drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 2

Ada Api Ada Asap


Oleh : drh.chaidir, MM

Tak ada asap kalau tak ada api. Ungkapan tersebut bisa merupakan peribahasa, yang maknanya kira-kira, tak kan terjadi sesuatu bila tidak ada apa-apanya. Tapi ungkapan itu bisa juga diartikan secara harfiah.

Ada asap ada api, secara harfiah tidak ada konotasinya. Adanya asap pastilah disebabkan karena adanya api. Asap yang banyak tentulah dari api yang tentunya juga besar. Atau kalau diilmiahkan sedikit supaya tidak kelihatan ketinggalan amat, gunakanlah istilah titik api. Kalau mau lebih keren lagi gunakan istilah hot Spot, seperti yang dipantau oleh satelit NOAA (National Oceanic Atmosfer Administration) itu. Jadi, semakin banyak titik api atau hot spot, tentu semakin tebal asapnya. Dan "asap" (baca: azab) pulalah bagi orang Pekanbaru dan sekitarnya.

Titik api atau hot spot, ya berarti lokasi pembakaran di mana api berkobar. Pembakaran apa? Ada beberapa pengertian yang membingungkan. Ada yang bilang, itu pembakaran hutan. Tapi dibantah oleh yang lain, itu bukan pembakaran hutan, tetapi pembakaran lahan. Lahan kok bisa terbakar. Diperjelas oleh yang lain lagi, itu pembakaran dalam proses land clearing. Lho, land clearing itu kan pembersihan lahan, yang dibakar tetap kayunya. Semakin dijelaskan, semakin tidak jelas. Asap malah menjadi semakin tebal dan telah menjadi agenda tetap setiap tahun, persis seperti agenda tetap tahunan pacu sampan jalur di Taluk Kuantan, sebuah agenda pariwisata.

Pernah dengar festival nyamuk? Orang kosmopolitan super modern yang hidup dari satu ruang berhawa dingin ke ruang berhawa dingin lainnya, dari satu gedung pencakar langit ke gedung pencakar langit lainnya, kadang suka aneh-aneh. Coba bayangkan, mereka-mereka ini ramai-ramai mendatangi suatu tempat di Amerika Latin hanya untuk suatu petualangan, sekadar mencoba bagaimana rasanya digigit nyamuk. Konyol kan? Nyamuk di sini sudah barang tentu dijamin 100 persen bebas dari nyamuk malaria dan nyamuk Aedes penyebab demam berdarah itu sehingga gigitannya tidak membahayakan, hanya sekadar menimbulkan gatal-gatal, atau paling parah, sedikit menimbulkan bengkak-bengkak.

Tapi festival nyamuk apa hubungannya dengan "ember" Ada! Asap kan sudah menjadi agenda retap tiap tahun, bagaimana kalau kita promosikan sebagai Festival Asap International? Sekali setahun orang-orang bule yang steril itu kita undang ke kota bertuah ini untuk menikmati bagaimana rasanya hidup dalam kota yang penuh asap, bagaimana rasanya jalan-jalan sore dengan menggunakan masker penutup hidung dengan mata perih. Atau pada saat kedatangan melalui udara, merasakan ketegangan karena pesawat yang mengangkut mereka harus berputar-putar terlebih dahulu menunggu landasan kelihatan baru bisa mendarat. Atau bahkan terpaksa mendarat di bandar udara kota lain karena bandar udara Sultan Syarif Qasim II tertutup asap. Heboh kan? Pasti heboh. Apalagi kalau maskernya didesain seperti masker anti senjata kimia pasukan Amerika dalam Perang Teluk itu. Bayangkanlah bila semua anak-anak sekolah menggunakan masker seperti itu. Maka Pekanbaru akan terlihat seperti kota luar angkasa, kota planet antah berantah. Sekali lagi, pasti heboh.

Pengalaman yang diperoleh wisatawan pasti mena rik sebagai bahan cerita untuk nantinya mereka tulis di negerinya.

Beberapa hari yang lalu saya diwawancarai oleh radio BBC London edisi bahasa Indonesia. BBC menanyakan segala sesuatu tentang asap. Saya memberikan jawaban standar, yang menurut hemat saya, siapa pun akan memberikan jawaban yang sama. Habis, setiap tahun kita dihadapkan dengan pertanyaan yang sama, jadi jawabannya, ya itu-itu juga. Ada orang membuka lahan untuk berkebun, harusnya tidak boleh membakar, tetapi mereka membakar juga supaya biaya land dearingnya lebih murah. Pelanggaran? lya. Ditindak? lya. Tapi "cincai-cincai". Tidak Jera? lya, heran. Sudah bentuk tim? Sudah, sudah sering. Kan proyek, begitu saja kok repot.

Asap memang telah membuat kita kehilangan muka. Atau kita tidak pernah kehilangan karena tidak punya muka. Susah mencari alasan pembenaran, apalagi asap ini paham benar makna globalisasi. Mereka tidak terikat pada batas-batas negara, borderless. Tidak terikat dengan quota. Tidak perlu pakai paspor untuk memasuki wilayah Malaysia, Singapura, Brunei, dan bahkan sampai ke Thailand. Tidak peduli, walaupun negara-negara tersebut menjerit-jerit karena sempit dan "semput".

Dalam perjalanan dari Sepang Kuala Lumpur International Airport menuju pusat kota, saya melihat gedung pencakar langit Petronas Twin Tower (gedung kembar) yang berketinggian 482 meter, terdiri dari 88 lantai, di pusat metropolitan Kuala Lumpur, samar diselimuti asap. Dalam hati saya mengatakan: pasti ini asap kiriman dari negeriku.

Pemandangan itu membawa memori saya kepada pemandangan yang hampir serupa ketika kabut juga menyelimuti gedung kembar (Twin Tower) di World Trade Center New York. Pemandangan hampir serupa, tetapi kabutnya jelas berbeda. Yang menyelimuti gedung-gedung pencakar langit di New York itu bukan asap yang berasal dari api, tetapi kabut musim gugur. Sedangkan kabut yang menyelimuti gedung Petronas, gedung tertinggi kedua di dunia setelah Sears Tower di Chicago itu, adalah asap sungguhan. "ltu jerebu (asap) yang berasal dari negara Encik", kata sopir taxi menggugah lamunan saya. Saya pun menjawab sekenanya, "tapi sekarang hot spotnya sudah padam semua, kalau tak percaya awak tanyalah ke NOAA."

Ada asap karena ada api. Api kecil jadi kawan, api besar jadi lawan. Petuah orang tua-tua, jangan bermain api nanti terbakar. Petuah itu aeaknva perlu di lengkapi, jangan bermain api nanti ada asap.



(17- 23 Maret 2000)


Tulisan ini sudah di baca 203 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/65-Ada-Api-Ada-Asap.html