drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 3

Mathori Abdul Jalil


Oleh : drh.chaidir, MM

Siapa yang tak kenal Mathori? Dia Ketua Umum PKB yang nyaris tewas di tangan orang yang tidak beradab bulan Maret lalu di Jakarta. Hikmahnya? Tidak ada yang tahu, itu rahasia alam, tetapi yang pasti, dia kini menjadi amat terkenal.

Selasa malam, tanggal 4 Maret beberapa hari lalu, Mathori Abdul Djalil memberikan pidato yang sangat menarik dalam acara Silaturahmi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Hotel Indrapura, Pekanbaru. Mathori dengan "pede" yang sangat tinggi mengajak Saleh Djasit, Gubernur Riau, untuk masuk PKB. "Pak Saleh kan sudah pensiun dari TNI," ujarnya, yang tentu saja disambut meriah dengan tepuk tangan hadirin. Agaknya ini guyonan politik khas gaya "Nahdliyin". Sesungguhnya memang tidak ada larangan bagi Mathori Abdul Djalil atau bahkan bagi siapa saja untuk mengajak seseorang masuk ke partainya.

Zaman kan sudah berubah, yang tidak boleh adalah memaksa orang lain. Ketika Mathori dengan sengaja menggoda saya (yang malam itu hadir dalam kapasitas selaku Ketua DPRD) untuk juga bergabung ke PKB, hadirin pun tertawa lepas, karena mereka tahu persis, saya adalah orang Golkar. Hadirin memahami, Mathori memang sedang bercanda. Ini menunjukkan, seperti Gus Dur, deklarator PKB, Mathori juga memiliki humor politik yang cukup tinggi. Dan harus saya akui, dari gaya, penyampaian materi dan kepercayaan diri, Mathori adalah seorang orator.

Mengawali pidatonya, Mathori mengajak hadirin untuk memanjatkan syukur atas perlindungan Allah subhanahu wa taala, dalam arti yang sesungguh-sungguhnya. Sebab katanya, tanpa perlindungan dari Allah, saya tak akan pernah berdiri di mimbar ini bahkan awal Maret lalu, riwayat saya sudah tamat dan saya sudah menjadi almarhum. Awal Maret lalu Mathori memang diserang oleh orang tak dikenal di halaman rumahnya. Dia hampir saja tewas dalam kejadian itu. Agaknya Dewi Fortuna memang sedang berpihak kepada Mathori dan partainya, PKB, karena beberapa bulan sebelumnya deklarator partai ini, Abdurrahman Wahid yang populer dipanggil Gus Dur, terpilih pula menjadi Presiden RI.

Yang sangat menarik bagi saya adalah ketika Mathori menguraikan secara jernih problematika dan proses demokratisasi yang dihadapi dan sedang terjadi di Indonesia dewasa ini. "Demokrasi tidak berarti bebas dalam menentukan pilihan, bebas mengemukakan apa saja, bebas menghujat siapa saja, apalagi bebas melempari gubernur atau membacok Mathori," katanya. Demokrasi adalah seperti apa yang terkandung dalam semboyan Revolusi Prancis yang terkenal itu, liberte, egalite, dan fraternite." Kebebasan, persamaan, dan persaudaraan, urai Mathori lebih jauh. Kebebasan saja tanpa diikuti dengan semangat persamaan dan persaudaraan, itu namanya anarki.

Mathori betul. Demokrasi dewasa ini sering diartikan dalam makna yang sangat sempit. Perbedaan pendapat apa pun bentuknya sekarang sering diberi label demokrasi. Bahkan pertengkaran suami isteri namanya juga demokrasi. Pokoknya asal berani tampil beda, itu namanya demokrasi, tidak peduli benar a|au salah. Orang sering kali mengabaikan bahwa demokrasi itu tidak hanya berisi perbedaan, tetapi juga mengandung semangat persamaan, kesetaraan, dan juga persaudaraan. Bila demokrasi terus-menerus tersosialisasi dalam makna yang sempit seperti itu, boleh jadi demokrasi akan mengalami degradasi.

Tetapi kesetaraan saja, apalagi diikuti dengan upaya yang sistematis untuk melakukan uniformitas, penyeragaman, maka tidak ada bedanya dengan semboyan komunis, sama rata sama rasa. Kesetaraan jangan dilihat dari aspek fisik semata, baju harus sama jumlahnya, mobil harus sama, rumah juga harus sama jumlah dan bentuknya, bahkan isteri juga harus sama. Tidak. Tidak demikian. Kesetaraan bermakna tidak saling intervensi, tidak saling memaksakan kehendak. Dalam idiom Melayu, kesetaraan bermakna, duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Pendekatannya bukan besar-kecil, mayoritas-minoritas, atasan-bawahan. Dalam memaknai perbedaan ada kebebasan yang bertanggung jawab karena semua merasa bahwa satu dan lainnya adalah bersaudara. Ada semangat persaudaraan yang sangat kental.

Memang tidak mudah untuk memahami bahwa suara rakyat itu tidak tak terbatas, walaupun disebut oleh para pemikir Barat bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan (vox populi vox dei). Bahkan rakyat jelata yang kalap di Prancis, yang merobohkan penjara Bastille yang merupakan lambang kekuasaan raja-raja absolut di Prancis, masih mampu membuat semboyan yang menjiwai seluruh perjuangan untuk menegakkan demokrasi di seluruh dunia, berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus tahun kemudian, liberte, egalite, dan fraternite. Suara rakyat itu dibatasi oleh kebebasan, persamaan, dan persaudaraan yang bermartabat. Ada koridor etika moral yang menjadi pembatas.

Mathori menunjukan sifat kenegarawanannya ketika dia memberikan excuse kepada situasi dan bahkan kepada orang yang berlaku zalim kepadanya. Tapi masa transisi di zaman yang sangat beradab ini mestinya tidak usah dibayar dengan harga yang sangat mahal. Adakah kita telah kehilangan etika moral?

Di mana letak etika moral itu sesungguhnya? Barangkali memperjuangkan kebebasan dengan cara-cara terhormat, menjaga kesetaraan dengan cara-cara yang terhormat, menjaga persaudaraan dalam silaturahmi, adalah etika moral. Tapi lebih baik tidak usah ditanyakan di mana letaknya. Jenny Teichman, seorang ahli filsafat, menulis dalam bukunya Etika Sosial, "Moralitas tidak pertama-tama ada untuk sapi, atau kodok, atau ikan lumba-lumba; moralitas menjawab kebutuhan manusiawi."

Etika moral adalah cerminan manusia yang beradab. Kalau kita tidak lagi beretika, maka kita pun tidak lagi dapat disebut beradab. Lalu di mana pendidikan moral kita selama ini? Bukankah moral diperoleh dari bangku pendidikan?
Pusing? Jangan pusing. Pakai logika Gus Dur sajalah, orang yang tidak beretika hanya 10 persen, yang beretika 90 persen. Kok repot!


(7-13 April 2000)


Tulisan ini sudah di baca 134 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/73-Mathori-Abdul-Jalil.html