drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 3

Rekonsiliasi Ala Nelson Mandela


Oleh : drh.chaidir, MM

Ketika baru-baru ini saya menerima kunjungan Dr. Diliza Mji, orang nomor satu Congo Invesment Limited, Sebuah perusahaan beken dari Afrika Selatan, pikiran saya tidak sepenuhnya tertuju kepada core business Congo Invesment. Masalahnya adalah, saya dibisiki sebelumnya bahwa Dr. Diliza Mji adalah sepupu dari Nelson Mandela.

Lebih jauh lagi, Dr. Diliza Mji disebut-sebut kandidat presiden Afrika Selatan masa depan. Ketika pertemuan dimulai, saya mencoba merebut perhatian tamu saya dengan memuji Afrika Selatan sebagai sebuah negara yang indah. "Apakah Anda sudah pernah ke Afrika Selatan?" tanyanya. Saya jawab, "Belum, tetapi saya dapat merasakannya ketika membaca biografi Nelson Mandela." Saya melanjutkan sanjungan kepada tokoh besar pemegang Nobel Perdamaian itu, bahwa saat ini negara kami sangat memerlukan sosok negarawan seperti Nelson Mandela. Dengan tersenyum arif Dr. Diliza menanggapi, Di negeri Anda sebenarnya banyak "Nelson Mandela", hanya saja barangkali mereka belum muncul, itu hanya masalah waktu." Agak malu saya menjawab, "I hope so!" Tetapi sesungguhnya di dalam hati saya berkata, itu barangkali ucapan basa-basi karena mestinya dia sudah melihat dan membaca di media massa, riegeri kami sedang tercabik-cabik, manusia yang satu menjadi serigala bagi manusia yang lainnya, homo homini lupus. Mungkinkah akan ada orang yang seperti Nelson Mandela itu, yang penuh keikhlasan dan ketulusan melakukan rekonsiliasi?

Apabila orang menyebut rekonsiliasi, maka tidak lain, referensinya adalah Nelson Mandela. Nelson Mandela adalah "dewa" yang diturunkan dari langit untuk Afrika Selatan, sebuah negeri di ujung benua hitam sana. Namanya menjadi legenda. Walaupun suatu saat kelak sebagai manusia dia akan mati dan jasadnya akan hancur dikandung tanah, tetapi bagi rakyat Afrika Selatan, bahkan juga bagi komunitas dunia yang berbudaya dan bermartabat, namanya akan tetap hidup.

Pada satu sisi, Nelson Mandela sesungguhnya amat sangat berhak membalas dendam dan menabuh genderang perang melawan pendatang kulit putih yang merampas dan menjahanamkan negerinya. Dia dipenjara selama 27 tahun karena memperjuangkan hak-hak asasi negeri sendiri, memperjuangkan agar orang kulit putih dan kulit hitam diberi kesamaan hak. Kerugian moriil dan materiil bahkan juga jiwa, tidak terhitung banyaknya yang diderita oleh warga kulit hitam selama Nelson Mandela di penjara.

Seluruh dunia mengutuk politik diskriminasi warna kulit yang diterapkan orang kulit putih di sana, bahkan Afsel diembargo dunia. Tetapi ketika Nelson Mandela, tahun 1990 dibebaskan dari penjara setelah ditahan sejak tahun 1962, dan kembali memimpin partainya ANC (African National Congress), sama sekali tidak ada aksi balas dendam. Padahal pengikutnya adalah kelompok mayoritas di Afsel. Dia bahkan menyerukan perjuangan damai melawan politik rasialis itu. Sungguh-sungguh damai, bukan lips service. Di muka dan di belakang, dia berbicara sama, pengikutnya tidak diprovokasi, padahal - sekali lagi - dia berhak membalas dendam dengan menggerakkan pengikutnya untuk berteriak, "bantai!" Tapi itu tidak dilakukannya. Rekonsiliasi yang diucapkannya jujur dan tulus.

Oleh karena itu, setelah tiga tahun dibebaskan, Nelson Mandela secara bulat terpilih sebagai orang kulit hitam pertama yang menjadi Presiden Afrika Selatan dalam suatu pemilihan yang paling demokratis sepanjang sejarah Afrika Selatan.

Afrika Selatan memang cermin bagaimana politik rasialis (apartheid) diterapkan secara kasar oleh penguasa kulit putih sebelum Nelson Mandela dibebaskan dari penjara dan terpilih menjadi presiden. Sistem apartheid memisahkan kulit putih dengan kulit hitam di berbagai bidang lapangan pekerjaan, penguasaan lahan pertanian, bahkan juga dalam bidang layanan publik.

Di negeri kita tidak ada politik apartheid, dan sesungguhnya kita anti politik rasialis. Tetapi entah mengapa, rasa solidaritas, tenggang rasa, dan rasa senasib sepenanggungan demikian mudah runtuh. Permasalahan akibat perbedaan suku, agama, ras, golongan, bahkan ka-rena berbeda kabupaten, demikian mudah melebar sampai-sampai menyulut perkelahian massal yang meminta korban jiwa.

Antara suku satu dengan suku lain tidak lagi harmonis. Kata-kata yang dulu tabu diucapkan karena dikhawatirkan menyinggung perasaan suku lain, meluncur demikian saja ibarat tanpa sensor.

Tokoh-tokoh informal seperti pemuka-pemuka adat, kepala suku, alim ulama tidak lagi dihargai. Ninik mamak yang dulu sangat berpengaruh terhadap cucu kemenakan, sekarang seakan kehilangan taji.

Maka yang terjadi justru sebuah kontradiksi. Kita menjunjung tinggi kebhinnekaan, tetapi kita sangat diskriminatif dan superrasialis. Dan itu dipertontonkan secara vulgar.

Nelson Mandela dipenjara selama 27 tahun, dan selama ia berada di penjara, ribuan saudara-saudaranya sesama kulit hitam terbunuh atau dipenjarakan secara tidak adil. Tetapi apa yang dilakukannya sangat mengagumkan. Begitu dia bebas dari penjara, dia maafkan semuanya dan dendam pun habis di seluruh negeri. Tidak kah mereka di Afrika Selatan sana memiliki saraf dendam sehingga demikian saja bisa memaafkan dan melakukan rekonsiliasi? Secara logika, mestinya dendam berserakan di mana-mana. Tapi fenomena Afsel nyata ada, bukan mimpi.

Saya tidak tahu apakah Dr. Diliza, tamu saya itu, menginspirasi saya dengan mengatakan bahwa di Indonesia akan banyak muncul tokoh-tokoh seperti Nelson Mandela, ataukah itu memang muncul dari lubuk hatinya. Bagi saya tidak jadi persoalan, sebab sesungguhnya masih banyak orang baik-baik yang menggunakan koridor moral dan akal sehat di sekitar kita. Kalau tidak tentu sudah lama berlaku hukum rimba, siapa yang kuat dia yang menang. Tetapi menengok gelagat, apa yang terjadi dewasa ini seakan mengingatkan bahwa kita memang sedang berada di rimba belantara. Mudah-mudahan itu salah.


(23-29 Maret 2001)


Tulisan ini sudah di baca 247 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/75-Rekonsiliasi-Ala-Nelson-Mandela.html