drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 3

Lee Kuan Yew


Oleh : drh.chaidir, MM

Ketika diinterviu oleh Serantau beberapa waktu yang lalu, saya menyebutkan, tokoh internasional yang saya kagumi adalah Lee Kuan Yew. Tapi pasti, bukan karena itu Presiden Gus Dur lantas meminta Lee Kuan Yew menjadi penasihat ekonomi Indonesia.

Setuju atau tidak dengan gagasan Presiden Gus Dur, itu urusan lain. Lee Kuan Yew telah mengundurkan diri dari jabatan Perdana Menteri Singapura tahun 1990 dalam kondisi puncak. Sejak saat itu dia hanya menjadi Menteri Senior. Namun demikian, kharismanya sebagai pemimpin yang sukses mengubah Singapura menjadi pulau yang maju dan makmur, tidak pernah sirna. Ia termasuk tokoh menonjol dunia (outstanding figure) dan sering disebut "orang besar di atas tahta kecil."

Kalangan yang menutup mata terhadap kehebatan jurus-jurus Lee Kuan Yew membawa Singapura menjadi salah satu negara terkaya di dunia, mengatakan, Lee hanya mengurus sebuah pulau yang sedikit saja lebih besar daripada Pulau Batam. Coba kalau dia disuruh mengurus ribuan pulau seperti di Indonesia, belum tentu demikian hasilnya. Barangkali benar, barangkali juga itu hanya excuse.

Lee Kuan Yew boleh disebut adalah seorang tokoh yang keras dan kukuh. Seperti halnya Perdana Menteri Malaysia, Dr. Mahathir, Lee Kuan Yew juga berani menantang Barat. Ketika Singapura dihujat oleh International Herald Tribune IHT), Lee menggugat IHT dan memenangkannya. IHT yang kalah dalam perkara dengan Lee harus membayar denda dan meminta maaf di sejumlah media massa. Lee berkata dengan geram, "Barat, berhentilah mendikte kami".
Lee berpendapat, siapa pun yang menginginkan keamanan masyarakat secara utuh bagi setiap individu untuk menggunakan kebebasannya, bagi wanita dan ibu-ibu berjalan di malam hari, tempat anak muda tidak diincar oleh pengedar narkoba, pasti tidak akan meniru model Amerika, katanya jengkel.

Walaupun Lee terkesan kurang menyenangi perilaku orang Amerika, tapi dia mengagumi Presiden John F. Kennedy. Seperti tokoh idolanya itu, Lee jarang membaca hanya untuk sekadar selingan. Lee tidak pernah ingin kehilangan sedetik pun waktunya terbuang percuma sama seperti Kennedy.

Lee Kuan Yew adalah seorang sosialis. Sosialisme dalam visi Lee Kuan Yew adalah keadilan sosial, kesejahteraan yang lebih baik, kemerdekaan dan perdamaian. Lee memberikan argumentasi, untuk memegang prinsip tersebut kita harus bekerja keras. Lee adalah seorang idealis, bahkan bisa menjadi idealis yang bengis. Anda memulai dengan idealisme, Anda akan mengakhirinya dengan kepuasan yang paripurna, kata Lee.

Dalam sejarah hidupnya, Lee akhirnya menjadi tokoh politik dan seorang ahli ekonomi, walaupun sesungguhnya dia adalah lulusan Ilmu Hukum di Cambridge, Inggris. Ketika kembali ke Singapura setelah menyelesaikan studinya, Lee langsung terjun dalam gelombang perjuangan kemerdekaan. Dia kemudian menjadi Perdana Menteri Singapura yang pertama pada usia 35 tahun.

Lee sukses membangun sebuah model politik yang relevan dan cocok untuk kondisi Singapura yang unik, dan mengubah wajah Singapura secara total, dari suatu negeri yang dekil, kotor, morat-marit, dan pulau kecil yang miskin, menjadi suatu kota pulau yang modern, memiliki kepribadian, lingkungan yang bersih dan asri, di mana penduduknya bisa hidup dan bekerja dengan gembira dan bahagia. Lee bahkan berhasil menyulap Singapura menjadi "Kota Taman Tropis Yang Indah".

Lee Kuan Yew adalah seorang pemimpin yang kharismatik. Dia adalah seorang orator ulung. Lee mampu mengekspresikan masalah-masalah politik dan ekonomi yang rumit ke dalam bahasa yang sederhana dan mudah dimerigerti.

Lee sangat menyadari, Singapura tidak memiliki sumber daya alam. Air minum pun didatangkan dari Johor di Malaysia. Kekhawatiran mereka terhadap kecukupan pasokan air ini pula yang menyebabkan Singapura pernah meiontarkan gagasan akan membangun pipa air dari Sungai Kampar ke Singapura. Agaknya karena krisis moneter proyek ini sementara belum jadi direalisasikan Kebutuhan mereka terhadap lokasi pelabuhan dan bandar udara menyebabkan negeri ini melakukan reklamasi (penimbunan) terhadap pantainya dengan memasok pasir dari Riau. Sayangnya dalam masalah pasok-memasok pasir ini Singapura main kucing-kucingan dengan Riau.

Isu yang paling marak dewasa ini adalah mengenai tanah uruk sisa galian proyek MRT (Mass Rapit Transportation) di Singapura. Tidak bisa dipungkiri, mereka kesulitan membuang sisa galian tersebut. Sebagai sebuah negara yang sangat menghargai lingkungan hidup, Singapura wajar gundah. Kegiatan industri dan aktivitas yang ekstra tinggi dari masyarakatnya, pasti juga menghasilkan limbah yang banyak, sementara pulau mereka terlalu kecil dan terlalu bernilai untuk dipergunakan sebagai lokasi pengolah limbah. Jangankan mengolah limbah, untuk memenuhi kebutuhan warganya terhadap daging babi yang mencapai tiga ribu ekor per hari, mereka rela mengimpornya dari Pulau Bulan, Batam, daripada beternak sendiri. Lahan mereka terlalu mahal untuk hanya sekadar beternak babi.

Tertariknya Presiden Gus Dur terhadap tokoh ini barangkali disebabkan adanya sisi-sisi kesamaan di antara keduanya. Lee KuanYew setiap waktu dalam hidupnya selalu berusaha untuk menabung, bukan membelanjakan. "Ini prinsip", kata Lee, "Bila Anda ingin menjadi kaya." Lee memiliki gaya tersendiri, lambat berkawan, tetapi Lee memiliki daya humor yang tinggi seperti Gus Dur. Lee memiliki keyakinan yang sangat dalam terhadap sistem demokrasi dan filosofinya adalah membangun kesucian hukum dan kebebasan manusia. Tetapi dia bisa keras terhadap kelompok-kelompok yang mengganggu masyarakatnya dan terhadap oportunis politik yang tidak mengindahkan peraturan-peraturan yang berlaku.

Sesungguhnya Lee Kuan Yew bukanlah seorang figur yang cukup menyenangkan bagi puak Melayu di rantau ini. Hal itu disebabkan karena pernyataan-pernyataannya yang seringkali kurang bersahabat. Lee terlalu "pede", itulah kelemahannya, sehingga tidak mau peduli, "harimau di perut harimau juga di mulut", apa yang terasa itu yang dia ucapkan.

Kalau sekarang Lee Kuan Yew ditantang menjadi penasihat ekonomi Indonesia, agaknya dia akan bilang: "Siapa takut?!"


(19-25 November 1999)


Tulisan ini sudah di baca 127 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/69-Lee-Kuan-Yew.html