drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 2

Mimpi Riau Airlines


Oleh : drh.chaidir, MM

Seorang pengusaha dari Taiwan terbang dari bandara Chiang Kaisek Taipei menuju bandara Changi di Singapura. Kemudian dengan connecting flight dia langsung terbang menuju bandara Sultan Syarif Qasyim II Pekanbaru. Dari Pekanbaru, masih dengan connecting flight dia terbang ke Tembilahan di Indragiri Hilir.

Pengusaha ini sarapan pagi di Taipei dan makan siang di Tembilahan (karena perbedaan waktu 2 jam), di hotel berbintang empat "Indragiri River View Hotel". Setelah makan siang, dia mendengarkan laporan dari direksi, kemudian on the spot meninjau pabrik pengolahan sabut kelapa dan pabrik pengolahan tempurung kelapa multinasional yang dikendalikannya dari Taiwan.

Malamnya, dia istirahat sambil menikmati kelap kelip lampu nelayan di Sungai Indragiri dari jendela kamar suit roomnya. Paginya dengan rute yang sama dia kembali ke Pekanbaru, terus ke Singapura dan langsung ke Taipei. Taipei-Tembilahan begitu mudah, semudah naik becak.

Itulah skenario "Riau Airlines", maskapai penerbangan lokal yang digagas oleh Pemda Riau. Mimpi indah? Tidak ada siapa pun yang bisa melarang. Gagasan-gagasan besar memang selalu dimulai dari mimpi-mimpi. Tak pernah rasanya terbayangkan Riau akan memiliki maskapai penerbangan.

Namun sesungguhnya, gagasan mendirikan Riau Airlines tidaklah terlalu mengawang-awang. Dalam perspektif geografis, ide itu boleh dikatakan wajar saja. Pekanbaru-Tembilahan di Indragiri Hilir, atau Pekanbaru-Rengat di Indragiri Hulu atau Pekanbaru-Tanjung Balai Karimun, atau Pekanbaru-Dabo Singkep, atau Pekanbaru-Natuna atau Pekanbaru-Pasir Pangaraian adalah jarak yang cukup jauh untuk ditempuh melalui jalur darat atau laut. Padahal, di sisi lain, daerah-daerah tersebut adalah daerah-daerah yang memiliki potensi dan menjanjikan untuk kegiatan investasi yang berbasiskan eksploitasi sumber daya alam lokal.

Para investor adalah orang-orang kaya yang memiliki waktu sangat terbatas, mengutamakan kecepatan, keleluasaan dan kesenangan. Orang-orang kaya mancanegara itu umumnya, maaf, suka dengan lubang yang berjalan-jalan, tapi hampir dapat dipastikan niereka tidak suka dengan jalan yang berlubang-lubang.

Ketetihan bergoyang ria selama tujuh jean melalui jalan lintas timur yang berlubang-lubang dalam perjalanan Pekanbaru-Tembilahan misalnya, bisa mengurungkan niat mereka untuk berinvestasi. Apalagi melihat pos-pos pungutan sepanjang jalan, belum lagi kemungkinan tercegat aksi massa yang berdemo akibat konflik tanah. Bagaimana kalau orang-orang menebang pohon sepanjang jalan seperti yang terjadi di Jawa Timur itu?

Dalam perspektif permodalan, kelihatannya juga oke. Pemda Riau akan merogoh kocek sebesar Rp 10 miliar, selebihnya merupakan iuran dari 15 daerah kabupaten dan kota se-Propinsi Riau, berupa penyertaan modal masing-masing sebesar Rp 2 miliar sehingga total menjadi Rp40 miliar.

Masih kurang? Ambil dari bagian pengelolaan CPP Block selama satu tahun, konon persis Rp40 miliar (kalau kita setuju). Berarti Rp80 miliar, tunai. Itu cukup bisa untuk uang muka pembelian tiga buah pesawat IPTN dan biaya awal operasi. Masuk akal bo!

Gagah kan Riau, punya maskapai penerbangan. Dengan rata-rata tempat duduk terisi separo, maka selama lima tahun modal sudah kembali. Itu kalau separo, kalau rata-rata hampir penuh setiap kali terbang? Riau Airlines akan go internasional menyaingi Singapore Air-lines yang akhir-akhir ini kelihatannya menurun kredibilitasnya setelah kasus crash di Taiwan dan mendarat darurat di Selandia Baru.

Dan kalau penumpangnya rata-rata penuh, maka Riau Airlines akan menambah armada dengan membeli pesawat Boeing 777, generasi terbaru dari Boeing. Hebat kan? Itu kalau rata-rata penuuuuh!

Bagaimana kalau kurang dari separo, atau bagaimana kalau rata-rata kurang dari 10 % tempat duduk yang terisi, bagaimana kalau investor-investor itu enggan datang ke Riau karena ancaman keamanan, ancaman bom, penyanderaan, pemogokan, dan sebagainya? Pengusaha-pengusaha beken dari Taiwan, Jepang, Jerman, Amerika dan sebagainya umumnya terikat perjanjian dengan perusahaan asuransi yang menjaminnya. Miliuner-miliuner mancanegara ini sangat insurance minded.

Apa pun kegiatan yang mereka lakukan selalu dilindungi dengan asuransi. Mereka hanya boleh terbang dengan maskapai penerbangan yang foted (terdaftar secara internasional) dan ternama. Di luar itu, perusahaan asuransi nggak janji. Apabila terjadi sesuatu, ahli waris tidak bisa mengajukan klaim. Perusahaan asuransi akan bilang, siapa suruh ambil risiko keamanan jiwa? Nama dan reputasi sebuah maskapai penerbangan adalah jaminan bagi calon penumpang, apalagi pangsa pasar yang diharapkan adalah para pemodal.

Kita memang harus berhitung secara cermat, apalagi modal yang dipergunakan berasal dari APBD Propinsi dan Kabupaten/Kota. Ini berarti dana tersebut berasal dari rakyat. Dengan kata lain Riau Airlines berhutang kepada rakyat Riau. Bukankah hutang harus dibayar? De-ngan apa membayarnya kalau nanti ternyata dalam operasinya muncul berbagai macam masalah? Konon menurut bisik-bisik kawan, maskapai penerbangan sangat tergantung pada perusahaan yang memproduksi pesawat, dan mereka memiliki berbagai macam dalih untuk tidak rugi.

Tapi masalahnya, kalau kita tidak rebut, maka pangsa pasar domestik kita akan direbut oleh maskapai lain. Salah satu maskapai yang sudah siap untuk itu adalah "Sriwijaya Airlines". Nah ramai kan? Kita tunggu sajalah bila sampai waktunya: perang harga tiket. Yang untung adalah penumpang. Yang harus dicegah adalah jangan sampai kantung kanan penuh, kantung kiri merana, lubang pengeluaran lebih besar dan lubang pemasukan.

Dalam penerbangan Amsterdam-Bremen, kemudian dari Hannover-Basel (Swiss) dan dari Basel-Barcelona, pada bulan September 2000, saya menggunakan pesawat kecil turboprop (campuran jet dan baling-baling). Saya tidak menyangka kalau jarak-jarak pendek di Eropa menggunakan pesawat-pesawat kecil turboprop. Saya lihat pesawat-pesawat ini berjejer rapi, antre menunggu lepas landas. Sayang ketika itu belum terbetik sama sekali gagasan tentang Riau Airlines. Kalau sudah ada tentu saya mengkhayal indah.


(9-15 Maret 2001)



Tulisan ini sudah di baca 191 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/67-Mimpi-Riau-Airlines.html