drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 4

Tradisi Keilmuan


Oleh : drh.chaidir, MM

Sejarah peradaban manusia sejak zaman dahulu kala, timbul tenggelam. Zaman keemasan dan zaman keruntuhan silih berganti dan tidak ada yang tahu persis mengapa ini terjadi.

Anda pasti sudah pernah mendengar Kerajaan Majapahit atau Kerajaan Sriwijaya. Keterlaluan kalau belum pernah. Dan bagi masyarakat khususnya Riau tentu juga sudah pernah mendengar Kerajaan Riau Lingga yang pusatnya terletak di wilayah Riau Kepulauan sekarang, dan Kerajaan Siak Sri Indrapura yang pusatnya memang terletak di kota Siak Sri Indrapura. Kerajaan-kerajaan ini pernah mengalami masa-masa keemasan, masa-masa jaya, tapi kemudian runtuh, baik karena konflik internal maupun akibat tekanan dari luar.

Bagaimana dengan Kerajan Yunani dan Romawi kuno? Tidak jadi soal kalau Anda tidak kenal. Kerajaan-kerajaan ini memang telah lama punah dari permukaan bumi, lebih dari seribu tahun sebelum Kerajaan Siak Sri Indrapura eksis. Tetapi bagi yang sedikit punya minat terhadap pelajaran sejarah, tentu akan tahu bahwa di zaman Yunani dan Romawi kuno, hidup pemikir-pemikir besar seperti Plato, Cicero, Aristoteles, dan lainnya. Pada zaman itu tradisi keilmuan tumbuh dengan baik. Ilmu Filsafat berkembang, demikian juga arsitektur dan kesenian. Peradabannya terkesan agung. Kolosium di Roma, misalnya, adalah sebuah contoh peninggalan sejarah Kerajaan Romawi. Atau gedung di mana Romeo dan Juliet memadu kasih di kota Peruggia.

Tidak perlu jauh-jauh. Datanglah berkunjung ke Istana Sultan Siak di Siak Sri Indrapura. Amati baik-baik sudut demi sudut, foto demi foto, tulisan demi tulisan. Dengarkan aransemen musik simfoni Beethoven dan Mozart yang melantun dari mikrofon raksasa antik yang dibeli khusus dari Jerman ketika itu oleh Sultan Syarif Qasim. Lihat pula masjidnya yang bernuansa Eropa dan Balai Kerapatan Adatnya yang kaya akan nilai-nilai filsafati. Kesannya pasti, betapa megah dan anggunnya kerajaan itu dulu. Orang-orang dulu mampu memberikan apresiasi yang baik kepada nilai-nilai budaya dan kesenian. Adakah ini pertanda kekayaan kalbu orang-orang kita tempo dulu?

Atau, cobalah berkunjung ke Pulau Penyengat, di depan Pantai Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Salatlah di masjidnya yang indah itu, yang konon menggunakan putih telur sebagai perekat dindingnya. Ziarah ke Makam Engku Putri Hamidah dan dengarkan pula cerita tentang Raja Ali Haji pengarang Gurindam Dua Belas yang terkenal itu.

Bukankah kerajaan ini merupakan induk bahasa Indonesia? Tradisi menulis cukup berkembang di Kerajaan Riau Lingga dan itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki tradisi keilmuan sangat baik. Betapa agungnya pemikiran orang dulu-dulu, betapa halus jiwa dan perasaannya? Wajar kalau kita bertanya dalam hati, bagaimana cara mereka menghasilkan karya-karya besar dan monumental seperti itu? Apa sih rahasianya?

Ada catatan sejarah yang menarik dan aneh dari Kerajaan Yunani tempo dulu. Jauh lebih banyak orang yang dapat membaca dan menulis pada tahun 150 SM dibandingkan dengan tahun 1550 M, atau barangkali pada tahun 1750 atau 1850. Andaikan catatan itu akurat, bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Tapi dari nama-nama filsuf yang melintasi zaman, catatan itu agaknya mengandung kebenaran.

Konon, pada tahun 150 SM tersebut sekolah hampir terdapat di mana-mana. Perpustakaan dan buku-buku memenuhi Eropa sampai ke bagian utara Afrika, Mesir dan Timur Dekat. Buah pemikiran para ilmuwan dan filsuf menjelajah dengan bebas, dalam areal ribuan mil persegi. Para guru, ahli filsafat, juru pidato dan juru propaganda agama dan sosial, melakukan berbagai perjalanan, memberi penjelasan secara fasih, melakukan perdebatan dalam nuansa keilmuan.

Mengapa kebudayaan Yunani dan Romawi itu runtuh, tidak seorang pun tahu dengan tepat. Sungguh pun demikian, ada juga yang berani membuat catatan. Bagian barat, yakni daerah Romawi, menurut mereka, adalah yang pertama runtuh. Sedangkan bagian timur, daerah Yunani masih sanggup mempertahankan diri selama ratusan tahun berikutnya. Perbedaan yang aneh ini konon terjadi karena orang-orang dari bagian barat suka akan kekayaan dan kenikmatan, seperti berpesta-pesta, sedangkan orang-orang di sebelah timur suka berpikir.

Argumentasi itu agaknya benar. Pada beberapa catatan dalam jatuh bangunnya peradaban Yunani, ada hal yang sangat menarik yang dilakukan oleh sebagian ilmuwan. Ketika kota-kota dipenuhi oleh para penjajah, dan mereka menghancurkan apa yang tidak dapat mereka mengerti, membakar perpustakaan-perpustakaan, beberapa orang ilmuwan optimis yang bijak menarik diri ke tempat-tempat sunyi dan tenang. Mereka bukan merajuk, melainkan mulai mengajar, menyalin buku dan mempertahankan kelestarian ilmunya.

Di sudut-sudut kampung, di bawah-bawah pohon, duduklah pelajar-pelajar yang sabar mencoba memahami pemikiran besar masa lampau, mereka lalu mengajari orang lain untuk juga memahaminya. Orang-orang ini kemudian menyebarkan pemikiran itu kembali. Dengan cara seperti ini, intelektual yang telah remuk lambat laun berkembang kembali. Bahkan kedengarannya aneh bila ada orang-orang pintar bercerita tentang filsafat di surau-surau.

Bagi kita saat ini, yang tidak aneh adalah mempersiapkan anak-anak muda di pedesaan untuk menjadi petani yang baik karena memang itu kebutuhannya. Tetapi sayangnya petani yang dipersiapkan adalah petani yang serba tanggung, yang kurang memiliki nilai-nilai achieve-ment. Tenaga-tenaga penyuluh pun, yang diharapkan menjadi ujung tombak, kurang mendapatkan penghargaan yang layak, jumlahnya juga jauh dari memadai.

Barangkali benar, kebutuhan dasar kita saat ini, bila merujuk pada Teori Maslow, bukan ilmu-ilmu humaniora, tetapi ilmu-ilmu terapan. Namun dalam jangka panjang ini agaknya akan menjadi tragedi kemanusiaan, karena akan membuat kita kehilangan karakter dan itu amat berbahaya bagi peradaban.



(8-14 Oktober 1999)


Tulisan ini sudah di baca 136 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/77-Tradisi-Keilmuan.html