drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Berhutang Pada Rakyat | Bagian : 2

Kuda Troya


Oleh : drh.chaidir, MM

Pernah dengar Kuda Troya? Kuda Troya tidak berasal dari Kroya, Banyumas, Jawa Tengah. Walaupun kedengarannya agak mirip, tidak ada sangkut-pautnya sama sekali. Kuda Troya adalah sebuah legenda yang berasal dari Semenanjung Balkan. Bukan sembarang kuda dan bukan pula sungguh-sungguh kuda, tapi sebuah kuda yang dibuat dari kayu. Kejadiannya dulu kala, pada zaman purba, kerika Yunani berperang meiawan Troya.

Legenda ini berasal dari kisah nyata Perang Troya (Trojan War). Bermula ketika Putra Mahktfta Kerajaan Troya jatuh cinta berat kepada Helen. Sayangnya, Helen adalah istri Menelaus, seorang pejabat tinggi dari kota Sparta, Yunani. Singkat cerita, entah bagaimana kejadian persisnya, Helen yang cantik jelita itu, berhasil dilarikan oleh putra mahkota ke Troya.

Petinggi-petinggi kerajaan Yunani yang dipermalukan, sudah barang tentu marah besar dan bersumpah menuntut balas sampai tetesan darah terakhir. Maka perang pun tidak terhindarkan.

Bala tentara Yunani dikerahkan untuk menyerbu Troya, tetapi mereka gagal memasuki kota. Troya dikepung selama 10 tahun. Ketika hampir putus asa karena gagal memasuki kota, tentara Yunani menemukan sebuah taktik. Mereka berpura-pura mundur menjauhi Troya, dengan meninggalkan sebuah kuda raksasa yang terbuat dari kayu di luar kota, tetapi dalam perut kuda ini telah bersembunyi beberapa serdadu Yunani. Melihat pasukan Yunani telah mundur, tanpa perasaan curiga kuda kayu tersebut diangkut oleh orang-orang Troya ke dalam kota. Inilah kekhilafan Troya.

Di malam hari yang kelam, keluarlah serdadu-serdadu Yunani yang bersembunyi di perut kuda itu. Mereka kemudian membuka gerbang kota, sehingga serdadu-serdadu Yunani yang berpura-pura mundur dalam jumlah yang besar, leluasa memasuki kota. Kota Troya menjadi lautan api dan takluk. Helen berhasil direbut kembali.

Kuda kayu ditinggalkan demikian saja oleh pasukan Yunani di Troya, tidak lagi dipakai. Kuda kayu itu memang hanya sebuah alat tipu muslihat. Bagi bangsa Yunani modern- cerita tentang kuda troya agaknya tinggal sebuah kenangan manis. Kalau ingin lebih mendalami, silakan membalik-balik buku sejarah. Sementara di belahan dunia lainnya, berabad-abad kemudian, legenda kuda troya tidak pernah dilupakan.

Di zaman peradaban manusia yang sudah sangat modern ini, tentu tidak diperlukan lagi peralatan seperti kuda troya yang dibuat oleh bangsa Yunani kuno itu. Model kuda Troya tentu sudah sangat ketinggalan zaman. Presiden Amerika Serikat Bill Clinton, tentu tidak bisa menipu Saddam Hussein dengan membuat kuda troya agar bisa menyusup masuk ke Istana 1001 malam di Bagdad. Tipu muslihat di zaman modern susah diidentifikasi. Sering kali terasa ada terkatakan tidak, karena dia sudah dirancang dengan muatan iptek yang canggih.

Kuda troya dalam tatanan konsep, sebagai suatu "kendaraan", diakui atau tidak, justru seringkali diadopsi. Istilah kuda troya banyak dipergunakan sebagai perumpamaan dalam berbagai macam situasi dan kondisi. Bahkan modus operandi kuda troya ini semakin hari semakin bervariasi dan semakin kaya improvisasi. Banyak yang dapat disebut sebagai kuda troya dalam kehidupan berpolitik, banyak pula kuda troya dalam tatanan perekonomian dan beberapa aspek kehidupan lainnya. Syarwan Hamid, ketika masih menjabat sebagai Kasospol ABRI, menggunakan istilah kuda troya untuk mengingatkan masyarakat dari kemungkinan ditungganginya partai politik tertentu oleh sisa-sisa eks PKI.

Kuda troya adalah "kendaraan" untuk membungkus maksud-maksud tertentu untuk tujuan tertentu pula, namun seringkali berkonotasi negatif. Kita punya contoh, kalau mau diumpamakan sebagai kuda troya misalnya, yakni tragedi Pulau Singkep di Riau Kepulauan. Seratus tahun lamanya pulau ini dipergunakan sebagai "kendaraan" perekonomian nasional. Timahnya ditambang (atau dikuras?) sampai habis dan seteiah timahnya habis atau tidak lagi ekonomis untuk dieksploitasi, pulau ini pun ditinggalkan demikian saja. Pulau Singkep yaag dulu jaya di era penambangan timah, kini tinggal kenangan plus lubang-lubang raksasa yang tidak berguna. Kehidupan masyarakatnya berbalik 180 derajat. Adakah tanggung jawab moral pihak yang selama satu abad mengeksploitasi timah dari pulau itu? Hanya orang Pulau Singkep yang tahu secara persis.

Kuda troya adakalanya diartikan sebagai kuda beban. Kuda beban tidak pernah tahu beban apa yang diangkutnya, ringan atau berat sama saja. Dalam dinamika kehidupan sehari-hari dewasa ini, praktik kuda troya sering dijumpai. Ada yang vulgar, ada yang setengah vulgar, dan ada pula yang dikemas dalam skenario rapi. Semakin rapi skenarionya semakin kabur siapa menjadi kuda troya, bagi siapa, dengan cara bagaimana. Atau dengan kata lain tidak lagi dapat dilihat secara hitam putih siapa menunggangi siapa.

Bank Bali adalah kuda troya, tapi ada pihak lain yang menjadi kuda troya bagi Bank Bali. Riau juga pernah disebut oleh mantan Wakil Gubernur Riau, Rivaie Rachman, sebagai kuda troya. Sayangnya Rivaie Rachman enggan menyebut siapa Menelausnya.

Minas, Rumbai, dan Duri adalah kuda troya. Komisi Pemilihan Umum juga kuda troyanya partai-partai gurem. Bahkan partai politik juga bisa menjadi kuda troya bagi kaum oporrunis. Organisasi-organisasi yang bermunculan bak jamur di musim penghujan bisa juga menjadi kuda troya. Banyak aktivis partai mencari-cari "kendaraan" baru, setelah "kendaraan" lama tidak lagi menjanjikan dan tidak lagi bisa mereka manfaatkan untuk tujuan-tujuan tertentu seperti masa-masa sebelumnya.

Dengan jaringan yang semakin rapi, canggih dan aktor intelektual yang "diselimuti" secara rapi. surat kabar juga acapkali menjadi kuda troya bagi kelompok kepentingan atau elit tertentu. Sudah menjadi rahasia umum, disadari atau tidak oleh pengasuhhya, dengan berpayung pada kebebasan pers yang merdeka, surat kabar setiap hari meniupkan terompet untuk kelompok tertentu, dalam rangka penggiringan opini.

Kuda troya pada dasarnya adalah perangkap. Kalangan yang awas akan dapat merasakan jebakan yang mengancam. Susahnya, kuda

troya di abad informasi ini, tidak lagi memiliki wujud seperti yang diangkut oleh warga Troya itu. Dia abstrak.


(27 Agustus-2 September 1999)


Tulisan ini sudah di baca 114 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Berhutang Pada Rakyat

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Berhutang-Pada-Rakyat/60-Kuda-Troya.html