drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 2

Maju Kena Mundur Kena


Oleh : drh.chaidir, MM

Kongres Rakyat Riau II telah usai. Apa pun hasilnya, kongres ini tercatat dalam sejarah Riau sebagai kongres yang serba "ter". Termahal biayanya, terbanyak pesertanya, terlama penyelenggaraannya, dan terluas liputannya.

Siapa pun yang menjadi peserta KRRII ini tentulah telah memperoleh banyak pengalaman. Bagaimana menghadapi sebuah perbedaan pendapat, menghargai atau tidak menghargai perbedaan pendapat, bagaimana berhati panas berkepala dingin atau sebaliknya berhati dingin berkepala panas. Semua terhidang bebas demikian saja tanpa sensor. Ada yang "telanjang" karena memperlihatkan sesuatu yang tersembunyi dalam dirinya yakni budi pekerti yang boleh disebut melampau batas, ada pula yang "ditelanjangi" tanpa ampun. Seseorang yang memberikan pandangan yang berbeda, tanpa basa-basi dihujat habis. Kita ibaratnya berada dalam sebuah akuarium besar, dan kita telah mempertontonkan sebuah pertunjukan yang luar biasa. Tidak ada sesuatu yang bisa disembunyikan dalam akuarium seperti itu. Semua bebas melihat, dan mencatat karakter yang ada. Pembenaran tentu bisa dibuat, itulah manifestasi dari sebuah demokrasi. Orang bebas mengeluarkan pendapat atau tidak mengeluarkan pendapat, baik yang sudah dikemas maupun yang baru setengah jadi.

Kongres ini memang telah menyadarkan kita terhadap banyak hal. Masa 44 tahun pasca Kongres I rupanya bukanlah masa yang terhitung pendek. Perubahan sudah demikian banyak terjadi. Sebagian panitia Kongres II ini memang veteran Kongres I. Mereka sudah sepuh-sepuh, tetapi semangatnya luar biasa. Karena masih berusia empat tahun ketika KRRI diselenggarakan, saya tidak tahu bagaimana suasana batin mereka ketika Kongres I berlangsung. Andai "veteran" ini terobsesi suasana kejiwaan seperti ketika Kongres I berlangsung, maka mereka mestilah menelan pil pahit yang teramat sangat dalam KRR II ini.

Betapa tidak, cucu kemenakan mereka sudah beranak pinak, dan anak pinak dari cucu kemenakan itu pun kini telah besar-besar dan pintar-pintar, telah menjadi mahasiswa. Dalam era reformasi ini, mahasiswa itu kan
"can do no wrong"

Kongres juga memberi pelajaran kepada kita bagaimana menyelenggarakan sebuah majelis besar yang harus mengambil sebuah keputusan penting, pada hal pesertanya terdiri dari mereka-mereka yang sangat beraneka-ragam pendidikan, adat-istiadat, latar belakang, dan sebagainya. Jurang tingkat pendidikan misalnya, sangatlah besar, mulai dari yang tidak tamat sekolah dasar sampai kepada yang bergelar profesor-doktor, master, dan seterusnya. Itu belum kalau kita berbicara tentang latar belakang adat istiadat. Ada peserta yang dibesarkan dalam kungkungan adat yang ketat, yang selalu bergerak dalam koridor adat bersendi sarak, sarak bersendi kitabullah, namun ada pula peserta yang dibesarkan dalam lingkungan yang tidak beradat.

Ketika masalah ini diangkat dalam pertemuan Panitia KRR II dengan DPRD Propinsi Riau seminggu sebelum perhelatan besar itu diselenggarakan, panitia tidak menganggap perlu mencermati "jurang-jurang" itu secara khusus. Bahkan panitia juga tidak mempersiapkan design apa yang diharapkan menjadi goal dari KRR II. Padahal sebenarnya, bahwa design itu nantinya disepakati atau tidak, dalam kongres itu urusan lain. Bahkan MPR sekalipun mempersiapkan rancangan ketetapan sebelum sidang berlangsung, itulah yang digodok secara maraton oleh Panitia Ad Hoc Badan Pekerja.

Kita memang mendapatkan pelajaran yang mahal dari KRR ini. Semuanya serba dilematis, maju kena mundur kena. Presiden Gus Dur berniat baik membantu Panitia Kongres dengan mengucurkan dana Rp5OO juta. Tapi bantuan ini jadinya bermasalah. Kalau tidak dibantu, orang akan bilang, tidak ada perhatian sama sekali dari Gus Dur, sememangnyalah Gus Dur itu tidak menganggap Riau sama sekali. Jika dibantu, kita sudah sama-sama tahu reaksi peserta, bantuan ini diauggap sebagai upaya Gus Dur untuk mempengaruhi hasil kongres dan "menjinakkan" orang Riau. Muagkin akibat tersinggung karena bantuan Gus Dur maka hasil kongresnya demikian, tetapi kan juga tidak ada jaminan kalau tidak dibantu hasilnya tidak demikian.

Konon, Pertamina pun membantu dengan jumlah yang sama dengan bantuan presiden. Dan Pertamina pun maju kena mundur kena. Sebelumnya, sebagaimana kita ikuti di media massa, mereka tidak bisa membantu karena jumlahnya sangat besar sehingga kewenangan untuk mengiakan atau menidakkan tidak berada pada Pertamina, tetapi pada pemerintah. Tetapi kemudian mereka membantu juga. Bagi peserta kongres, dibantu atau tidak oleh Pertamina tidak ada bedanya. Bila Pertamina tidak membantu, maka berarti dalam pikiran Pertamina memang tidak pernah ada nama Riau. Bila dibantu, reaksi peserta kongres kita sudah sama-sama tahu. Bahkan dari bisik-bisik kawan menyebutkan, itu kan karena Pertamina takut diblokir. Unjuk rasa mahasiswa di Caltex Rumbai beberapa hari sebelum KRRII dibuka, mengingatkan mereka bahwa Riau tidak main-main.

Kongres juga memberi pelajaran yang mahal kepada kita, betapa sebuah gagasan mulia, hasilnya belum tentu demikian. Banyak pihak yang setuju diadakan kongres, banyak pula yang tidak setuju, tapi agaknya lebih banyak lagi yang diam seribu basa atau yang memang sengaja "menunggu di muara". Ketika bola salju KRR II telah menggelinding, situasinya memang maju kena mundur kena. Bila KRR II tidak jadi diselenggarakan, nanti dibilang tidak mampu, yang mencibir pasti tidak sedikit, malu kan? Namun bila jadi dilaksanakan, dikhawatirkan membuat masyarakat berkecai-kecai terpolarisasi. Dan ini pasti menjadi makanan yang empuk bagi pihak-pihak yang ingin memancing di air keruh.

Bagaimanapun, pertunjukan itu telah usai dan hasilnya kita sudah sama-sama maklum. Kita memang selalu terlambat belajar dan selalu berkata, barangkali ada hikmahnya. Biarlah waktu yang mencatat apa nanti jadinya.


(4-20 Februari 2000)


Tulisan ini sudah di baca 99 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/61-Maju-Kena-Mundur-Kena.html