drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 2

Rapatkan Barisan


Oleh : drh.chaidir, MM

Kata ulama, "hikmah adalah barang yang tercecer dari kaum mukmin, siapa-siapa yang menemukannya berarti mereka termasuk kaum yang beruntung karena memiliki kearifan untuk melakukan introspeksi."

Telah menjadi dalil dalam kehidupan bermasyarakat yang beriman, bahwa setiap musibah selalu dipandang scbagai cobaan dan pasti ada hikmahnya. Ada rahasia Sang Pencipta di sana yang tidak diketahui oleh manusia.

Musibah bentuknya bermacam-macam, kehilangan orang terkasih, kecelakaan, kecurian, perceraian, putusnya hubungan silaturahmi, pokoknya segala peristiwa yang tidak menyenangkan dapat digolongkan sebagai musibah, tinggal besar kecilnya saja. Perpecahan, pertengkaran, perbedaan pendapat yang destruktif, disintegrasi bangsa, adalah juga musibah apalagi itu menimpa sebuah masyarakat yang berbudaya.

Kita memang tidak akan pernah tahu persis rahasia alam. Itu milik Sang Pencipta. Bukan hikmah namanya kalau kita sudah dapat memprediksi apa yang akan terjadi dari suatu pengambilan risiko. Apalagi risiko itu telah diperhitungkan. Risiko yang diperhitungkan namanya rekayasa. Namun manusia yang disebut sebagai makhluk si pemikir, Homo sapiens, patut dapat mereka-reka apa hikmah dari suatu kejadian.

Yang pertama, hal itu menyadarkan kita bahwa umat manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Kesempurnaan makhluk yang bernama manusia itu adalah karena mereka memiliki kelebihan sekaligus kekurangan pada waktu yang sama. Sifat yang demikian disebut manusiawi. Musibah yang bernama perpecahan dan pertengkaran misalnya, jangankan di tengah masyarakat yang berbilang kaum, dalam keluarga sendiri pun, antara saudara sekandung, adakalanya hal itu terjadi. Perbedaan pandangan, perbedaan sikap dan perilaku, tidak jarang sampai pada tingkat yang memalukan dan memilukan.

Manusia terlalu sempurna untuk diseragamkan apalagi dalam pemikirannya. Pakaian bisa dibuat sama, tetapi pikiran? Bukankah sudah menjadi adagium, kepala boleh sama hitam, tetapi pikiran berlainan. Dalam satu keluarga ada anak yang baik, ada anak yang nakal. Ada anak yang pintar, ada anak yang bodoh, padahal sama-sama keluar dari rahim satu itm. Itttlah yang namanya manusiawi. Kalaulah sama tinggi kayu di hutan, di mana pula angin akan lalu, kata orang tua-tua.

Hikmah yang kedua, kata orang bijak, "If there is no cloud, we never enjoy the sun". Kalaulah tidak ada awan mendung, kita tidak akan pernah tahu betapa nikmatnya sinar matahari. Kesadaran kita biasanya terlambat muncul, suasana damai tentram itu ternyata indah. Suasana yang cekcok melulu, suasana gaduh melulu, menyita banyak energi dan waktu untuk menjernihkannya. Orang yang selalu bekerja di bawah tekanan, tubuhnya akan banyak memproduksi hormon adrenalin, hormon ini akan memperlemah daya tahan tubuh, yang menyebabkan sang individu mudah sakit.

Keadaan seperti itu, kata orang kampung saya, namanya stres. Ada orang yangbilang, keadaan yang damai dan tentram, tidak kondusif dalam perkembangan demokratisasi. Sebab orang cenderung sangat toleran terhadap lingkungannya, kesadaran untuk memperjuangkan hak-hak politiknya rendah. Ini pulalah agaknya yang menjadi sifat kita orang Melayu sejak dahulu kala. Toleran itu identik dengan mengalah. Kalau dizalimi pun kita akan bilang, "biarlah". Kalau dirugikan kita akan bilang, "sabarlah". Itu memang karakter. Tapi kalau kita balik bertanya, apakah demokrasi itu harus selalu termanifestasi melalui pertengkaran atau perbedaan pendapat yang meledak-ledak? Apakah persahabatan itu selalu harus dimulai dengan perkelahian seperti yang terjadi di film-film?

Kalau semua pihak terobsesi dalam semangat memberi, bukan dalam semangat mencaplok, maka orang-orang yang datang dengan nafsu mencaplok akan segera terlihat aneh. Tapi bisa juga sebaliknya. Kalau semua orang terobsesi dalam nafsu mencaplok maka orang yang datang dengan semangat memberi justru terlihat anen. Saya teringat ucapan Jayabaya, "Iki zaman edan, yen ora edan ora komanan, nanging sabeja-bejane wong sing Mi isih beja wong sing eling lan waspada". Ini zaman gila, kalau tidak gila tidak kebagian, tetapi seuntung-untungnya orang yang lupa masih lebih untung orang-orang yang sadar dan waspada.

Hikmah yang ketiga dari mencuatnya faktor-faktor yang menimbulkan kemungkinan terjadinya perpecahan, adalah, kita perlu merapatkan barisan agar lawan tidak mudah masuk ke jantung pertahanan kita. Kini sudah saatnya. Sebab pihak lain yang disengaja atau tidak disengaja memang sudah berada "di dapur" kita. Hidup ini kan juga laksana sepak bola, kalau daerah pertahanan kita sedang diobrak-abrik oleh barisan penyerang lawan, pelatih akan selalu berteriak agar kita bermain rapat. Ruang gerak bagi lawan untuk mengolah bola harus dipersempit. Kalau penyerang lawan dibiarkan leluasa, gawang kita pasti akan kebobolan.

Kita memang tidak perlu tahu seluruhnya apa rahasia alam itu. Tetapi mengambil hikmah dari berbagai macam masalah yang kita hadapi adalah suatu bentuk kerendahan hati. Kita harus mampu belajar dari pengalaman pahit masa lalu untuk kemudian tidak terulang lagi di masa depan. Perbedaan pendapat misalnya, itu perlu, tapi janganlah hendaknya memperlemah posisi kita dan jangan bersifat destruktif.

Ibarat sapu lidi, kalau satu-satu mudah dipatahkan, tapi kalau sudah diikat menjadi sapu dia akan menjadi kokoh dan tidak akan mudah dipatahkan, bahkan akan sangatbesar manfaatnya. Tetapi manusia memang terlalu sederhana untuk diperumpamakan sebagai sebuah sapu lidi, apalagi sekarang, semua merasa benar dan semua merasa mampu membuat kebenaran. Jarang yang mau mencoba berempati dengan pihak lain. Kita sering lupa pepatah orang tua-tua, "Seberat-berat mata memandang lebih berat lagi bahu memikul".


(18-24 Februari 2000)


Tulisan ini sudah di baca 125 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/63-Rapatkan-Barisan.html