drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 2

Si Pipi


Oleh : drh.chaidir, MM

Si Pipi tiba-tiba saja menjadi rebutan. "Janda kembang" ini memang sedang naik daun. Ada yang mulai mencari informasi, ada yang langsung melamar, ada yang curi-curi pandang, malu-malu tapi mau, ada yang nafsu besar tenaga kurang.

Tapi tunggu, jangan keburu penasaran dan coba-tuba mencari alamatnya di Rumbai, atau di Minas, atau di Duri, Anda akan berurusan dengan satpam atau Anda akan kecele. Sampai jontor atau sampai tua juga tidak akan ketemu. Dia ada di antara Zamrud dan Sungai Pakning, nun, di sana, di kawasan Kabupaten Siak. Si Pipi atau ce pe pe sebetulnya sama saja, itu hanya masalah panggilannya saja, tinggal mau menyebutnya dengan gaya melayu, atau gaya bule. Kalau dirulis "Blok CPP" berarti gaya melayu tentu membacanya ce pe pe. Tapi kalau ditulis "CPP Block" berarti gaya bule, maka dibaca si pipi blok. Tinggal penulisan dan penempatan kata "bloknya" saja mau di depan atau di belakang. Begitu saja kok repot (sorry, pinjam istilah Gus Dur). dari total produksinya per hari. Dan kerugian PT CPI sebenarnya tidak hanya kerugian secara finansial, tetapi yang lebih besar adalah kerugian moral. Mereka pasti punya seribu satu cara bagaimana tetap mempertahankan tingkat produksinya 700 ribu barrel per hari. Mereka kan punya Chevron dan Texaco yang siap menjual teknologinya yang tercanggih untuk menyedot minyak dari bumi Riau. Tetapi, kegagalan mereka mempertahankan Si Pipi menyangkut masalah kepercayaan.

Bagi pemerintah pusat, ini sebuah uji coba apakah kita berani memberikan kepercayaan kepada bangsa sendiri atau tidak. Daerah pula, di era otonomi ini, karena memang dimungkinkan oleh peraturan perundangan, wajar saja berkeinginan mengelola ladang minyak tersebut. Apalagi Riau yang selama ini hanya duduk manis menonton orang kenduri di halamannya sendiri. Orang-orang yang selama ini selalu menggunakan "payung nasional" untuk mengesahkan keberadaannya di ladang-ladang minyak tersebut, jangan ragu, tidak akan ada masalah dengan pembagian hasil di sini. Sebab dikelola oleh Pertamina atau oleh daerah sama saja, pusat tetap rnendapatkan bagiannya. Teknclogi kan bisa dibeli. Pertamina - CPI saja tetap mengeluarkan dana jutaan dolar untuk membeli teknologi dari Chevron dan Texaco. Artinya uangnya pindah dari kantong satu ke kantong yang lain dari orang yang sama. Aneh kan? Memang licin, selicinnya minyak!

(10-16 Maret 2000)


Tulisan ini sudah di baca 112 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/64-Si-Pipi.html