drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 3

Mathori Abdul Djalil


Oleh : drh.chaidir, MM

Mania adalah bahasa Inggris, artinya keranjingan. "Soccer mania" artinya keranjingan sepak bola; "Tyson mania" artinya keranjingan Mike Tyson. Konotasi mania tidak negatif.

Tapi awas, jangan samakan dengan maniac (juga bahasa Inggris). Maniac artinya orang gila, jadi sangat berbeda maknanya dengan mania. Lantas, Gus Dur mania? Artinya keranjingan terhadap Presiden Gus Dur. Awas, jangan diplesetkan Gus Dur Mania menjadi Gus Dur Maniac, nanti urusannya panjang. Orang yang tidak suka boleh bilang apa saja, tapi kenyataannya Presiden Gus Dur kini kelihatannya, memiliki segalanya. Legitimasi, popularitas, simpati, dan juga respektabilitas. Dan hebatnya, Gus Dur tidak hanya populer di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Paling tidak sampai dengan saat ini.

Setuju atau tidak, para pemimpin dunia dewasa ini merasa ketinggalan apabila belum dikunjungi atau bertemu dengan Presiden Abdurrahman Wahid yang populer dipanggil Gus Dur itu. Mereka memimpikan pertemuan dengan Gus Dur dan merasakan sentuhan kemanusiaannya yang sangat mendalam, tidak seperti pertemuan dengan kepala negara lain, yang sebagaimana biasanya, formal, kaku, penuh basa-basi, dengan keprotokolan sangat ketat, dan seterusnya. Dengan Presiden Abdurrahman Wahid, Bill Clinton, Presiden Amerika Serikat dan pemimpin-pemimpin negara Eropa, Asia, dan sebagainya, bisa berbicara dalam suasana yang cair, rileks, dan merasakan bahwa mereka, penguasa-penguasa di negerinya itu adalah manusia biasa, bukan manusia super atau robot.

Presiden Abdurrahman Wahid memang belum berhasil menyelesaikan segantang permasalahan dalam negeri, karena hampir seluruhnya permasalahan kiriman (seperti juga banjir kiriman) dan berat-berat. Tetapi bagaimanapun Gus Dur telah berhasil menjadikan panggung politik Indonesia dinamis dan merangsang laksana sebuah pertunjukan teater.

Masyarakat kini semakin terbiasa dengan gaya Presiden Gus Dur. humoristik dan cuek. Publik memang tidak bisa memaksa presidennya untuk mengikuti kebiasaan-kebiasaan yang belum tentu betul, sebaliknya publiklah yang harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan presidennya, khususnya dalam kasus Gus Dur. Tidak ada yang memaksa kita harus menerima, namun apa yang diperlihatkan dan diperbuat oleh Gus Dur telah menumbuhkan kesadaran baru. Desakralisasi istana, presiden yang ringan untuk berbicara, presiden yang mudah ditemui, semuanya merupakan nuansa baru yang diusung Gus Dur ke Istana Merdeka.

Anda tahu vaksinasi atau pemberian vaksin kepada anak-anak? Orang yang tidak mengetahui prinsip-prinsip vaksinasi akan menganggap perbuatan itu sia-sia. Sebab anak yang diberi vaksin biasanya akan demam. Lantas orang akan bilang, anak sehat kok dibuat sakit. Tetapi yang terjadi sebenarnya adalah kekebalan tubuh si anak terhadap suatu penyakit dibentuk dengan pemberian vaksin tersebut. Vaksin adalah bibit penyakit yang telah dilemahkan yang dimasukkan ke dalam tubuh si anak, baik melalui suntikan maupun tetesan di mulut. Tubuh si anak akan memberikan reaksi terhadap bahaya yang sengaja diciptakan itu dengan membentuk pertahanan tubuh yang kuat. Pertahanan tubuh yang terbentuk itu disebut antibodi dan antibodi ini akan menyebabkan tubuh kebal terhadap penyakit tertentu.

Barangkali, prinsip itulah yang dipakai oleh Presiden Gus Dur, disengaja atau tidak. Gus Dur memberikan dosis vaksin yang maksimal kepada masyarakat, sehingga kita memberikan reaksi yang keras. Gus Dur selalu memberikan kondisi yang ekstrim kepada masyarakat yang menyebabkan kita terkaget-kaget. Tapi akibat treatment ala Gus Dur ini, masyarakat memiliki kekebalan. Masyarakat tidak lagi mudah shock menghadapi permasalahan yang muncul karena kita telah terlatih menghadapi kondisi yang jauh lebih buruk.

Gus Dur tidak menggunakan gaya bahasa eufemisme, tapi langsung menukik ke jantung. Terhadap sesuatu yang buruk misalnya, Gus Dur tidak mengatakannya kurang baik, tetapi langsung mengatakan amat sangat buruk. Komentar-komentarnya orisinil. Coba lihat, ketika wartawan menanyakan langsung kepada Gus Dur mengapa terlalu cepat berkunjung ke RRC, Gus Dur langsung menjawab di luar dugaan, "Apa salahnya berkunjung ke RRC?" Jaya Suprana menggugat Gus Dur sebagai presiden yang terlalu banyak melawak, Gus Dur malah bilang, "Saya ini pelawak, tetapi dipilih jadi presiden."

Agaknya karena belum terbiasa dengan jawaban-jawaban seperti itu, masyarakat Riau marah besar ketika Gus Dur bilang, "Riau mau merdeka, Riau itu tidak ada apa-apanya." Orang langsung naik darah dan tidak mau lagi menyimak kalimat-kalimat Gus Dur berikutnya. Harusnya waktu itu orang Riau bilang, "Memangnya gue pikirin".

Dulu kita memang dibiasakan dengan kehidupan yang steril. SARA misalnya, tabu untuk dibicarakan; perbedaan pendapat jangan dipelihara karena itu akan merusakkan sendi-sendi persatuan dan kesatuan; unjuk rasa dilarang karena dapat mengganggu stabilitas; begini rawan, begitu rawan, dan seterusnya. Tetapi lihatlah apa yang terjadi, kehidupan yang steril sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Masyarakat sangat mudah diprovokasi. Masalah demi masalah muncul satu demi satu dan berat-berat. Masalah kecil saja bisa memicu kerusuhan.

Kalau kita coba berempati, berimajinasi berdiri di posisi Gus Dur sekarang, barangkali kita akan mati tegang berdiri menghadapi perilaku masyarakat yang cenderung aneh dan segunung permasalahan yang ada. Hari ini aspirasi disampaikan, hari ini juga harus terkabul, bahkan kalau bisa kemarin sudah terpenuhi. Tidak usah jauh-jauh mengatasi harga gabah saja sudah repot, petani minta harga gabah dinaikkan, tapi bila harga gabah dinaikkan ibu-ibu konsumen di kota akan berdemo karena harga beras akan naik. Coba, andai Anda jadi Gus Dur, bagaimana jalan keluarnya? Orang Selat Panjang barangkali akan bilang, "Jangan beli beras, beli saja sagu, begitu saja kok repot?"


(3-9 Maret 2000)


Tulisan ini sudah di baca 130 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/72-Mathori-Abdul-Djalil.html