drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 3

Mata Hati


Oleh : drh.chaidir, MM

Ini sebuah fenomena. Bahkan barangkali termasuk keajaiban dunia. Kalau bukan karena petunjuk Yang Mahakuasa, rasanya takkan mungkin Gus Dur terpilih sebagai presiden, bagaimanapun skenario politik yang disusun.

Ketika Gus Dur mengatakan bahwa dia sungguh-sungguh akan maju sebagai calon presiden, orang menganggap justru Gus Dur tidak sungguh-sungguh. Gus Dur dianggap sedang memainkan kartu, entah untuk siapa. Tapi ternyata tidak. Dengan daya juang yang sangat tinggi, Gus Dur yang aslinya bernama Abdurrachman Wahid menjadi orang nomor wahid. Sungguh luar biasa.

Dunia tahu adanya keterbatasan penglihatan Gus Dur, tapi justru di situlah letak keunikan dan kebesarannya. Dia punya "hati yang besar" dan antusiasme yang hebat untuk menggairahkan orang banyak. Saya teringat kisah Keith Braswell, seorang pemain bola basket terpendek yang sukses dalam kompetisi NBA yang biasanya diisi oleh manusia-manusia super jangkung seperti yang kita saksikan di televisi.

Keith Braswell tak pantas menjadi pemain NBA, tapi dia memang sukses, dan kesuksesan ini memberikan sesuatu kepada orang yang bertubuh pendek (dan orang lain yang memiliki kekurangan) suatu unsur yang sangat penting dalam kehidupan manusia, yaitu apa yang disebut "harapan". Gantungkanlah cita-cita dan harapanmu setinggi langit, terwujud separonya kan lumayan.

Kita akan dapat dengan mudah mengatakan berat badan atau tinggi badan seseorang. Tetapi mustahil bagi kita untuk mengukur kualitas manusia secara eksak. Kalau kita menyadari, menggunakan, dan mengembangkan apa yang ada di dalam diri kita sepenuhnya, sungguh menakjubkan apa yang bisa kita lakukan dengan kehidupan kita. Pandanglah orang ini; Gus Dur adalah seorang yang termasuk kategori pembangun harapan itu terlepas dari segala kekurangannya.

Dalam perspektif negosiasi, kekurangan adalah sebuah titik kunci dalam memberikan daya tawar. Kekurangan meningkatkan nilai. Orang akan membayar lebih banyak untuk sesuatu yang mereka anggap terbatas persediaannya. Namun kita jarang memahami betapa dengan mengimplikaslkan kekurangan secara halus kita bisa meningkatkan nilai suatu produk atau jasa dalam pikiran pembeli. Barang yang retak pasti mengurangi nilai, tapi bagaimana dengan retaknya gading?

Tapi Gus Dur bukanlah komoditas. Dia presiden Republik Indonesia yang terpilih secara demokratis, bahkan paling demokratis sepanjang sejarah Indonesia dan pemilihan ini dipantau oleh seluruh dunia. Gus Dur telah memaksa dunia untuk membuka mata lebar-lebar dan memaksa mereka untuk membuka kembali buku catatan tentang dirinya. Karena, ketika Gus Dur terserang stroke yang sangat serius beberapa waktu yang lalu dan kemudian beberapa kali ke Amerika untuk mengobati mata, dunia sebenarnya telah menutup buku riwayat Gus Dur: karier politiknya sudah tamat.

Sebenarnya, sejarah dunia telah mencatat, tidak ada contoh kepemimpinan yang lebih dramatis dibandingkan dengan riwayat Winston Churchill selama Perang Dunia II. Churchill telah menjadi seorang tokoh yang populer dan mempesona karena kepribadiannya yang hebat dan beraneka ragam.

"Saya lebih suka benar daripada konsisten," kata Churchill. Dia bukan hanya ganti partai politik dua kali, tetapi dia juga mengubah pendiriannya tentang sejumlah persoalan. Dalam hampir setiap kasus dia mengubah pendiriannya, atau mengambil perspektif yang berbeda tentang sebuah pendapat lama, berdasarkan apa yang disebutnya "kenyataan baru". Churchill mempunyai kemampuan yang langka untuk memahami seketika perubahan yang disebabkan oleh kenyataan baru.

Presiden Gus Dur, bagaimanapun memiliki kelebihan dan keunikan kepribadian yang tidak dimiliki orang lain. Gus Dur jelas berbeda dengan Winston Churchill. Saya tidak sedang membandongkan tantangan Perang Dunia II dengan tantangan perubahan hari ini yang dihadapi Gus Dur. Tetapi jelas, menghadapi IMF dan tekanan Amerika yang menghancurkan, bukanlah tantangan yang ringan. Yang menarik adalah adanya kesamaan, kedua pemimpin ini mempunyai kemampuan yang langka untuk memahami seketika perubahan yang disebabkan oleh kenyataan baru.

Gus Dur bukan Churchill, tetapi dia sedang melakukan apa yang dilakukan oleh Churchill, satu kali sebelum mati memimpin sebuah bangsa yang besar ke dalam, pertempuran. Atau menyelamatkan sebuah perusahaan dari tepi jurang seperti yang dilakukan oleh Lee lacocca dengan Chryslernya. Pertempuran dan penyelamatan yang dihadapi Gus Dur agaknya lebih rumit karena tidak memiliki wujud yang nyata, yaitu menyelamatkan umat dari kemelaratan dan kehancuran. Berhasilkah Gus Dur seperti Churchill atau Lee lacocca, waktu yang akan membuktikannya.

Gus Dur tentu sangat menyadari, dunia telah berubah. Hari-hari sudah berlalu ketika Anda bisa memaksa karyawan Anda "melompat". Dunia, di mana kita bisa membawa suatu produk ke pasar dan menentukan harga sendiri -sebab tidak ada pesaing yang gigih- tidak akan pernah ada lagi, jangan bermimpi. Kita juga tidak lagi bisa memecahkan masalah dengan paksaan, tidak dalam perusahaan atau organisasi, tidak dalam keluarga, dan tidak pula di antara teman-teman. Walaupun kita tahu dalam konteks negara, sesungguhnya negara memiliki kewenangan untuk memaksa rakyatnya tunduk, bila perlu dengan menggunakan alat negara. Tapi eranya sudah lewat Kita harus belajar memecahkan masalah kita dengan duduk bersama orang lain dan membujuknya untuk melihat segi pandangan kita.

Mari kita mencoba sekuat tenaga untuk bersikap arif terhadap ancaman Gus Dur yang akan memenjarakan orang Riau yang ingin merdeka dan kemudian merenungkan opsi bagi hasil migas 75 % untuk daerah penghasil. Gus Dur sedang tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya. Penglihatannya memang kurang sempurna, tetapi yakinlah mata hatinya sangat tajam.


(5-10 November 1999)


Tulisan ini sudah di baca 138 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/68-Mata-Hati.html