketika kita akan memasuki Milenium III, kenyataannya hegemoni laki-laki atas perempuan melalui budaya patriarkat masih saja terjadi hampir di semua masyarakat di dunia, ha-nya sedikit yang menganut mahzab matriarkat. Dalam masyarakat Jawa bahkan trilogi peran wanita yang dikenal dengan istilah "3-M" (Macak - Manak - Masak) masih belum sepenuhnya lekang. Macak-manak-masak (berdandan, melahirkan anak, memasak) adalah peran yang telah lama mengungkung perempuan di Jawa dan saya belum pernah membaca hasil penelitian yang menghilangkan peran ini. Agaknya laki-laki lebih cenderung membiarkan peran itu.

Adolf Hitler, pemimpin Partai Nazi Jerman yang terkenal itu pernah bilang: "Dunia wanita adalah suami, keluarga, anak-anak, dan rumahnya. Kita beranggapan tidak pada tempatnya apabila wanita masuk ke dalam dunia laki-laki." Tapi Hitler kan memang kejam, dan eranya telah lama berlalu.

Dulu, jangankan jabatan gubernur, bupati saja diklaim oleh laki-laki sebagai jabatan yang hanya cocok untuk pria. Sekarang, jangankan gubernur, presiden saja bisa. Persoalan Ibu Mega hanya menduduki Wakil Presiden, itu karena hanya kalah dalam pemungutan suara. Artinya, kesempatan Gus Dur atau Ibu Megawatt untuk terpilih dan untuk tidak terpilih, secara teoritis ketika itu kan sama besarnya.

Pada tahun 1990, Joan Finney mencatatkan diri di lembaran sejarah sebagai wanita pertama yang menjadi Gubernur Negara Bagian Kansas (dan merupakan satu-satunya negara bagian dalam sejarah Amerika Serikat yang dipimpin oleh seorang wanita, sampai saat itu, setelah dua ratus tahun lebih merdeka).

Kita, baru 54 tahun merdeka, kaum hawanya telah berhasil menjadi wakil presiden, bahkan hampir jadi presiden. Dalam sebuah obrolan ringan baru-baru ini dengan Mr. Gary Fitzgerald, Managing Director PT. CPI yang suka berpantun itu baru-baru ini, dia mengatakan: "Kami (maksudnya Amerika Serikat) belum pernah punya pengalaman bagaimana dipimpin oleh seorang presiden wanita", ujarnya tersenyum. Jadi wanita Indonesia hebat kan?

Dianne Fienstein, Walikota wanita pertama megapolitan San Fransisco, menuliskan kesannya. Jauh lebih sulit bagi seorang wanita untuk berhasil dalam dunia politik dibandingkan dengan pria. Wanita harus selalu membuktikan bahwa mereka pantas dan bisa diandalkan. Kunci keberhasilan wanita dalam jabatan pemerintahan adalah menjadi "orang yang bisa diandalkan".

Susahnya, tidak ada model peran politik bagi seorang anak perempuan. Booles dan Swan menyebutkan dalam buku Power Failure, dalam satu jajak pendapat di Amerika Serikat, "Hampir semua pria tidak ragu-ragu bahwa mereka berhak menjadi presiden, sedangkan hampir semua wanita bersikap sebaliknya." Tapi itu di Amerika. Di negeri tercinta ini, ada seorang teman pria mengatakan, "Tanpa adanya wanita revolusi tidak akan selesai, tanpa adanya wanita, reformasi tidak akan tercapai, percayalah."Itu jelas sentimentil. Tapi yang ini pernyataannya rada sombong. "The best man for the job is a woman", begitu terpampang di meja kerja Ibu Sri Soedarsono, seorang ibu pekerja sosial yang sangat aktif di Batam. Kira-kira maksudnya, orang terbaik untuk suatu tugas adalah wanita. Dalam hati saya berkata, bukan main! Tapi sebagai seorang laki-laki saya tidak perlu tersinggung dengan moto tersebut. Itu kan sugesti. Sebab ada tip dari Rasulullah Saw. "Sebaik-baik wanita adalah jika engkau lihat, engkau merasa senang, dan jika engkau suruh ia selalu menaatimu, dan jika engkau tidak berada di sisinya ia selalu menjaga dirinya dan hartamu".


(24-30 Desember 1999)


Tulisan ini sudah di baca 100 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/81-Hari-Perempuan.html