drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 2

Dewan Pakar


Oleh : drh.chaidir, MM

Sesudah membentuk Dewan Ekonomi Daerah, kini Pemerintah Daerah Riau membentuk pula Dewan Pakar Daerah. Konon akan ada pula Dewan Riset Daerah, Penasihat Ahli, dan sebagainya. Adakah ini manifestasi dari euforia otonomi?

Gubernur Riau baru-baru ini mendeklarasikan berdirinya dewan pakar propinsi Riau. Tidak tanggung-tanggung, 28 orang pemikir Riau yang umumnya berasal dari kampus berhasil direkrutnya untuk duduk dalam Dewan Pakar ini. Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan pakar? Menurut Prof. Muchtar Achmad yang menjadi "induk hangkang" (baca: Ketua) Dewan Pakar Daerah Propinsi Riau itu, dalam sambutannya, pakar yang berasal dari bahasa Arab, artinya pikir. Awas, sedikit saja terpeleset atau diplesetkan, maka pikir akan menjadi fakir, katanya.

Pakar, masih menurut profesor kita ini, adalah kelompok orang yang sangat sadar dalam menggunakan dua telinga dan satu mulutnya. Artinya dia banyak mendengar, tetapi hemat berbicara. Bukan sebaliknya, banyak berbicara, tetapi tidak mau mendengarkan orang lain.

Adalah Prof. Dr. B.J. Habibie yang dulu mempopulerkan istilah pakar ini ketika ia membentuk Dewan Pakar di ICMI. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka, pakar berarti ahli atau spesialis. Maka, kalau dikait-kaitkan dengan uraian Prof. Muchtar Achmad, Ketua Dewan Pakar Riau itu, pakar berarti orang yang ahli menggunakan telinga dan mulutnya, ahli dalam mendengar dan ahli dalam berbicara.

Ketika acara pengukuhan kemudian diisi dengan dialog, salah seorang Anggota Kehormatan Dewan Pakar Daerah yang bermastautin (bermukim) di Jakarta, M Nur Nungkat, memberi komentar menarik. Raja karet Indonesia ini menambah panjang definisi pakar yang dikemukakan oleh Prof. Muchtar Achmad.

M Nur Nungkat mengatakan, seorang pakar tidak hanya dituntut untuk banyak mendengar dan sedikit berbicara. Para pakar juga harus mampu memberdayakan kedua telinga, kedua mata dan kedua lubang hidungnya. Mata harus awas seperti elang dan hidung harus memiliki penciuman yang tajam seperti hidung kucing. Dengan demikian tidak akan ada satu ekor tikus pun yang akan lolos. Semua peluang akan dapat ditangkap dengan cepat dan tepat.

M Nur Nungkat memang orang yang terbukti mampu memberdayakan kedua telinga, kedua mata, dan kedua lubang hidungnya dengan baik. Telinganya selalu ditinggikannya ibarat sebuah antena untuk menangkap peluang pasar, matanya selalu menukik mencermati setiap kesempatan, dan hidungnya memiliki penciuman bisnis yang tajam. Dengan kepekaan benda-benda tubuhnya itu, M Nur Nungkat belum pernah tergoyahkan dari singgasananya sebagai raja karet Indonesia. Dialah pembeli semua produksi karet-karet Indonesia untuk kemudian diekspor ke mancanegara. M Nur Nungkat juga ternyata bisa menggunakan mulutnya dengan baik, tidak hanya karena fasih berbahasa Inggris dan Francis, tetapi juga mampu mengemukakan pemikirannya secara bernas.

Ada dua hal yang menarik dari apa yang diungkapkan oleh M Nur Nungkat pada malam pengukuhan Dewan Pakar itu. Sesuatu yang terbalik dari pemahaman selama ini. Pertama, kita ternyata harus membayar mahal terhadap setiap "kenakalan" yang secara sengaja kita lakukan untuk mencuri kualitas produksi. Anggapan yang terpatri selama ini adalah, dengan kenakalan seperti itu penjual akan menikmati hasil yang lebih besar dari yang seharusnya ia terima.

Contohnya begini. Umumnya petani karet kita sudah terbiasa dengan buruk memasukkan benda apa saja ke dalam karet beku yang dihasilkan, bisa serpihan-serpihan kulit kayu, tanah, ranting-ranting, dan sebagainya hanya untuk mendapatkan timbangan yang lebih berat daripada yang sernestinya. Padahal sesungguhnya cara seperti itu membuat petani dua kali merugi, harga karetnya murah dan petani harus membayar ongkos angkut untuk bahan-bahan nonkaret tadi, sebab ongkos angkut ternyata dibebankan kepada petani, melalui harga yang murah. Jadi untuk apa menambah berat timbangan kalau harganya akan menjadi murah. Pembeli kan juga licin, tidak mau ditipu. Jangankan kalah, draw saja mereka tidak mau.

Kedua, pelabuhan laut tidak boleh dibangun banyak-banyak. Sebab kalau terlalu banyak, sang kapal akan bingung mau berlabuh di mana. Ini bukan bercanda, ini serius. Untuk apa berlabuh kalau tidak akan mendapatkan muatan barang. Penyebaran pembangunan pelabuhan laut ternyata tidak seluruhnya menguntungkan. Pengembangan pelabuhan yang tidak terencana dengan baik bisa berakibat fatal. Kapal-kapal pengangkut barang akan kehilangan muatan, atau paling tidak, kapal-kapal ini tidak akan memperoleh muatan sampai pada kapasitas yang memadai atau feasible untuk menutup ongkos operasinya, sebab muatan tersebar pada beberapa pelabuhan. Dalam hal ini, barangkali maksud M Nur Nungkat adalah untuk pelabuhan ekspor. Kalau setiap kabupaten, memiliki atau ngotot memiliki sebuah pelabuhan samudra, maka keadaan memang bisa runyam.

Pakar memang kelompok orang yang menggunakan telinga, mata, hidung, mulut, dan lain-lain anggota tubuhnya secara cerdas untuk memberi manfaat yang besar bagi orang lain dan lingkungannya sesuai dengan keahlian atau spesifikasinya.

Bagi masyarakat awam, apa pun namanya, entah dewan pakar, entah kelompok pemikir, kelompok ahli, think tank, yang penting mampu memberikan suatu perubahan yang signifikan ke arah yang lebih baik. Masyarakat berpikirnya sederhana, hari ini harus lebih baik dari kemarin ketika belum ada Dewan pakar. Kaiau hari ini sama saja dengan kemarin, ada atau tidak ada dewan pakar, atau bahkan situasinya lebih buruk, itu celaka dua belas.

Kita optimis dewan pakar ini akan mampu menggunakan telinga, mulut, mata, hidung, serta kecerdasan emosionalnya untuk memberikan sesuatu yang bermakna bagi kemaslahatan manusia. Semoga!


(31 Maret-6 April 2000)


Tulisan ini sudah di baca 157 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/66-Dewan-Pakar.html