drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 3

Profesor Yusril


Oleh : drh.chaidir, MM

Kalau misalnya ada Kontes Ketua Umum Partai Politik Indonesia yang paling trendy, pemenangnya pasti Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, Ketua Umum Partai Bulan Bintang.

Profesor Yusril memang selalu tampil trendy. Dia sering memakai celana dan baju jeans. Adakalanya, dia tidak segan mengombinasikan celana jeans dengan jas, layaknya seorang bintang sinetron atau peragawan. Untuk ukuran seorang menteri, penampilannya memang cukup berani dan oke. Dengan perawakan yang tirtggi dan paras ganteng, dia selalu menjadi idola dalam setiap forum, apalagi diimbangi dengan kemampuan berbicara dan penguasaan materi yang prima.

Ketika memberikan sambutan dalam pembukaan Musyawarah Partai Bulan Bintang di Pekanbaru, hari Minggu, 9 April 2000 beberapa hari lalu, Prof. Yusril dengan penuh kearifan mengajak warga partainya untuk memelihara sopan santun dan etika. "Demokrasi memerlukan etika," katanya. Tak lupa dikutipnya sebuah petuah Melayu, "Seberat-berat mata memandang, lebih berat lagi bahu memikul." Melakukan kritik mudah, tetapi bila diberi tanggung jawab belum tentu mampu mengemban amanah. Cantik! Pengalaman Prof. Yusril mengikuti program S-3 di University Kebangsaan Malaysia selama beberapa tahun, tampaknya membuat profesor kita ini akrab dengan idiom-idiom Melayu.

Apa beda hewan dengan manusia? Hewan kalau marah menggigit manusia, manusia kalau marah tidak menggigit hewan, tapi menyebut nama hewan. Bahkan menurut Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, gejala umum yang terjadi sekarang, kalau manusia sedang emosi, maka semua penghuni kebun binatang disebut dan diabsen satu demi satu. Mungkin yang dimaksud Prof. Yusril adalah monyet, lutung, babi hutan, orang hutan, kucing air, biawak, dan seterusnya. Kalau burung barangkali jarang diabsen. Kesan saya, Prof. Yusril sangat santun, dia tidak menyebutkan, bahwa biasanya penghuni kebun binatang itu dalam pengucapannya selalu ditambah dengan kata "kau". Maka menjadilah dia ungkapan berikut: monyet kau, babi hutan kau, biawak kau, kucing air kau, dan seterusnya. Hampir tidak ada yang menyebut, burung kau. Kalau ada yang berteriak "burung kau", maka otomatis yang lain secara refleks akan memeriksa ritsleting celananya.

Prof. Yusril kelihatannya memang sedang risau dengan kebiasaan baru masyarakat sekarang yang mudah marah dan meradang. Bangsa kita sebenarnya bangsa pemurah atau bangsa pemarah. Pemurah mengandung substansi suka menolong sesama, menganggap orang lain saudara, tindakannya santun dan penyayang. Kalau pemarah, sama-sama tahulah kita, sedikit saja bleknya (kalengnya) tersinggung maka sumpah serapah pun akan keluar dan mulai mengabsen penghuni kebun binatang itu satu per satu. Dan benda-benda alam pun beterbangan seperti batu, kayu, bahkan juga mangkok, piring, gelas, dan sebagainya, dan kaca-kaca pun pada pecah.

Tiga kali dalam minggu-minggu ini saya mendengarkan secara langsung pidato orang-orang penting, Prof. Dr. Ryaas Rasyid, Mathori Abdul Djalil, dan terakhir baru-baru ini, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, ketiga-tiganya berbicara tentang etika moral.

Apa sih etika? Menurut Dr. Franz Magnis Suseno, dosen filsafat Universitas Indonesia, etika sebenarnya sebuah ilmu, bukan sebuah ajaran. Etika berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya. Dalam versi lain, kita bisa mengatakan, moralitas adalah petunjuk konkret yang siap pakai tentang bagaimana kita harus hidup. Sedangkan etika adalah perwujudan secara rasional ajaran moral yang siap pakai.

Keduanya, etika dan moral, mempunyai fungsi yang sama, yaitu memberi kita orientasi bagaimana dan ke mana kita harus melangkah dalam mengarungi hidup ini. Bedanya, moralitas langsung mengatakan kepada kita, "inilah caranya Anda harus melangkah." Sedangkan etika justru mempersoalkan, "Apakah saya harus melangkah dengan cara itu?" dan "Mengapa harus dengan eara itu?"

Etika yang kurang baik barangkali disebabkan karena ajaran moral kurang baik. Kata moral selalu menunjuk pada manusia sebagai manusia. Istilah "kewajiban moral" yang sering kita dengar misalnya, biasanya dibedakan dengan kewajiban-kewajiban lain, karena yang di-maksud adalah kewajiban manusia sebagai manusia. Sedang norma moral adalah rambu-rambu untuk mengukur betul-salahnya, baik-buruknya tindakan manusia sebagai manusia.

Jadi kita mestinya juga menyadari tanggung jawab dan kewajiban kita sebagai manusia, bukan hanya tanggung jawab sebagai warga negara, sebagai seorang pegawai, seorang guru, seorang mahasiswa, dan sebagainya. Sebagai warga negara mungkin kita baik; patuh membayar pajak, patuh kepada rambu-rambu lalu-lintas, tetapi tanggung jawab moral sebagai makhluk sosial? Seorang mahasiswa atau seorang profesor mungkin pintar, tapi bagaimana kalau misalnya dia suka mencaci maki orang lain? Orang seperti ini disebut sangat baik sebagai mahasiswa atau sebagai profesor, tetapi sebagai manusia dia buruk.

Kita beruntung, di tengah suasana masa transisi yang agak kacau seperti sekarang, masih ada tokoh yang senantiasa mengingatkan kita, mengajak introspeksi. Ketiga orang penting tadi mempunyai kewajiban moral mengingatkan kepada masyarakat bahwa kita telah hampir kehilangan etika moral. Saya sebut hampir kehilangan, sebab untuk kehilangan etika sama sekali tidak mungkin kan? Itu pulalah yang membedakan makhluk yang bernama manusia dengan makhluk yang bernama hewan. Manusia memiliki akal budi memiliki kesadaran, hewan tidak memilikinya.

Maka, ingat sajalah petuah Raja Ali Haji dalam Pasal 4 Gurindam Dua Belas.

"Hati adalah kerajaan di dalam tubuh, jikalau zalim, segala anggota pun rubuh."

"Mengumpat dan memuji hendaklah pikir, disitulah banyak orang yang tergelincir."

"Pekerjaan marah jangan dibela nanti hilang akal di kepala."



(14 - 20 April 2000)


Tulisan ini sudah di baca 128 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/74-Profesor-Yusril.html