drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 4

Makluk Sempurna


Oleh : drh.chaidir, MM

Makhluk hidup yang bernama manusia, dengan akal pikirannya, telah mengubah wajah dunia dan dirinya sendiri. Oleh karena itu, makhluk ini disebut Homo sapiens: manusia si pemikir.

Akal pikiran dan kemampuan berbicara adalah sesuatu yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya yang bernama bewan. sehingga manusia disebut sebagai makhluk sempurna. Hewan tidak memiliki akal pikiran dan tidak bisa berbicara sehingga tidak layak disebut makhluk sempurna.

Tapi benarkah manusia itu makhluk yang sempurna? Sebuah kesempurnaan berarti manusia mampu menggunakan akal pikirannya dan bertindak tanpa cacat sedikit pun. Tidak ada satu orang pun yang tahu berapa persen sebenarnya kemampuan potensial berpikir manusia itu telah dipergunakannya secara efektif sehingga mereka bisa berpikir sempurna.

Ada sebuah anekdot, dalam satu bursa otak di luar negeri, ternyata harga otak yang paling mahal adalah otak orang Indonesia. Kenapa demikian? Usut punya usut, ternyata otak orang Indonesia rupanya jarang dipergunakan, sehingga relatif masih baik. Ibarat mobil, kilometernya baru sedikit. Kalau otak orang Jepang sudah lusuh karena terlalu sering dipelasah.

Sebagai makhluk, oke, manusia adalah makhluk sempurna, tetapi kalau sudah disebut sumber daya manusia (SDM), ceritanya akan lain. SDM adalah potensi manusia yang dapat dikembangkan untuk proses produksi dalam skala apa pun. Sebagai faktor produksi jelas manusia tidak lagi sempurna. Dia memiliki banyak kekurangan; tingkat pendidikan, keterampilan, pengalaman, etos kerja, dan seterusnya. Semuanya merupakan kelemahan SDM kita.

Karena ketidaksempurnaan sebagai faktor produksi itu, maka muncullah akal pikiran dari sedikit manusia yang telah berkualitas untuk memberdayakan SDM ini. Para pakar ini mengamati dengan cermat perilaku manusia, tabiatnya, bahkan juga habitatnya, kecenderungan-kecenderungannya, dan seterusnya. Hasil pengamatan itu dicocok-cocokkan dengan realitas dalam berbagai situasi dan kondisi sampai akhirnya mereka membuat asumsi-asumsi.

Douglas McGregor misalnya, membuat asumsi, manusia terbagi dalam dua kelompok. Ada manusia "X" ada manusia "Y".

Dalam Teori X, manusia digambarkan memiliki karakter malas bekerja; kalau bisa menghindari, mereka akan menghindari pekerjaan dan menghindari tanggung-jawab. Mereka harus dipaksa bekerja, selalu diawasi dan diarahkan. Ada bos mereka bekerja, tak ada bos mereka "cabut"; rasa tanggung jawabnya kurang. Mereka juga harus diancam dengan sanksi atau hukuman agar bisa menyelesaikan target pekerjaan. Tipe manusia ini selalu mencari aman. Mereka tidak berani mengambil risiko. Padahal kata orang tua-tua, "no risk no money, more risk more money" (jangan mengharapkan uang bila tidak berani mengambil risiko, semakin tinggi faktor risiko, semakin banyak uangnya). Tipe manusia dalam Teori Y memiliki karakter agak lain. Mereka menganggap bekerja adalah sesuatu yang wajar yang harus dilakukan oleh setiap manusia yang berbudaya. Pengawasan dari atasan apalagi dengan ancaman sanksi atau hukuman bukan satu-satunya cara agar manusia ini bekerja dengan baik. Tipe manusia ini komit dengan sasaran yang telah ditetapkan dan selalu berada dalam kesadarannya yang tinggi untuk bekerja tanpa harus menunggu perintah atau petunjuk. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah menghindari tanggung jawab. Manusia tipe ini selalu memiliki derajat imajinasi dan improvisasi yang tinggi, cerdik, dan kreatif dalam memecahkan masalah yang dihadapi oleh unit kerjanya. Etos kerjanya tinggi. Oleh karena itu, mereka akan mampu berkiprah dalam kehidupan masyarakat modern yang berbasis ilmu pengetahuan (knowledge base society). Tipe manusia seperti ini tentu lebih mudah menyesuaikan diri dalam era globalisasi yang sekarang sedang kita hadapi.

Kedua set asumsi itu jelas menunjukkan perbedaan yang nyata. Teori X adalah orang-orang yang pesimis, statis, dan kaku. Sebaliknya dengan Teori Y, mereka adalah orang-orang yang optimis, dinamis, dan fleksibel. Mereka mampu mengendalikan diri sendiri dan mampu menempatkan kebutuhan individu secara harmonis dalam kebutuhan organisasi.

Ada banyak model pendekatan pengelolaan manusia dalam organisasi, tetapi tidak ada salah satu model yang sungguh-sungguh memuaskan untuk menjelaskan secara tuntas tentang perilaku manusia dalam organisasi. Namanya juga manusia. Manusia itu dapat berbeda dalam situasi yang sama pada saat yang berbeda. Dalam suatu situasi manusia menunjukkan sikap yang rasional, tapi dalam agenda yang sama pada saat yang berbeda mereka bisa bersikap emosional. Oleh karena itu, menurut John J. Morse dan Jay W. Lordsch, pendekatan yang paling efektif adalah pendekatan yang berbeda untuk situasi yang berbeda.

Manusia tidak hanya mengharapkan sekadar uang dari pekerjaannya, mereka biasanya lebih mengharapkan pengembangan kapabilitas, kapasitas, kompetensi dan pengembangan potensi mereka. Dan kesalahan seorang pimpinan biasanya selalu underestimate terhadap bawahannya. Mereka menganggap bawahannya bodoh dan hanya membutuhkan uang semata.

Manusia jelas berbeda satu dengan yang lainnya. Kepala sama hitam, tetapi pikirannya berbeda. Oleh karena itu, sungguh-sungguh tidak bisa diseragamkan dengan pendekatan suatu model tertentu. Tetapi satu hal, mereka harus didekati dengan respek dan martabat serta harus dipertimbangkan sebagai individu yang utuh dengan memperhatikan lingkungan di mana mereka berada.

Memang benar, situasi yang berbeda memerlukan pendekatan yang berbeda pula. Sebab kalau tidak demikian kita tidak akan pernah bisa memanfaatkan sumber daya itu secara efektif dan efisien, sebab sumber daya yang mahapenting itubernama, manusia. Manusia adalah makhluk sempurna yang multidimensi, kesempurnaannya justru terletak pada kelebihan dan kekurangannya.



(15-21 Oktober 1999)


Tulisan ini sudah di baca 138 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/78-Makluk-Sempurna.html