drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 4

Mulutmu Harimaumu


Oleh : drh.chaidir, MM

Albert Einstein pernah berujar, "Jangan sekali-kali melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani, sekali pun itu dituntut oleh negara".

Suatu ketika, seorang ibu bertanya melalui dialog interaktif di TVRI kepada Ibu Khofifah Indarparawansa, mantan wakil Ketua DPR RI yang kini duduk dalam Kabinet Persatuan Nasional sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan. Pertanyaannya kira-kira demikian, "Apakah tidak akan ada kendala bagi Presiden Gus Dur dengan keterbatasan pada indra matanya?" Khofifah menjawab dengan tangkas, "Justru dengan mata hatinya Gus Dur akan mampu melihat dengan tajam permasalahan yang dihadapi oleh rakyat. Yang banyak terjadi sekarang, orang memiliki kesempurnaan fisik pada matanya, tapi mata hatinya buta."

Menteri Khofifah agaknya benar, kalau kita harus memilih dari pilihan yang sangat sulit seperti itu, tentu kita akan memilih orang yang mata hatinya tidak buta. Hati adalah sudut di mana nurani bertempat tinggal. Bila kemudian menjadi hati nurani maka ia akan menjadi alat kontrol yang paling peka bagi pikiran dan perilaku seseorang. Kebenaran hati nurani adalah kebenaran yang hakiki. Ketajaman mata hati dan predikat kiai adalah garansi terhadap kejujuran dan kelurusan pribadi Gus Dur yang diharapkan oleh masyarakat akan dapat menga-lahkan kelemahan physically. Itulah agaknya salah satu pertimbangan kuat mengapa anggota DPR kita "gila" memilih Gus Dur.

Gus Dur adalah presiden yang terpilih secara demokratis dan oleh karenanya memiliki legitimasi yang kuat. Dia bukan terpilih di antara yang terjelek tetapi terpilih di antara putra-putra bangsa terbaik. Begitu selalu kita ucapkan bila memilih seorang pemimpin. Masyarakat menerima kenyataan, memang betul setiap insan itu memiliki kelebihan dan kekurangan. Kekurangan berupa ketidaksempurnaan pada indra penglihatan Gus Dur me-rupakan suatu blessing in disguise bagi bangsa Indonesia. Hikmahnya, dunia internasional kelihatannya menaruh simpati kepada Gus Dur.

Lihatlah bagaimana Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dengan antusias menyambut kunjungan Presiden Abdurrahman Wahid. Konon cara Presiden Clinton memperlakukan kepala negara lain yang menjadi tamunya merupakan tolok ukur tingkat apresiasinya terhadap seorang pemimpin. Dan Presiden Abdurrahman Wahid mendapatkan perlakuan yang sedikit agak istimewa.

Tidak hanya Bill Clinton, tokoh-tokoh yang berpengaruh di rantau ini pun, seperti Dr. Mahathir Mohamad, Goh Chok Tong, dan Lee Kuan Yew, menunjukkan penghargaan yang baik kepada Presiden Abdurrahman Wahid. Bahkan Lee Kuan Yew, mantan Perdana Menteri Singapura yang sukses itu, tidak keberatan bila Gus Dur memintanya menjadi penasihat ekonomi, seperti apa yang dilakukan oleh Lee Kuan Yew terhadap Korea Selatan. Masyarakat mulai yakin bahwa Presiden Abdurrahman Wahid memang memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain, terlepas apakah Gus Dur sungguh-sungguh memiliki ratusan jin atau tidak. Oleh karenanya secara internal di dalam negeri, terpilihnya Gus Dur sebagai presiden langsung menurunkan eskalasi kerusuhan secara kuantitatif, paling tidak sampai saat tulisan ini dibuat.

Tetapi yang namanya kelemahan manusiawi, juga tidak bisa ditutup-tutupi. Kelemahan dan kekurangan Gus Dur ternyata bukan terletak pada keterbatasan fisik-nya. Kelemahan yang bukan kelemahan physically justru lebih menonjol. Kelemahan yang paling mengedepan adalah kegemaran Gus Dur yang suka "ceplas-ceplos", berbicara suka-suka. Dia lupa bahwa sekarang dia bukan lagi seorang aktivis LSM, dia adalah seorang presiden. Memang di era reformasi ini, ucapan seorang presiden tidak segala-galanya, ucapan seorang presiden bukanlah sabda pandita ratu. Tetapi tidak lantas seorang presiden boleh berbicara sesuka hatinya. Tidak usah seorang presiden. seorang rakyat biasa pun tidak boleh berbicara sesukanya. "Mulutmu harimaumu," kata orang bijak. Artinya jaga mulutmu dan ucapan-ucapan yang tidak perlu. Ucapan-ucapan yang tidak terkendali justru akan menimbulkan bahaya bagi si empunya mulut.

Rasanya sukar dicerna akal sehat bahwa Presiden Abdurrahman Wahid berbicara dalam kualitas yang sa-ngat tidak memadai, yang sebenarnya hanya pantas diu-capkan oleh seseorang yang undergraduate. Tapi itu kenyataan yang kita hadapi sehari-hari belakangan ini. Presiden gemar sekali rnembuat statement yang konotatif bah-kan sampai kepada yang kontroversial. Presiden agaknya lupa, bahwa rata-rata tingkat pendidikan rakyatnya adalah setingkat sekolah dasar. Dengan tingkat pendidikan yang demikian sukar diharapkan tumbuhnya pengertian terhadap ucapan-ucapan yang memiliki abstraksi tinggi. Justru ucapan yang kontroversial besar sekali peluangnya dipelintir dan menjadi "bias".

Perkataan seseorang berada dalam suatu medan yang tidak terbatas lapangannya. la mempunyai peranan dalam lapangan kebaikan, demikian juga dalam lapangan keburukan. Maka sebenarnya, barang siapa yang mengumbar keasyikan berbicara dan menyepelekan akibatnya begitu saja, setan akan menuntunnya ke jalan yang buruk. Setan akan terus membuat perangkap-perangkap sampai orang itu benar-benar terperosok ke dalam jurang.

Seorang teman yang sering memberikan ceramah agama, membisikkan kepada saya, bahwa manusia tidak akan dijebloskan ke dalam neraka karena hidungnya, melainkan karena apa yang dilakukan oleh lidahnya.

Rasanya mustahil Gus Dur tidak mengetahui itu. Dan rasanya mustahil Gus Dur tidak memahami bahwa orang yang selalu berada dalam kendali syariat adalah orang vang tidak mengumbar kata-katanya, kecuali untuk hal-hal yang mendatangkan manfaat. Orang yang berada dalam kendali syariat ini juga mengekang lidahnya dari segala ucapan yang dikhawatirkan akibatnya. Dia selalu mengetahui hal terpuji dari ucapannya atau hal tercela yang tersembunyi di balik kata-katanya.

Ketajaman mata hati mestinya mampu mengendalikan perilaku lidah dan mulut. Ingatlah, mulutmu harimaumu!


(21-27 Januari 2000)


Tulisan ini sudah di baca 158 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/80-Mulutmu-Harimaumu.html