drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 4

Pelita Hati


Oleh : drh.chaidir, MM

Hidup adalah berpikir, kata Cicero, seorang orator dan filsuf terkenal dari Kerajaan Roma yang hidup 100 tahun Sebelum Masehi. Orang yang tidak berpikir adalah seperti orang yang berjalan dalam tidur.

Kata-kata mutiara itu benar. Tidak ada suatu kegiatan pun di dunia ini yang dapat kita lakukan sebelum didahului dengan proses berpikir. Berpikir hanya rnampu dilakukan oleh orang yang hidup. Semua gagasan adalah produk dari sebuah renungan, dan renungan lahir setelah ada kegiatan merenung. Merenung adalah berpikir.

Orang tua-tua bilang, berpikir itu pelita hati. Hati berkaitan erat dengan emosi atau perasaan, berpikir berkaitan erat dengan otak. Dengan berpikir kita akan mampu memilah-milah emosi yang muncul. Oleh karena itu, ada ungkapan, jangan emosi atau hati boleh panas, tapi kepala harus tetap dingin. Otak memang membuat kita mampu berpikir, perasaan mana yang harus diikuti mana yang tidak.

Banyak orang yang menggunakan akal pikirannya hanya untuk sekadar memenuhi kepentingan hidup sehari-hari, tetapi tidak sedikit pula tokoh-tokoh legendaris yang menghasilkan karya-karya besar hasil dari proses berpikir yang intens.

Plato, seorang perisau cemerlang dan murung, meninggal lebih dari 2300 tahun yang lalu, tapi melalui buku-bukunya ia masih terus berbicara, kata-kata mutiaranya diingat orang dan relevan sampai sekarang. Demikian pula Tillius Marcus Cicero, ahli pidato itu. Ada Socrates, Aristoteles, Archimedes, Albert Einstein, dan masih banyak yang lain, yang pemikiran-pemikirannya melintasi zaman.

Pemikiran keilmuan bukanlah suatu pemikiran yang biasa. Pemikiran keilmuan adalah pemikiran yang sungguh-sungguh. Artinya, suatu cara berpikir yang berdisiplin dan penuh kejujuran. Seseorang yang berpikir sungguh-sungguh takkan membiarkan pemikiran dan konsep yang sedang dipikirkannya berkelana tanpa arah, apalagi membohongi nuraninya. Cara berpikirnya sistematis dan terarah ke tujuan tertentu.

Ilmuwan pemikir yang ternama tidak tumbuuh seperti pepohonan, tetapi melalui suatu proses. Menurut para ahli, ada dua cara untuk memupuk mereka agar tumbuh menjadi sebatang pohon yang rindang yang bermanfaat bagi lingkungannya.

Yang pertama adalah memberi mereka tantangan dan rangsangan. Letakkan masalah-masalah di hadapan mereka. Hasilkan sesuatu untuk dipikirkan mereka. Diskusikan tiap tahap pemikiran mereka. Usulkan pada mereka agar melakukan berbagai percobaan. Minta mereka untuk mengungkapkan apa-apa yang tersembunyi. Cara kedua adalah membawa mereka agar mengenal pemikiran-pemikiran yang menonjol. Adalah tidak cukup bagi seorang anak pandai yang sedang tumbuh hanya mengenal teman-teman, guru-guru, dan orang tuanya. la harus mengenal pemikiran mereka yang benar-benar menonjol dan cemerlang, dan orang-orang besar yang abadi.

Berpikir agaknya tidaklah susah kapan saja dan di mana saja dapat dilakukan orang, tetapi kemandirian dalam berpikir tidak sesederhana mengucapkannya. Gerakan reformasi, telah membuka keran keterbukaan. Orang bebas berserikat, bebas berbicara apa saja, tetapi kemampuan dan kebebasan berpikir hanya kita sendiri yang tahu. Universitas adalah tempat mahasiswa belajar, tetapi tidak semua mahasiswa di universitas mau mengasah otaknya untuk berpikir apalagi menggunakan kebebasannya untuk berpikir.

Pada tahap tertentu pemikiran kita rentan terhadap pemikiran orang lain. Apakah pemikiran kita telah dipengaruhi oleh pemikiran orang lain, juga tidak ada satu orang pun yang tahu secara persis. Seseorang yang berkemandirian dalam berpikir selalu berani bertanggung jawab atas semua tindak langkahnya, sehingga ia pun tidak pernah ragu-ragu kalau harus membuat keputusan yang sulit sekali pun. Berpikir mandiri adalah juga inti dari demokrasi, karena seseorang akan mampu berbicara sesuai dengan hati nuraninya, tidak mudah dipengaruhi oleh titipan sponsor.

Berpikir memang pelita hati. Berpikir bisa menghasilkan suatu pedoman hidup dan pegangan dalam perjuangan. Bagi kalangan intelektual, berpikir adalah suatu kegiatan yang tidak pernah berhenti untuk mencapai kebenaran, keadilan, kebaikan, kebahagiaan, kesejahteraan, perdamaian, kemerdekaan, dan persaudaraan di atas dunia yang fana ini.

Tetapi berpikir juga dapat menghasilkan ilmu yang berbahaya bagi diri sendiri dan berbahaya bagi orang lain. Ada yang berpikir dengan ilmunya untuk menjadikan manusia yang satu menjadi mangsa bagi manusia yang lain, layaknya makhluk yang buas. Berpikir seperti ini tentu merupakan bahaya bagi peradaban. Siapa yang bertanggungjawab bila keadaan buruk itu terjadi? Tentu para pemikir itu juga.

Menjadi pertanyaan besar bagi kita, demikian banyak pemikir-pemikir ulung yang kita miliki, tetapi demikian banyak juga masalah-masalah besar yang kita hadapi menyangkut kemaslahatan umat manusia. Apakah kurang intens perenungan yang kita lakukan?

Tujuh puluh tahun yang lalu, Albert Einstein menggugat dunia dalam bukunya Out of My Later Years. Sejarah manusia, menurut Einstein, banyak melahirkan ahli-ahli yang mencapai kemajuan yang begitu besar di dalam wilayah ilmu dan teknologi, tetapi tidak berhasil mendapatkan penyelesaian bagi persengketaan politik dan ketegangan ekonomi yang begitu banyak di sekitar kita.

Orang tidak berbasil mengembangkan bentuk-bentuk organisasi politik dan ekonomi yang akan menjamin hidup bangsa-bangsa di dunia ini sebelah-menyebelah dalam keadaan damai. Orang tidak berhasil membangun suatu macam sistem yang dapat melenyapkan kemungkinan untuk berperang dan menghapuskan untuk selama-lamanya alat-alat yang berbahaya untuk menghancurkan manusia secara besar-besaran.

Einstein agaknya lupa, bukankah hanya ada satu kebebasan di dunia ini, yaitu kebebasan berpikir.


(1-7 Oktober 1999)


Tulisan ini sudah di baca 120 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/76-Pelita-Hati.html